
Nesya dan Nolan sudah tiba di salah satu Mall yang terdapat restoran makanan Jepang yang di maksud Nolan.
Nesya memilih duduk di dekat jendela kaca sebelah kiri. Nesya sudah memesan menu yang sama seperti yang ia beli saat kencan pertama sebelum menikah. Sekarang tanpa Aline tentunya.
"Bang No yakin mau makan itu?" tanya Nesya yang masih heran melihat suaminya.
"Ya yakin, aku terbayang dari semalam. Nggak tahu kenapa?"
"Awas nanti nggak bisa makan ikan mentah, sama wasabi," ancam Nesya.
"Bisa," balas Nolan.
Tak lama pramusaji sudah membawa nampan berisi pesanan mereka. Nesya memesan sushi, shasimi, ramen, tempura, ozu, dan tak lupa matcha. Ia juga memesan Yakitori, masakan Jepang yang mirip-mirip dengan sate kalau di negeri ini, Nesya tahu suaminya suka sekali dengan sate, antisipasi suaminya tak suka dengan masakan Jepang yang suami mau tersusun dari ikan mentah.
"Ini yang Abang pilih tadi," Nesya menyodorkan shasimi kepada suaminya.
"Udah nggak sabar mau coba Nes," Nolan langsung meraih saja dengan tangan buntelan nasi dilapisi daging ikan itu.
"Abang!" Nesya menepis tangan Nolan. "Pakai sumpit," Nesya menyumpit buntelan nasi itu mencelupkannya pada wasabi dan menyodorkan ke mulut suaminya.
Nolan dengan raut wajah aneh, berusaha menelan potongan shasimi dari Nesya.
"Enak?" tanya Nesya ikut geli melihat wajah suaminya yang tak biasa makan makanan mentah.
Nolan menggeleng dan tak akan memakannya lagi. "Tapi masih mau makan yang lain."
"Coba yang ini," Nesya memberi daging untuk menetralisir ikan mentah yang dikunyah suaminya.
"Rasanya masih kayak ban," jawab Nolan usai disuapi Nesya.
Nesya tertawa kencang. "Tapi udah nggak penasaran lagi?" tanya Nesya.
"Nggak! Ya udah mau ramen aja!" Nolan meraih mangkok berisi mie itu.
Nesya hanya bisa geleng-geleng, tumben-tumbenan suaminya pengen masakan Jepang. Kayak ngidam saja!
ngidam? Apa jangan-jangan? tapi belum lah, mungkin hanya kebetulan.
"Kalau biasa makan rendang atau sate, nggak usah di paksa makan shasimi sayangku," sindir Nesya.
"Ya, iya namanya juga kepengin sayang!" balas Nesya.
Keduanya pun menikmati makanan yang ada di depan mata. Nesya paling banyak menghabiskan makanan karena sudah terbiasa. Sedangkan Nolan memilih memakan Ramen yang hanya bisa ia makan sampai habis.
"Ya udah kita ke bengkel!" ucap Nolan usai menyelesaikan membayar makanannya.
"Let's go," jawab Nesya berdiri meraih tasnya.
Keduanya pergi meninggalkan resto usai menyelesaikan makan siangnya dengan menu yang dipilih suaminya.
...****************...
Keduanya kini diperjalanan menuju bengkel, Nesya memang selalu menunggu suaminya di bengkel hingga petang, kalau dirinya pulang siang dari rumah sakit.
Ditengah perjalanan, Nolan memijat keningnya yang mendadak berputar. Pandangan jadi sedikit berputar, perutnya terasa bergejolak ingin mengeluarkan sesuatu. Ia segera menepikan mobil mendadak dan berlari keluar.
"Kenapa Bang?" Nesya panik suaminya berhenti mendadak.
Nolan mengeluarkan semua isi perutnya di rerumputan pinggir jalan. Nesya turun dari mobil karena kuatir melihat suaminya yang terbatuk-batuk hingga serak.
"Sok-sokan sih makan makanan Jepang, perut Abang nggak cocok nih," Nesya memijat bahu suaminya.
"Kayaknya iya, badan aku lemes banget Nes." Nolan masih membungkuk mencoba mengumpulkan kekuatan.
"Ya udah kita pulang aja ya, kita istirahat di rumah," seru Nesya masih megusap-usap punggung suaminya.
"Jangan Sayang, kita ke bengkel dulu, ada yang aku kerjakan disana."
"Sakit gini masih mikirin kerja, kita pulang ya."
"Nggak apa-apa Nes, sebentar aja. Istirahat di bengkel juga nggak apa-apa, disana ada kamar."
"Janji sebentar aja ya," seru Nesya.
"Iya sayang." Nolan pun berdiri. Nesya membantu memapah suaminya meskipun berat menuju mobil. Nolan sekarang duduk di bangku depan kursi penumpang, sedangkan Nesya sekarang yang mengambil alih kemudi.
Keduanya kini bergerak berjalan menuju bengkel.
Tak selang beberapa lama dari mereka berhenti, mobil sudah tiba di halaman bengkel. Nesya memanggil beberapa pekerja bengkel untuk membantu memapah tubuh jangkung suaminya ke ruang kantor di lantai 3.
"Coba buka mulut," ucap Nesya usai berada di sofa yang ada di ruang kantor.
Nolan menurut membuka mulutnya. Nesya menyalakan center dan melihat kondisi rongga mulut suaminya.
"Tapi ini udah lebih baik kok Nes. Apa perlu minum obat? Aku nggak pusing lagi," jawab Nolan.
"Tetap harus di netralisir, tapi lebih baik pakai yang alami dulu. Nanti aku suruh Joni beli air kelapa muda murni sama susu beruang," seru Nesya.
"Ya Nes, aku nurut aja sama kamu." Nolan membaringkan tubuhnya di sofa.
"Sini, bobo di paha aku," Nesya menepuk pahanya, ia duduk di dekat kepala Nolan.
Nolan dengan cepat bangkit dan berganti ke tempat yang lebih nyaman. Nesya memijat dan sesekali mengelus kepala suaminya yang ada di pangkuannya.
"Nes, kalau paha kamu kram bilang, aku nggak mau kamu juga sakit gara-gara Suamimu, harusnya aku yang jaga kamu, kenapa sekarang jadi sebaiknya," ucap Nolan.
"Nggak apa-apa Bang cuma begini aja, itulah kenapa kita berumahtangga saling melengkapi satu sama lain yang membutuhkan, jangan mau enaknya aja, ada pahitnya di tinggal," seru Nesya jadi lebih bijak.
Nolan hanya terkekeh. Dering ponsel Nolan berbunyi, Nesya dengan cepat mengambil ponsel suaminya di meja.
"Papa," seru Nesya membaca layar ponsel.
"Pasti nanyakan untuk makan malam, Papa pasti maksa."
"Aku angkat ya, biar aku yang bilang ke papa, bagaimana keadaan Bang No,"
"Nanti kamu yang di marahin Papa Nes, biar aku aja yang angkat." Nolan mencoba bangun, kepalanya masih terasa sedikit pusing. Nolan menyalahkan speaker ponsel.
"Ya Pa,"
"No, kamu dimana?"
"Masih di bengkel Pa,"
"Kamu kenapa belum pulang? Senja nanti kita pergi menemui Pak Raharja. Beliau menanyakan dan memastikan terus kalian harus hadir." Suara keras dari layar ponsel.
"Tapi Pa, sepertinnya Bang Nolan nggak bisa ikut, dia masih belum terlalu sehat." sahut Nesya.
"Nesya! Kenapa lagi ini, pasti kamu yang cari - cari alasan supaya nggak pergi dan nggak Papa ajak kerjasama!"
Nesya langsung menciut, selalu saja dia tidak ada benarnya di mata papa mertua.
"Pa! Nesya berkata benar Pa. Aku sakit mendadak, sekarang untuk bangun aja aku masih sempoyongan."
"Pasti Nesya udah pengaruhi kamu supaya nggak ikut-ikutan bisnis Papa."
"Pa, nggak Pa. Nesya berkata benar, aku akan usahakan datang kalau memang sudah sehat."
"Pa, sebelumnya Nesya minta maaf, Kalau kondisi bang No masih seperti ini. Nesya nggak bisa paksa!" sahut Nesya memberanikan diri
"Nesya! Kamu kan dokter! buat suami kamu sembuh secepatnya! atau kamu bahagia lihat papamu di tertawa kolega bisnis karena mengikari janji!"
"Pa! Aku mau istirahat! Nanti kita kabari Papa lagi!" Nolan langsung mematikan ponsel.
"Bang No kok di matikan, nanti papa marah," ucap Nesya.
"Kalau kamu ikuti Papa, dia akan terus bicara memaksa kita sayang, sekarang mending kita istirahat kalau memang kondisiku udah pulih Kita pergi, kalau nggak ya, kita nggak akan pergi."
Nesya pun menurut memberi bantal pada suaminya, ia ikut merebahkan diri di samping Nolan sambil mengelus kepala suaminya yang dusel-dusel manja di keteknya.
"Nanti Papa malah makin marah sama aku Bang," ucap Nesya.
"Papa memang begitu, nggak usah di pikiran. Sekarang kita tidur!" Nolan mencium pipi Nesya.
Keduanya pun memejamkan mata menikmati siang ini dan memikirkan BNN masalah makan malam nanti.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC,........
Kalian mau visual Pak Hendra nggak? 😁😁😁