Dear Nolan

Dear Nolan
Amarah Mama Mertua



"TEGA KAMU Nes!" bentak Mama Mitha dengan suara keras.


Nesya langsung berdiri menoleh ke arah Mama Mitha yang tidak seperti biasanya. Nesya menelan ludah kasar melihat raut wajah Mama Mitha yang biasa terlihat anggun dan elegan berubah menjadi kaku menahan emosi.


"Ma, ada apa ini Ma." Nolan binggung melihat mama tercinta yang terlihat sangat marah dengan Nesya.


"Tadi Mama dengar sendiri Nesya tidak ingin hamil dulu! Dimana pikiran kamu Nes?!" Mama Mitha masih dengan nada membentak ke arah Nesya.


"Bukan seperti itu maksud Nesya Ma," ucap Nesya panik. Nafasnya hampir cekat melihat Mama mertua jadi garang seperti kehilangan sisi keanggunan.


"Telinga Mama masih normal ya Nes, Mama dengar apa yang kamu bilang sama suami kamu! Tega ya kamu!" kata Mama Mitha masih dengan emosi yang meluap-luap.


"Ma, tenang Ma. Kita bicara saja di kamar Nolan Ma. Nggak enak ribut-ribut di sini." Tangan Nolan yang lain merangkul pundak Mamanya.


Pelayan yang sedang bersih-bersih hanya bisa menutup mata telinga berpura diam mendengar keributan para majikannya, tapi setelah ini mereka ada bahan gosip di belakang bersama pelayan yang lain.


Nolan menyerahkan Arzen pada Nesya. "Nes, berikan Arzen pada Abel atau Bang Davin, kita akan bicara di kamar."


Nesya hanya mengangguk tak bisa berkata-kata lagi. Ia melangkah dan pergi meninggalkan kedua orang di ruangan ini menuju kamar Abel. Nolan merangkul Mama Mitha untuk mengajak ke kamar. Mama Mitha yang masih emosi memilih menurut mengikuti langkah putranya.


"Mama nggak terima Nesya seenaknya sendiri nggak mau hamil! Dia nggak peduli dengan perasaaan kamu! Istri macam apa dia yang memanfaatkan kebaikan suaminya untuk kehendaknya sendiri!" keluh Mama Mitha pada putranya.


"Ma, tenang Ma. Kita hanya menunda Ma. Keputusan ini sudah kita bicarakan sebelum menikah," balas Nolan. Nolan mengerti mama Mitha yang selalu dekat dengannya selama ini, pasti bisa merasakan kekecewaan yang putranya rasakan.Tapi sebagai suaminya sudah sepantasnya ia menjaga dan membela Nesya.


"Mulut kamu bisa berkata begitu No! tapi hati kamu, Mama mengerti pasti kecewa dengan keputusan istri kamu!" seru Mama Mitha.


"Ma, nggak Ma. Seperti yang Nolan bilang di awal. Kita sudah membicarakan hal ini sebelum menikah. Hanya setahun setelah studi kedokteran Nesya selesai. Ini demi kebaikan bersama Ma." Nolan berusaha memberi alasan pada Mama Mitha yang masih terlihat marah.


"Kalau memang masalah studi! Apa bedanya dengan Abel! Dia juga belum selesai kuliah, dia juga pengusaha tapi dia tidak keberatan bahkan hampir merenggang nyawa demi mengandung anak Davin."


Nesya yang kembali dari kamar abel dan berdiri di depan pintu, mendengar ucapan Mama Mitha. Cukup menusuk di relung hatinya, lagi-lagi ia dibandingkan dengan kakak iparnya itu. Meskipun itu memang benar tetap saja nyesek di ulu hati Nesya.


Kak Abel seorang geolog, tentu kuliah sangat beda sama aku, setelah skripsi ia sudah bebas dari perkuliahan. Nah aku, setelah wisuda harus jadi koas, ujian sertifikasi, intership perjalanan masih panjang. Ya Allah aku harus gimana sekarang?


Nesya memberanikan mendekat, bergabung bersama suami dan Mama mertua.


"Maaf Ma! kalau keputusan Nesya sudah membuat Mama kecewa. Nesya hanya nggak mau kehamilan Nesya nantinya akan terganggu karena kesibukan Nesya di rumah sakit." Nesya menunduk tak berani menatap Mama mertua yang masih menyala-nyala.


"Nggak kebalik kamu takut kegiatan kamu di rumah sakit terganggu karena hamil anak Nolan!" Sindir Mama Mitha.


"Astagfirullah, nggak Ma. Itu alasan Nesya. Bang No juga sudah setuju sebelum kita menikah."


"Kamu sadar nggak sih dengan keputusan kamu. Kamu tahu sendiri Nolan sangat menyayangi anak-anak, dia mengasihi anak-anak manapun. Apalagi jika nanti anaknya sendiri. Tapi istrinya sendiri malah nggak mau hamil anaknya. Kamu mikir nggak sih Nesya!" Mama Mitha lagi-lagi tak bisa menahan emosinya.


"Ma, Nesya nggak bermaksud seperti itu. Nesya hanya ingin selesai sampai ujian. Setelah itu Nesya pasti akan memulai program untuk kehamilan." Nesya berusaha meyakinkan Mama mertua dengan argumennya.


Nolan merangkul pundak Mama Mitha. "Nesya benar Ma, apa salahnya kita beri Nesya kesempatan untuk menunda kehamilan. Mungkin setelah Nesya selesai ujian dia bisa menjalani kehamilan dengan tenang." Nolan berusaha membela Nesya di depan Mama tercinta.


"Kamu jangan pura-pura kuat No, Mama tahu kamu pasti kecewa dengan keputusan istri kamu. Kamu terlalu menjaga perasaan istri kamu yang tidak pengertian sama suaminya. Lagipula di luar sana banyak istri yang berkuliah dengan keadaan hamil. Ini tergantung pola pikir manusianya, bisa apa nggak menjalankan kodratnyanya sebagai istri!" Mama Mitha benar-benar tidak mempan dengan ucapan penjelasan Nolan maupun Nesya. Didalam pikirnya kini hanya, tidaklah benar istri yang menunda ingin memiliki anak.


"Sayang, ini bukan keputusan kamu! tapi keputusan kita." Nolan merangkul Nesya. "Ma, Nolan mohon Mama juga mengerti maksud dan tujuan Nesya." Nolan tidak menyerah membela Nesya meyakinkan Mamanya agar mengerti keinginan Nesya.


"Mama akan bicarakan masalah ini dengan Bu Seren. Demi alasan apapun, istri yang tidak mau cepat hamil anak suaminya tetaplah tidak benar!"


"Ma, tolong mengerti Ma!" Nolan memelas lagi pada Mamanya. Nolan mengerti perasaan kecewa Mamanya seperti dirinya, tapi untuk awal pernikahannya Nolan lebih memilih menjaga perasaan Nesya.


"Cukup No, Itu hadiah dari keluarga Adiguna menyambut menantunya." Kata Mama Mitha melempar kasar kotak bludru ke ranjang.


"Mama mau keluar aja cari udara dingin ingin ketemu cucu Mama." Mama Mitha menutup pintu keras setelah keluar dari kamar Nolan.


Nesya yang sejak tadi panik ketakutan langsung memeluk suaminya mencari ketenangan. Bagaimana mungkin Mama Mitha yang biasa hangat padanya, selalu mengajaknya seru-seruan berubah menjadi sosok yang menyeramkan hanya karena tahu dirinya menunda kehamilan.


"Udah Sayang, mama masih emosi, kita mau ngomong apapun pasti dia tidak akan mau dengar."


"Apa keputusan aku salah Bang, aku hanya mau hamil dengan tenang setelah selesaikan studi kedokteran aku. Aku juga nggak mau kecewakan ayah sama bunda yang mengawal aku dari awak, kalau sampai aku belum lulus-lulus." Nesya tidak bisa membendung air mata yang tertahan di matanya.


"Udah Sayang, nanti aku akan coba ngomong lagi sama Mama kalau udah tenang. Semoga Mama bisa nerima keputusan kita." Nolan megusap kepala istrinya berusaha menenangkan.


Nolan dilema sekarang, di satu sisi ia menerima keputusan istrinya yang selalu ingin ia jaga dan bahagiakan meskipun membuatnya kecewa. Telebih istri tercintanya masih tetap kekeh pada keputusannya. Tapi di sisi lain, Nolan tidak bisa menyalahkan sikap Mama Mitha yang berubah menjadi ganas mendengar keputusan Nesya. Setiap ibu pasti mendambakan cucu dari anak yang sudah menikah.


"Udah Sayang." Nolan menghapus air mata Nesya yang merembes di pipinya.


"Kamu lapar nggak Nes, belum pernah nyobain Mi ramen bikinan aku kan." Nolan mengalihkan topik pembicaraan agar istrinya berhenti bersedih memikirkan kejadian tadi.


"Memang Bang No bisa masak?" tanya Nesya penuh keraguan. Pikiran Nesya mulai teralih dengan pernyataan suaminya.


"Belum tahu masakan suamimu, tunggu disini. Sepuluh menit lagi aku datang bawa ramen pedas!" Nolan mengecup kening Nesya dan melangkah pergi keluar dari kamar.


Nesya berhenti ketika suaminya sudah tidak di kamar. Ia rasanya sudah tak tahu harus bagaimana? Baru beberapa Minggu di rumah mertuanya bukannya membuat mertuanya senang dan bangga. Ini malah kedua mertuanya kesal padanya.


Keep strong Nes, kamu nggak boleh nyerah. Cari solusi yang terbaik. Nesya menyemangati dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


Mulai ada asap ya😳😳