Dear Nolan

Dear Nolan
Surat Itu



Setalah berbaikan beberapa waktu lalu dengan Nolan, Nesya bisa menghemat pemakaian bensin. Bagaimana tidak Nolan selalu mengantarkan jemputnya ke rumah sakit. Entah itu shift siang ataupun shift malam. Nolan tidak membiarkan Nesya pulang dengan siapapun kecuali taksi online jika memang kondisi mendesak. Bahagia banget sekarang hidup Nesya.


"Kita makan dulu ya," pinta Nesya saat perjalanan pulang dari rumah sakit.


"Kamu mau makan apa?" tanya Nolan.


"Kalau seafood aja gimana, cari resto yang dekat laut, lagi pengen makan pinggir laut."


"Boleh, tapi jangan lama-lama sudah malam nggak enak sama Om Doni."


"Siap Bos," balas Nesya semangat.


Tak lama berselang keduanya sudah berada di resto seafood dekat laut di kota ini. Tepatnya resto pilihan Nesya. Nesya langsung memilih tempat duduk di dekat dermaga, di tempatnya sekarang ia bisa sambil menikmati deburan angin laut yang tidak terlalu kencang malam ini.


Pelayanan resto menyajikan ikan bakar yang dipesan oleh Nesya. Nesya dengan semangat mengambil makanannya dan langsung menyantapnya.


"Sayang," panggil Nolan pelan.


Nesya hampir tersedak sirip ikan mendengar panggilan Nolan. Nesya mengesekan telinganya di balik kerudung memastikan pendengaran masih normal.


"Tadi panggil apa? Ulangi bisa nggak, pendengaranku kayaknya agak sliwer." ucap Nesya.


"Nggak bisa, sekarang kamu udah respon kan," balas Nolan. Nesya langsung memayunkan bibirnya.


"Oh ya Nes, mungkin dua tiga minggu lagi aku bisa ngajukan sidang skripsi."


"Serius! Alhamdulillah, gitu dong!" jawab Nesya.


"Aku pengen cepat halalin kamu Nes," ucap Nolan.


Nesya mendadak tersenyum malu-malu, wajahnya merona berseri-seri.


"Bang No, boleh tanya nggak?" tanya Nesya.


"Apa?" jawab Nolan.


Nesya ragu mengatakan pada Nolan keinginannya. Nesya sangat tahu, Nolan menyukai anak-anak. Apalagi anak kandungnya sendiri, bagaimana kalau dia tidak setuju dengan keinginannya.


"Nanti setelah nikah mau langsung punya anak atau tunda dulu. Ya, nikmati pacaran setelah menikah gitu?" Nesya mencoba menanyakan maksudnya.


"Kalau aku pengennya cepat punya anak, tapi aku kembalikan lagi ke pasangan aku. Kalau sudah berdua, aku nggak bisa ambil keputusan sendiri."


"Misal aku pengen nunda dulu untuk punya anak gimana?"


Nolan menghentikan aktifitas makannya, matanya menatap tajam ke arah Nesya.


Serem amat Bro lihatnya, kayak aku nggak mau punya anak dari dia aja. Aku cuma mau tanya.


"Bukan gimana-gimana, aku mau nuntaskan kuliah aku. Aku hanya nggak mau saat-saat kehamilan terganggu dengan masalah studi. Aku ingin saat hamil menikmati kehamilan dan jadi calom ibu seutuhnya," terang Nesya.


Nolan kembali berwajah kalem mendengar penuturan Nesya.


"Ya, kita bisa bicarakan itu nanti, sekarang aku juga mau fokus kejar sidang terus nemui orang tua kamu!"


"Udah pengen banget ya Bang cepat-cepat halal." Nesya mengoda kekasihnya.


"Apa sih Nesya, kamu nggak mau?" gertak Nolan.


"Idih, becanda Sayang. Gitu aja marah." Nesya lagi-lagi memasang wajah sok imut.


"Cepetan makan, setelah itu kita pulang," kata Nolan kaku seperti biasanya.


"Iya, iya ini juga lagi misahin duri ikan," seru Nesya sibuk dengan piring.


"Pisahin punyaku juga." Nolan menyodorkan piring berisi ikan bakar besar pada Nesya.


"Tumben manja!" Nesya meraih piring Nolan dan melakukan hal dengan yang di lakukan tadi.


Nolan begitu menikmati setiap hal-hal kecil yang dilakukan bersama Nesya. Nolan cukup sadar diri bukan pria yang suka bersikap romantis dengan pasangan. Ia bersyukur Nesya perlahan bisa memahami dirinya.


...****************...


"Langsung tidur ya," seru Nolan ketika mobilnya sudah berada di depan halaman rumah Nesya.


"Ya. Bang No juga, jangan lupa waktu kalau sama kekasih kedua."


Nolan hanya melemparkan senyum. Nolan mengerti yang di maksud Nesya adalah mobil hasil modifikasi kesayangan.


Nesya melambaikan tangan saat kaca mobil masih terbuka. Hingga lama-lama menghilang dari pandangannya.


Nesya masuk ke dalam rumahnya. Melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pantaslah rumah sepi, mungkin juga ayah dan Bundanya sudah tertidur sekarang.


Sebelum masuk ke dalam kamarnya. Nesya mendapati ruangan kerja ayahnya yang masih terbuka. Karena tidak biasa terbuka, Nesya menghampiri hendak menutup. Berdiri di ambang pintu, Nesya jadi penasaran ingin masuk ruang kerja ayahnya yang lama tak dia masuki. Siapa tahu dia menemukan bacaan bagus. Kebetulan ayahnya seorang politisi dan pengusaha yang suka membaca.


Nesya menuju rak-rak yang mirip perpustakaan mini di ruang kerja ayahnya. Ia mulai memilah-milah buku bacaan yang menarik. Ia menemukan buka yang menarik berjudul 'Sukses mengelola keuangan di usia muda'.


"Boleh juga nih," guman Nesya. Ia meletakan di atas meja. Ia kembali lagi ke barisan rak buku mencari buku lain.


Di sela memilah-milah buku yang terjajar dengan rapi. Nesya melihat di sisi kiri rak, ada salah satu laci lemari yang terbuka. Sepertinya ada orang yang lupa menutup kembali laci itu. Pasti ayahnya atau bunda yang lupa menutup lagi setelah mengambil berkas. Nesya mendekati laci itu akan menutup kembali. Tapi jarinya tertahan melihat seperti ada surat dengan kop rumah sakit yang sudah usang.


Ia pun kepo dengan surat itu, Nesya mengambil surat itu dan membacanya dari bagian atas surat. Sebagai orang medis, tentu Nesya tahu itu adalah surat keterangan lahir meskipun nampak tulisan dalam surat tersebut mengunakan ketikan versi jadul. Ia semakin penasaran, membaca siapa nama dalam surat itu adalah bundanya, hal itu membuatnya terus melanjutkan membaca.


"Jadi bunda pernah melahirkan di usia sembilan belas tahun," guman Nesya sambil terus membaca. "Bayi perempuan pukul satu nol tiga puluh. Ya ampun tanggal lahirnya seperti tanggal lahirku. Dengan nama Nesya Nabilla."


Nesya langsung membuang kertas itu spontan. Seolah ada belati yang tiba-tiba menusuk jantungnya. Ia meraih lagi kertasnya, mencoba membaca ulang berharap matanya yang salah membaca. Berulang kali Nesya membaca, hasilnya pun tetap sama.


Nesya meletakkan kembali kertas itu di dalam laci. Ia keluar dari ruangan kerja ayahnya karena Nesya merasa sesak di dalam sana. Ia berlari menuju kamarnya, mengunci pintu dan masih berdiri di belakangnya. Tulangnya terasa lemah sekarang, ia tak bisa berpikir jernih. Ia mengingat kembali apa yang baru ia baca.


Apa benar aku anak kandung Bunda! Apa ini yang di maksud kak Adrian bunda waktu itu! Jika memang ya itu benar! Lalu kenapa dia meninggalkan aku dipanti asuhan hingga sepuluh tahun! apakah ada ibu seperti itu yang tidak menginginkan anaknya sendiri! pantaskah dia disebut sebagai seorang Ibu yang membuang anaknya sendiri! Apa dengan sekarang menjadikan aku seperti ini bisa menebus semua kesalahannya.


Dada Nesya menjadi sangat sesak karena menahan air matanya hingga sesegukan, pipinya pun kini sudah basah dengan air mata yang tak bisa ia bedung lagi.


Nesya tidak bisa membayangkan. Kenapa bundanya sekejam itu! Dirinya saja rela tidak ingin punya anak dulu demi ketenangan kehamilannya, sedangkan dirinya adalah anak yang di buang ibunya.


Nesya terus memegang dadanya yang sesak. Ia akan lebih terluka jika memang semua ini benar adanya. Nesya sangat rapuh sekarang, ia bahkan tidak memperdulikan dering ponsel yang terus berbunyi.


Ia bahkan tidak ingin melihat wajah Bundanya untuk saat ini. Nesya berdiri dan meraih kunci mobilnya. Meskipun malam sudah larut, ia memutuskan untuk pergi sementara waktu. Ia ingin menjauh sementara waktu sebelum mendapatkan semua penjelasan dari bundanya.


.


.


.


.


.


.


TBC...


Ei cambek...Nanti Ei lanjut ya.. bab2 berikutnya siapkan tisu, lap atau kenebo 🤧 kayak Ei