Dear Nolan

Dear Nolan
Domba Berbulu Serigala



“Mana, mana, mana bos kalian saya mau protes! saya nggak terima harganya selisinya sampai lima juta,” kata perempuan itu yang masih mengomeli montir. Sementara montir yang kenyang dengan omelan itu fokus melihat bosnya yang datang sebagai penyelamat.


“Permisi mbak saya Bosnya. Ada yang bisa dibantu.” Nolan bersikap lebih halus pada pelanggan.


Perempuan itu berbalik, “Saya MAU! ….” Ia tak bisa melanjutkan kalimatnya melihat seseorang yang ada didepannya.


Ini beneran kan, itu Bang Nolan bukan. Apa aku berhalusianasi.


Nolan pun mengeryitkan dahinya, masih jelas di ingatan Nolan. Perempuan ini yang beberapa waktu lalu hampir ia tabrak karena menolong anak kucing. Nolan memilih pura-pura saja tidak tahu dan bersikap normal selayaknya kepada pelanggan.


“Ya, Mbak mau apa?” tanya Nolan balik. Lawan bicaranya nampak seperti tidak ada respon.


“Bang Nolan kan, apa kalian hanya mirip?” tanya perempuan bernama Nesya itu.


“Ya bener saya Nolan!” balas Nolan.


“Bang No, apa Bang No nggak ingat aku sama sekali?” perempuan itu malah mengalihkan pembicaraan dengan penuh percaya diri.


“Maaf, nggak!” jawab Nolan singkat.


Ini nih akibat terlalu cantik aku sekarang, Bang No berubah banget sekarang, setiap ketemu aku bawaannya galak kayak mau makan orang. Untung Bang No yang sekarang ganteng jadi nggak sakit hati amat. Batin nesya terlalu Pe-de dalam hati.


“Bang No, aku Nesya! Delapan tahun lalu. Aku orang yang paling Bang No sayang di panti waktu aku umur sepuluh tahun.” Nesya berusaha memulihkan ingatan masa lalu Nolan.


“Maaf kejadian delapan hari yang lalu saja Aku tidak ingat, apalagi delapan tahun,” elak Nolan sedikit memunculkan sikap aslinya yang kaku sekarang.


Tapi memang ia belum mengingat perempuan yang di hadapannya delapan tahun lalu. Tapi perempuan ini selalu merasa sok kenal dan sok dekat dengannya. Apa benar ia pernah dekat dengannya delapan tahun lalu tepatnya ia masih SMP.


“Mbak maaf ya! sebenarnya tadi mbak mau apa pengen ketemu saya? pelanggan bengkel ini nggak hanya mbak. Kita juga ingin melayani yang lain bukan hanya denger protesan dari mbak yang bisa merusak reputasi bengkel kami.” Nolan berusaha menahan diri agar tidak bersikap emosional.


“Nggak Bang No, nggak apa kok. Cuma salah paham, nambah lima juta nggak ada masalah kok,” elak Nesya dengan wajah ceria. Ia berubah jadi si boros setelah tahu Nolan yang punya bengkel ini.


Sang montir menyungging dengan nada mengejek, tadi saja dia mengoceh seperti mobilnya habis dibakar bukan di modifikasi. Rasanya ingin sekali ia menimpuk kepala gadis itu dengan kunci pas ditangannya. Melihat sikap perempuan itu yang berubah 180 derajat setelah bertemu Nolan. Untung gadis itu cantik, sang montir membatalkan niat buruknya.


Bukankah Bang Nolan putra dari Pak Adiguna, bagaimana dia bisa punya bengkel. Perusahaan bapaknya aja menguasai kebutuhan pertambangan di pulau ini. Nesya masih terheran -heran.


“Bang No,” panggil Nesya, Nolan berbalik. “Mungkin Bang Nolan lupa sama Nesya, tapi kebaikan Bang Nolan sama Nesya dan adik-adik di panti dulu nggak akan pernah Nesya lupakan sampai kapanpun.”


“Terima kasih, sudah kewajiban manusia menolong sesama, itu bukan hal istimewa. Terima kasih sudah percaya pada bengkel kami.”Nolan masih bersikap selayaknya pada pelanggan.


“Pasti bengkel ini sangat terpercaya,” puji Nesya asal saja. Nolan meninggalkan Nesya menuju tangga.


Sementara Nesya masih mematung melihat punggung seseorang yang memang di kaguminya sejak kecil. Meskipun sekarang Bang Nolan galak tapi sepertinya ia baik. Nesya menyamakan Ibarat lagu dangdut Bang Nolan seperti domba berbulu serigala, garang di luar tapi lumer di dalam. Nesya cengar-cengir sendiri membayangkan hayalan konyolnya.


“Mbak! Jadi bayar nggak?” seorang montir yang tadi membangunkan lamuna Nesya.


Nesya tersontak kaget, “Eh! Ya jadi.”


“Silahkan ke kasir mbak,” montir menunjuk ke arah kanan Nesya.


“Ini tip buat kamu buat kamu, saya lagi happy hari ini.” Nesya menyerahkan satu lembar uang seratus ribu. Wajah sang montir berbinar.


“Sering-sering kesini mbak kalau lagi bahagia.” Si Montir cengar-cengir sambil mencium uang pemberian Nesya.


Kepala Nesya berkerja dengan cepat menangkap ucapan montir. Ya, ia harus sering kemari untuk bisa dekat dengan Nolan.


.


.


.


.


.


.


TBC.....