
Sepanjang jalan Neysa dan Nolan masih belum ada yang mengeluarkan suara. Nesya masih sibuk dengan perasaan senangnya. Seandainya ada trampolin ia ingin sekali loncat-loncat. Sedangkan Nolan sibuk dengan perasaan aneh yang ia rasakan ketika berdekatan dengan Nesya. Sesekali ia mencuri pandang memperhatikan Neysa dari atas sampai ke bawah. Nesya yang menghadap ke arah jendela mobil. Ia mengamati Neysa yang memang cantik dari dekat.
Di luar sana pasti banyak laki-laki yang juga ingin mendapatkan Nesya. Tiba-tiba rasa takut kehilangan mulai menghampiri Nolan.
"Nanti pulang jam berapa?" tanya Nolan sekaligus memecah keheningan.
"Kalau on time sih jam 5, tapi kadang di UGD ada saja pasien yang membutuhkan penanganan lama," jawab Nesya.
"Aku jemput lagi nggak apa-apa?" tanya Nolan lagi.
"Ehmm, gimana ya ...."
Nesya merasa ia harus jual mahal dulu, ia ingin melihat sejauh mana Nolan berusaha merebut hatinya.
Nolan mendadak lesu dan wajahnya berubah menjadi kesal, "Nggak apa-apa kok kalau nggak mau."
Waduh apa aku terlalu jual mahal ya. Jangan lemah Nesya tetap main cantik untuk jinakin yang model Bang No.
"Nanti aku Wa aja ya Bang," balas Nesya.
"Oke," ucap Nolan.
Nesya jadi ragu dengan keputusannya. Bagaimana kalau Nolan males menjemput Nesya. Nesya sebenarnya senang dan berharap dijemput kerja Nolan tapi apalah daya, saat ini yang harus ia lakukan adalah jual mahal dulu.
Mobil Nolan sudah berhenti di depan lobby rumah sakit.
"Sampai ...," kata Nolan.
Nesya sengaja membuka lama seat belt berharap mendapat kata semangat pagi yang membuatnya merona. Seat belt sudah lepas bahkan ia sudah hampir membuka pintu mobil, tak ada satu kalimat pun keluar dari mulut Nolan apalagi kata modus.
"Makasih, aku turun dulu." Nesya bersiap akan turun dan masih berharap mendapat kata semangat pagi.
"Ya ...," balas Nolan.
Bilang jangan lupa sarapan, kerja yang bener atau apalah yang bikin aku semangat. Bilang ya doang, Hedeh nggak bisa modus banget sih Bang No.
Kali ini Nesya tak berharap lagi ada kata mutiara, Nesya menunggu Nolan menjalankan mobilnya menjauh dari lobby. Ia masuk ke dalam lobby menuju UGD dengan perasaan sedikit kesal.
"Nesya!" Sapa seseorang laki-laki memakai jas putih.
Dengan spontan Nesya menoleh. "Pagi Dokter Rakha."
"Kamu nggak bawa mobil? Biasanya parkir di sebelah mobil saya," kata Rakha.
"Kebetulan nggak Pak, saya di antar?"
"Berarti pulanglah di jemput dong nanti," tanya Rakha lagi.
"Ya dong Pak, emang saya Jaelani datang tak dijemput pulang tak di antar."
Dokter Rakha tertawa. "Di antar Kakak kamu?"
"Ada deh Dokter, dokter kepo ih sama saya." Nesya mengeryitkan dahinya.
"Nanti pulang bareng aja, rumah kita kan searah." Dokter Rakha.
"Makasih dokter, tapi sepertinya saya dijemput. Maaf saya duluan ini ruangan saya." Nesya membuka pintu kaca yang menuju ruang UGD. Akhirnya bisa lolos juga dari dokter playboy itu.
*****
Hari menjelang siang tidak ada tanda-tanda Nolan mengabari akanmenjemputnya. Nesya menepuk kepalanya, bagaimana bisa Nolan mengabarinya. Bukankah dia sendiri yang jual mahal kalau akan mengabari akan menjemput. ******! bagaimana kalau Nolan berubah pikiran. Bisa malu sama dokter Rakha kakak naik taksi online. Iya kalau sopirnya ganteng tinggal ngaku-ngaku gebetan baru, nah kali bapak rambutnya putih.
Nesya buru-buru meraih ponselnya mengirim pesan Wa.
*****
Nolan duduk di kursi ruangannya di bengkelnya. Ia mendadak malas mengerjakan skripsi di sela waktu luangnya. Ia lebih tertarik melihat sosial media IG milik Nesya. Satu kata yang bisa Nolan ucapankan melihat foto-foto Neysa, cantik!
Kenapa semakin hari ia semakin penasaran dengan Nesya. Ia merasa Nesya berbeda. Tidak genit, asal ceplas-ceplos dan kadang sikapnya manis kadang seperti preman. Ia juga selalu ingin dekat terus dengan Nesya. Misal tadi pagi entah kenapa ia refleks ingin menjemput Nesya. Ia menengok dari jendela kaca yang mengarah ke workshop. Ia melihat mobil Nesya yang belum rampung di kerjakan. Itu artinya ia masih punya banyak waktu mengantar jemput Nesya tiap hari.
Sebenarnya ia ingin mengirim pesan pada Nesya membuka obrolan. Mengingat ini jam makan siang pasti dia nggak sibuk. Tapi ia binggung harus mulai dari mana.
Suara pesan terdengar dari ponselnya. Dengan cepat Nolan langsung membuka isi pesan. Benar saja itu dari Nesya.
Neysa Nabilla
Bang No, jadi jemput aku nggak.
Nolan
Jadi jam 5 kan pulang
Betapa senangnya Nolan mendapatkan pesan mendadak dari Nesya.
Nesya Nabilla
OK kalo gitu, soalnya ada 3 temen aku di kantor yang ajak pulang bareng.
Nolan menjadi kesal.
Nolan
Tunggu aku aja nanti, btw temen kamu cowok cewek.
Nesya
Satu cewek yang dua cowok😊
.
.
.
.
.
.
TBC....