
Setelah keluar dari lobby rumah sakit, entah kenapa bibir Nolan tak berhenti ingin tersenyum. Nesya, dia lucu, unik, dan menyenangkan. Nolan merasa seperti berbicara dengan Abel saat bersama Nesya.
Tanpa terasa mobilnya sudah memasuki halaman rumahnya. Ia segera bergegas turun dengan ringan malam ini.
"No, kamu sudah pulang?" tanya Bu Mitha.
Nolan mencium punggung tangan mama tercinta.
"No, mama punya kabar bahagia buat kamu," ujar Bu Mitha dengan senyum semeringah.
"Kabar apa, Mama senang banget," balas Nolan.
"Sebentar lagi mama akan punya cucu dan kamu akan jadi paman!"
"Mama serius? Abel hamil." Bibir Nolan refleks tersenyum semeringah. Mama Mitha mengangguk.
"Alhamdulillah, Aku senang banget dengernya Ma!"
"Ya No, besok Mama berangkat ke ibukota nemani Abel."
"Salam kangen buat mereka Ma, kalau ada waktu, kapan-kapan Nolan berkunjung kesana." Bu mitha menepuk lengan Nolan mengiyakan.
"Nolan mau ke kamar dulu Ma, istrirahat."
"Ya No," balas Bu Mitha.
Nolan masuk ke dalam kamarnya, merebahkan tubuhnya. Hari ini dirinya mendapat banyak sekali kabar baik. Ia meraih ponselnya dan ingin menghubungi Abel untuk memberi ucapan selamat. Lebih baik besok pagi saja sekarang pasti Bang Davin bersama Abel dan lagi senang-senangnya akan jadi ayah. Nolan membatalkan niatnya yang ia rasa akan merusak kebahagiaan kakaknya.
Tapi matanya langsung terbelalak melihat nama kontak baru di ponselnya.
Beautiful eyes
Seumur-umur, Nolan tidak pernah menulis nama kontak seseorang selebay itu. Paling ia pakai nama depan kalau tidak nama panggilan. Apa ini Nesya? Nolan berpikir mata Nesya biasa-biasa saja. Lebih indah mata Abel. Nolan menggelengkan lagi kepala kenapa hanya Abel wanita yang menjadi patokannya.
Nolan pun menekankan tombol calling, memastikan siapa nomor kontak ini sebelum ia ganti namanya menjadi lebih enak di baca.
Belum ada jawaban dari nomor tersebut meskipun Nolan sudah menelepon dua kali. Kenapa mendadak jadi penasaran. Nolan pun mengirim pesan.
Nolan
Ini Nesya?
Nolan melirik lagi ke ponselnya, bahkan centang pada pesan belum berubah jadi biru. Nesya pasti sibuk, dia dokter jaga di UGD. Apalagi di magang pasti ada waktu nanti dia bisa pegang HP. Selang satu jam kemudian terdengar nada pesan masuk. Nolan dengan sigap membaca pesan masuk yang sejak tadi diceknya tiap menit.
Beautiful Eyes
Ya Bang No ini Nesyaπ nama kontaknya Aneh yaπ ganti aja sesuai ekspektasi Bang No asal jangan Nasrul atau Nasron kadang orang salah sebut nama Nesyaπ
Nolan tertawa sejenak.
Nolan
Ok
Sementara disisi tempat yang berbeda dan waktu yang sama. Nesya yang menjalani waktu istirahat harap-harap cemas menunggu balasan Nolan. Ia sampai memukul-mukul kakinya di lantai sangking merasa kegirangan. Tangannya mengepal memukul meja.
Bunyi pesan Wa masuk, dengan kilat Nesya meraih Hpnya. Dengan nama kotak yang khusus Nolan yang dibuatnya sendiri.
Sosor-able lipπ
Ok
Jleb. Nesya mendadak lemah. Bisa nggak sih Bang Nolan Basa-basi dikit. Tanya udah makan atau apa gitu yang membuatnya senang. Apa bang No sama sekali nggak punya rasa apa gitu? kita kan senasib alias jomblo strong, pikir Nesya. Nesya meraih ponselnya saatnya tes kepekaan.
Nesya
Oke lah Bang No kalo gitu, aku mau periksa pasien dulu. dia Ganteng π€
Tak lama secepat kilat pesan masuk ke ponselnya.
Sosor-able lip π
Nggak ada dokter lain
Nesya tertawa kali ini. Cieh lumayan lah ada yang ketar ketir. Nesya tak mau membalas lagi menunggu Bang Nolan membalas lagi apakah dia penasaran. Sepuluh menit berlalu, waktu istrirahatnya juga sebentar lagi habis. Tapi ponselnya tak juga berbunyi lagi.
Ponsel Nesya berbunyi, dengan secepat jet Nesya meraih ponselnya. Nesya mengigit bibir bawahnya saat pesannya terbuka.
Sosor-able lip π
Pulang jam berapa?
Neysa tertawa renyah usai membaca pesan. Akhirnya targetnya ketar-ketir juga.
.
.
.
.
.
.
.
**TBC
Tinggalkan jejak dear like komen vote ππ**