
Semuanya saling berbincang entah masalah bisnis dan politik yang tidak di mengerti Nolan. Nolan yang tak punya teman bicara lebih memilih makan sesuatu yang ada di depannya. Ia hanya menikmati salad yang dia rasa aneh, ia jadi merindukan gado-gado di dekat panti yang rasanya jauh lebih enak.
"Nolan mahasiswa dimana Pak Hendrawan?" tanya Pak Doni.
"Nak, bicara pada Pak Doni dimana kau kuliah," ucap Pak Hendrawan menyenggol Nolan.
"Saya kuliah di Universitas B, jurusan teknik Mesin," balas Nolan.
"Benarkah? putra sulungku dosen sekaligus pembantu rektor disana. Kau pasti kenal dia, namanya Adrian Bagaskoro."
Uhuk uhuk. Nolan langsung tersedak entah biji jagung atau kacang merah dari salad yang menyangkut di tenggorokannya, mendengar nama Adrian Bagaskoro putra sulung Pak Doni.
"No, pelan-pelan makannya." Ibu Mitha menyerahkan segelas air dan menggosok punggung putranya.
Nolan berpikir jadi anak perempuan, pria paruh baya dihadapannya adalah Nesya. Benarkah?
"Itu Putri kita." Serena menunjuk wanita berhijab emas dengan balutan gaun hitam yang tersenyum kearahnya.
Nolan langsung menoleh, ia sudah tahu siapa yang akan mendekat ke mejanya.
"Maaf telat," Nesya masih duduk menyamankan posisi duduknya.
Ia mulai memperhatikan orang-orang yang ada di meja. Mata Nesya langsung terbelalak melihat siapa yang duduk tepat di hadapannya di meja bundar.
"Bang No," kata Nesya terkejut.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Serena pada Nesya.
"Ia Bun, kita saling kenal," jawab Nesya.
Jujur, Ia binggung harus mengakui Nolan sebagia siapa? pacar? dia tidak pernah mengikrarkan hubungan mereka. Calon suami, boro-boro nanti Nolan berpikir dia terlalu Pede.
Nolan malah memandang Nesya dengan tatapan tak suka. Ia juga heran kenapa sekarang ia terlalu prosesif dengan Nesya. Kadang Ia takut Nesya tidak suka dengan sikap prosesifnya ini dan memilih kabur. Nolan bukan tidak suka dengan tampilan Nesya sekarang. Nesya begitu terlihat cantik, anggun dan tak pernah ia melihat Nesya berdandan secantik sekarang selama mereka bertemu.
Nolan hanya tidak suka jika ada laki-laki yang melihat Nesya tanpa kedip. Seperti yang di rasakan Nolan sekarang.
"No, kamu kenal Nesya?" tanya Bu Mitha. Ia senang untuk pertama kalinya melihat putranya mengenal wanita.
"Kenal Ma, Nesya teman dekat Nolan," ucap Nolan jujur.
"Benarkah? kalian pacaran maksudnya." Bu Mitha memperjelas jawaban Nolan.
Nolan masih diam, ia juga binggung harus menamai apa hubungannya dengan Nesya.
"Ini sangat kebetulan sekali, Pak Doni ternyata anak-anak kita saling mengenal." Pak Hendrawan memotong ucapan Bu Mitha dengan wajah ceria.
"Benar Pak Hendra, kalian berdua juga keliatan cocok sepertinya." Pak Doni mengoda putrinya.
"Ayah ...." Nesya mendadak kalem mendengar sindiran ayahnya.
"Kita makan dulu, kita bahas masalah anak-anak kita nanti." Pak Doni mengangkat sendok mempersilakan menikmati makanan.
Beberapa menit selanjutnya Nolan berpamitan akan ke toilet. Ia berhenti di depam taman kecil hotel. Ia meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Nesya.
Nolan
Temui aku di taman lobby
Ditempat yang sama dan sudut ruangan yang berbeda, Nesya mendengar getar di ponselnya menandakan pesan masuk dan panggilan masuk. Nesya secara sembunyi-sembunyi membuka ponselnya supaya terlihat sopan. Nesya melihat kontak telepon yang ia rubah berkali-kali sesuai kehendak hatinya.
My lovely freezer
Temui aku di taman lobby
Ia bergerak cepat menemui Nolan yang sudah menunggunya di taman lobby hotel.
"Bang No, kenapa?" tanya Nesya yang sudah berdiri di depan Nolan.
"Aku nggak nyangka teman Papa itu ayah kamu!"
"Ya sama aku juga nggak nyangka, hampir aja aku nggak pergi tadi, takut dijodoh-jodohkan." Balas Nesya.
"Nes, aku binggung kalau orang tua kita tanya kita punya hubungan apa?" jawab Nolan jujur.
"Ya sama? kita sebenarnya punya hubungan apa sih?" Nesya balik bertanya polos.
"Nes, aku tanya kamu. Kenapa kamu malah nanya balik?" jawab Nolan.
"Soalnya aku juga binggung, di bilang pacaran kita tak pernah mengakui perasan masing-masing. Temenan! kita punya hubungan lebih dari itu kan!" ucap Nesya.
Nolan kali ini memberanikan diri memegang kedua pundak Nesya.
"Nesya! sekarang aku mau mengakui perasan aku ke kamu, aku sayang sama kamu." Kata cepat yang keluar dari mulut Nolan membuat Nesya diam tanpa kata.
Apakah ia masih perlu jual mahal? Nesya merasa sudah saatnya memberi Nolan kesempatan. "Jadi kita jadian nih, aku pasti juga sayang Bang No," jawab Nesya dengan santainya.
"Aku mau lebih dari itu Nes, aku juga mau kamu jadi ibu anak-anak aku."
Nesya mengerutkan kening. "Karena kita di hotel, jadi Bang No mau ajak aku bikin bayi!"
"Astaghfirullahaladzim Nesya, bisa nggak sih kamu serius dikit. Itu kiasan!" balas Nolan langsung melepaskan pundak Nesya.
"Aku cuma menyimpulkan perkataan Bang No." Balas Nesya merona merah.
"Intinya, Aku mau serius menjalani hubungan sama kamu aku nggak mau kita pacar-pacaran. Kalau perlu aku melamar kamu sekarang di depan orang tua kamu!"
Lagi-lagi wajah Nesya merona merona tak bisa berkata-kata lagi. "Ya udah kita sah ya jadi calon tunangan."
"Iya!" Balas Nolan yang juga mendadak malu.
"Balik yuk bang No sekarang, nanti kita di grebek sama orang tua kita,"
"Iya ayo!" balas Nolan.
Nesya berjalan terlebih dulu. Bibir Nesya terus mengukirkan senyum akhirnya sekarang hubungan mereka tidak lagi abu-abu. Begitu pula dengan Nolan yang merasa lega, kini ia tak perlu takut lagi kehilangan Nesya.
.
.
.
.
.
.
TBC
Sorry baru bisa up 😘😘 Makasih ya pembaca yang masih setia nunggu kisah Bang No.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘