
Akhirnya ketiganya mulai saling mengobrol. Bu Tari juga nampak lebih baik setelah kedatangan Nesya. Tak lama kumandang adzan sholat Ashar terdengar. Nesya dan Nolan pamit pada Bu Tari.
Keduanya, menjalankan kewajiban. Nesya merapikan dulu dandanannya sebelum keluar Masjid. Dilihatnya Nolan seperti menunggu seseorang.
"Nesya!" sapa Bang Nolan.
Nolan Langsung menghampiri Nesya, sepertinya Nesya harus sedikit jual mahal kali ini untuk memastikan sejauh mana tingkat kepedulian Bang Nolan padanya.
"Kamu mau pulang atau balik lagi ke bengkel," tanya Bang Nolan.
"Sepertinya nggak keduanya, Neysa langsung ke rumah sakit, malam ada jadwal jaga," balas Nesya.
"Oh ya udah," jawab Nolan. Kemudian ia pergi meninggalkan Nesya.
Jedar Neysa tertunduk lemas. Jawabannya begitu aja, Bang No nggak ada inisiatif antar gitu, aku kan nggak bawa kendaraan .
"Nesya, kenapa kamu masih diam disini." Nolan menghampiri Nesya lagi yang masih diam di tempat.
Nesya mendongak ke arah sumber suara yang kembali.
"Ayo, aku antar kamu. Itu juga kalau kamu mau," ujar Nolan.
Nesya kembali berbinar. Tapi kali ini Nesya mau lihat sekeras apa Bang Nolan berusaha mengajaknya.
"Ehm, gimana ya?" jawab Nesya.
Gimana kalo Bang No nggak peduli. Aku terlalu jual mahal nggak sih.
"Ya udah, aku pulang dulu kalau kamu nggak mau." jawab Nolan.
Nesya langsung berjalan melenggang melewati Nolan. Nesya berbalik ke arah Nolan yang masih diam.
"Ya udah Bang No, ayo antar Nesya itung-itung hemat ongkos," ucap Nesya sombong.
Nolan ingin tertawa dalam hati, lucu sekali Nesya ini. Keduanya sudah di dalam mobil. Nesya hanya bisa menahan rasa senangnya ketika di dalam mobil. Nolan melajukan kendaraannya menyusuri jalanan menuju rumah sakit yang dimaksud Nesya.
"Maaf jadi ngerepotin," Nesya membuka pembicaraan.
"Nggak juga, kita kan searah," jawab Nolan.
"Iya ya!" balas Nesya.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Nolan.
Cieh mulai perhatian. Nesya.
"Kalau ship sore begini Nesya pulang jam dua belas kadang jam satu," tutur Nesya.
"Kamu nyetir sendiri?" tanya Nolan kaget.
"Iya," balas Nesya.
Ada yang mulai kuatir.
"Pernah sih, palingan Ban kempes aja."
"Kamu tulis nomor kamu, kalau ada apa-apa sama mobil kamu malam-malam telpon aja aku." Nolan menyerahkan ponselnya pada Nesya.
Nesya berbunga-bunga lagi kali ini. Ia langsung dengan sigap menulis nomornya ke ponsel Nolan dan menghubungi nomornya balik. Nesya menyerahkan ponsel pada Nolan.
"Nanti kalau ada apa-apa Nesya telepon ya," ucap Nesya.
"Ya, nanti biar aku suruh montir aku datang. Sebagian ada yang tinggal di bengkel, mereka stay sampai malam," ujar Nolan.
Nesya memandang kaget ke arah Nolan. Nesya rasanya gemas. Seperti habis di bawa terbang tinggi ke langit dan langsung di tenggelamkan ke dasar laut.
"Nesya kira Bang No yang datang nolongin Nesya, ternyata otak bisnis juga ya." Nesya cemberut kepada Nolan.
Nolan menyunggingkan bibirnya kali ini, "Kan kasih solusi."
Nolan juga menahan melihat wajah Nesya. Mobil kini sudah berada di lobby rumah sakit.
"Udah sampai?" kata Nolan berhenti sambil manarik tuas transmisi.
"Makasih ya Bang No," Nesya bersiap turun dari mobil. Nolan mengangguk.
Ia merapikan bajunya sejenak dan menoleh ke arah Nolan, ia menunggu Nolan membuka kaca mobil dan Nesya berdadah-dadah manja. Tapi hal itu tidak terwujud karena mobil Nolan sudah melesat seperti sopir angkot yang menurunkan penumpang setelah di beri ongkos.
Sabar Nesya ini baru awal. lagi-lagi Nesua menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
**Next.....
Gimana gimana Nesya dearπππ
Tinggalkan Jejak like komen vote loph u πππ**