Dear Nolan

Dear Nolan
Pohon atau Tiang Listrik



Nesya mengetuk-ngetukan jarinya ke setir mobil, ia menikmati hentakan musik yang keluar dari stereo mobilnya. Nesya menikmati perjalanan malam ini sambil memikirkan bagaimana caranya agar mobilnya rusak tiap hari. Ya, satu mobil masuk bengkel tidak masalah, masih ada mobil milik ayahnya yang hanya berjajar numpang parkir di garasi rumahnya.


Nesya semakin serius memikirkan ingin di apakan mobilnya yang sangat jauh dari kata mogok apalagi rusak. Apa dia tabrakkan saja ke tiang listrik seperti teman politisi ayahnya. Tidak! Itu terlalu ekstrim bisa – bisa satu kampung mati lampu karena ulahnya.


Nesya membatalkan niatnya yang merugikan masyarakat itu. Mungkin ditabrakan pohon lebih baik tak merugikan siapapun. Paling-paling hanya rumah burung yang terkena dampaknya. Tapi tidak! Bagaimana kalau di kebablasan dan mati konyol, deket Bang Nolan enggak, deket malaikat maut iya. Nesya membatalkan niatnya menabrakkan mobil ke pohon ataupun tiang listrik.


Nesya memutuskan memikirkannya nanti. Ia akan menginap di rumah kakaknya malam ini, di rumah besarnya akan ada arisan sosialita teman Bundanya. Nesya hanya malas saja bertemu dengan orang-orang sosialita yang pamer hartanya masing-masing.


Nesya tiba di perumahan tempat kakaknya. Nesya segera masuk di rumah bercat putih itu. Teryata dirinya sudah di sambut dengan ponakannya yang cantik dan lucunya yang yang sekarang berumur hampir 7 tahun. Keduanya masuk ke dalam rumah.


“Anty, lihat gambar Aline bagus nggak? Aline mau ikut lomba.” Nesya langsung di sodorkan kertas berisi gambar rumah dan anak keluarga kecil di depan rumah itu.


“Keren Alien, jago memang keponakan Anty. Kamu pasti menang." Nesya memuji sambil megancungkan jempol.


“Ini Alien, ini Mami, ini Papi, ini Omah, ini Opah.” Alien mengabsen satu persatu gambar orang di kertasnya.


“Ya, Anty kok nggak ada?” Nesya cemberut.


“Kata Papi, Anty nggak usah di gambar. Anty belum ada gandengannya, masa Anty gandengan sama sapi?” Alien menunjuk gambar sapi di kertas itu.


Nesya pun tertawa, sesat nih bapaknya. Suweh nih kakak masa iya di suruh gandeng sapi. Begini-gini aku jomblo soleha, yang akan menunggu calon imam yang tepat.


“Nesya, kamu disini?” tanya Tiara yang tiba-tiba muncul dari balik pintu utama.


“Ya Kak, aku mau nginep sini malam ini, kakak tumben nggak lembur,”


“Iya, Kakak mau pulang cepat. Sekalian ngasih tahu Adrian mobil kakak perlu ke bengkel, tarikannya mulai berat.”


Dengan cepet Nesya mengambil kunci mobil Tiara dan memberi kunci mobil miliknya. Tiara hanya melonggo melihat kelakuan Nesya. Nesya kegirangan, rejeki memang nggak kemana.


Tiara masih melonggo, “Nesya kamu nggak praktek, lagian masa kamu cewek-cewek pergi ke bengkel.”


“Praktek siang. Aman Kakakkku yang cantik,” seru Nesya. Tiara pun pasrah saja melihat Nesya yang begitu semangat.


Memang kalau sudah rejeki, sejauh apapun mengelak pasti juga akan dapat juga cara untuk ketemu.


"Nesya kenapa kamu cengar-cengir?" seru Tiara melihat Nesya.


Nesya mau cerita tapi maju mundur, kakak iparnya yang berwajah cantik seram bukan tempat curhat yang cocok untuk masalah percintaan.


"Nggak Kak, sering-sering aja kakak rusakin mobil, serahkan sama Nesya."


"Kamu aneh Nesya?" guman Tiara memilih pergi daripada meladeni Nesya.


.


.


.


.


.


.


Next......