
Menempuh perjalanan tiga puluh menit. Mobil Nolan berserta rombongan keluarganya sudah tiba di tempat acara. Suasana tegang kembali menghinggapi Nolan. Ia di sambut beberapa orang dan langsung mengarahkan ke ballroom hotel yang di gunakan untuk akad nikah.
Ballroom yang digunakan untuk akad nikah berada di sebelah ballroom utama yang akan di jadikan tempat acara resepsi nanti malam.
Dalam ruangan yang memuat dua ratusan orang ini dihiasi bunga mawar yang dominan berwarna biru. Kursi-kursi yang di jajar rapi dengan dua sisi yang menyisakan ditengah-tengan jalan setapak untuk dilalui menuju ke meja ijab qobul.
Nolan memasuki ruangan yang sudah dipenuhi dua ratusan tamu undangan yang hadir di acara akad ini. Tamu undangan berdiri menyambut Nolan yang sudah hadir ditengah mereka. MC mulai membuka acara menyambut kedatangan keluarga mempelai pria. Nolan duduk terlebih dahulu bersama jejeran kursi keluarganya mendengarkan serangkaian acara ijab qobul.
Ayat-ayah suci mulai di kumandangkan sebelum prosesi ijab qobul.
MC memberitahukan bahwa mempelai wanita sudah tiba ditempat acara dan akan memasuki ruangan. Mengingat waktu sudah menunjukkan pukul 09.45 acara ijab qobul akan segera di mulai.
Nesya yang nampak anggun dengan balutan kebaya putih memasuki ruangan akad nikah dengan anggun. Ia ditemani bunda dan tantenya melangkah ke tempat yang akan menjadi prosesi suci pernikahannya. Nolan memandang Nesya tanpa kedip, wanita yang beberapa menit jadi Istrinya itu telihat sangat cantik.
Nesya duduk di barisan keluarganya berlawanan dengan Nolan. Ia mencuri pandang calon suaminya yang mengenakan jas kancing berwarna putih dengan peci warna senada. Nesya jadi menunduk malu-malu karena ia tak salah pilih calon suaminya terlihat sangat tampan.
Setelah melewati beberapa acara, seperti nasehati Pernikahan dan bacaan ayat suci Alquran yang menyejukkan hati. Penghulu menempati kursi terdepan sesuai arahan MC. Penghulu berdampingan dengan Pak Doni ditambah dua orang saksi dari masing-masing pengantin. Suasana ruangan menjadi hening tanpa suara. Hanya suara penghulu yang meminta mempelai pria duduk di hadapannya untuk memulai prosesi ijab qobul.
Nolan mencium tangan mama Mitha berlanjut mencium tangan Pak Hendrawan meminta restu. Davin memeluk adiknya memberi semangat karena pernah merasakan ketegangan yang Nolan rasakan sekarang.
Nolan membaca doa untuk meredam ketegangannya. Jantung berdetak sangat cepat tak beraturan saat berjalan menuju meja akad. Bahkan ia tidak berani menatap Nesya di ujung sana.
"Nolan Putra Adiguna, calon istrinya bernama Nesya Nabilla Bagaskoro. Benar!" tanya penghulu ketika Nolan sudah duduk di hadapan penghulu.
"Benar Pak," jawab Nolan gugup.
"Pernikahan ini direstui kedua keluarga tanpa ada paksaan dari pihak manapun." Tanya penghulu lagi. Nolan mengangguk.
"Kita mulai acaranya, niatkan karena Allah. Saya Pak Hasan, ketua KUA sebagai hakim, akan menjadi wali atas Ananda Nesya." Kata Pak Hasan.
"Betul Pak," jawab Pak Doni.
"Silahkan di mulai ijabnya jabat tangan calon suami pengantin perempuan."
Tangan Pak Hasan sang penghulu sudah menjabat tangan Nolan. Laki-laki tampan ini nampak sangat gugup dengan tatapan mata para tamu. Nesya semakin mengengam erat tangan Bunda Serena karena merasakan juga atmosfer gugup dan detak jantungnya yang tak karuan.
"Bismillahirrahmanirrahim, Ananda Nolan Putra Adiguna bin Hendrawan Adiguna. Saya nikahkan dan kawinkan Engkau dengan Nesya Nabilla Bagaskoro binti Doni Bagaskoro dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang sejumlah sepuluh juta seratus dua puluh dua ribu seratus dua puluh tiga rupiah dibayar tunai." Pak Hasan menghentakkan tangan Nolan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Nesya Nabila Bagaskoro binti Doni Bagaskoro dengan mas kawin tersebut Tunai!" Dengan satu tarikan nafas. Nolan melafalkan janji suci pernikahan yang berat.
"Bagaimana saksi, sah!"
"Sah!" kata salah satu saksi.
"Sah!" jawab salah satu saks lagi.
Nesya bernafas lega memeluk sang Bunda. Kedua menintihkan butiran air mata kebahagiaan, resmilah sekarang ia menjadi seorang istri. Ia akan menjadi tanggung jawab suaminya sekarang.
Penghulu membacakan doa pernikahan, ikuti tamu mengangkat tangan mengamini untuk kebaikan kedua mempelai.
"Bawa pengantin perempuannya di samping suaminya," ucap penghulu.
Nesya dengan malu-malu maju ke meja depan dengan di dampingi bunda dan tantenya. Ia hanya menunduk malu ketika berada di samping suaminya sekarang.
"Ini suamimu sekarang, salaman dulu bentuk takdim pada suaminya," kata penghulu.
Nesya melihat suaminya yang diam tanpa kata, bahkan saat mau meraih tangannya saja Nolan masih belum bergeming.
"No, Nesyanya mau Salim tuh," sorak Adrian melihat Nolan yang masih bengong.
"Assalamu'alaikum suamiku," ucap Nesya lirih ketika sudah mendongakan kepala.
Nolan menepis air mata bahagia dari ujung matanya.
"Seperti mimpi sekarang aku sudah jadi suami," balas Nolan lirih di telinga Nesya.
Nesya dan Nolan menandatangani dokumen negara dan buku nikah. Dan membaca siqat taklik yang ada dalam buku nikah yang ditanda tanganinya.
Selanjutnya acara penyerahan mahar dari suami ke Istri. Mahar seperangkat alat sholat yang di sudah di hias seperti miniatur masjid. Setelah di foto dengan mahar itu, sekarang mahar yang kedua berupa uang tunai sebesar Rp. 10.122.123. Angka itu di pilih Nesya sebagai mahar pernikahannya karena 10 dan 12 umur waktu awal mereka bertemu, sedangkan 21 dan 23 umur mereka sekarang bertemu lagi menjadi satu. Nesya meletakan pigura yang berisi uang tersebut setelah sesi foto.
"Cium No, cium udah sah ...," sorak Davin yang ikut heboh melihat adiknya yang malu-malu.
Nolan melihat ke arah penghulu dan Pak Doni meminta izin. Kedua pria matang itu mengangguk ikut bahagia.
Nolan meraih kepala Nesya dan mendaratkan kecupan di kening Nesya dengan ketulusan hatinya. Nesya memejamkan matanya merasakan kecupan yang penuh cinta di kening dari suaminya. Tapi jujur, Nesya juga sudah siap lahir batin kalau dicium di mana saja. Eh ....
Tamu undangan yang merupakan keluarga dan teman dekat itu, mulai bersiul-siul mengoda kedua pengantin ini.
Acara selanjutnya penyematan cincin kawin. Nolan mengambil cincin berlian dari kotak untuk di selipkan ke jari Nesya.
"No, lama banget masukin gitu aja, kalau sempit, perhatikan baik-baik lubangnya!" Pernyataan ambigu dari Adrian mengundang gelak tawa yang ada dalam ruangan.
Andai saja ia tidak anggun dan tampil kemayu, Nesya ingin sekali melempar sepatu ke arah kakaknya yang terus menggodanya.
Setelah cincin bertahtakan berlian, terpasang di jari manis Nesya yang terhias henna. Giliran Nesya yang memasang cincin berbahan titanium ke jari suaminya.
"Tahan Mbak, tangannya dekatkan lagi, oke cantik!" fotografer yang begitu semangat memberi instruksi.
"Kamu cantik banget, aku sampai grogi!" bisik Nolan di telinga Nesya di tengah sesi foto pertukaran cincin dan buku Nikah.
Nesya rasanya ingin sekali mengigit Nolan karena gemas, suaminya mendadak kalem. Tapi tunggu nanti kalau sudah berdua.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC .......
eh cieh eh cieh.......... ya jomblo Minggir 😁
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘 loph u dear semua, asli Ei ngetiknya sambil senyum-senyum sendiri 😁