
Nesya hanya menghabiskan waktu melamun di sepanjang jalan. Beruntung ia bisa menahan air matanya, ia tidak mau terlihat lemah di depan orang lain. Nolan menyuruhnya pulang dan pergi begitu saja meninggalkannya. Ia masih ingin menjelaskan semuanya, tapi dalam keadaan emosional bicara apapun pasti tidak akan bisa di terima dengan baik. Mobil Range Rover putih hampir berhenti di pertigaan lampu merah menuju arah ke rumah keluarga Adiguna.
"Jon kita terus aja, aku mau ke rumah kakakku di grand Rejency," ucap Nesya. Mungkin lebih baik Nesya pergi ke rumah kakak dulu. Sungguh ia belum siap bertemu keluarga suaminya.
"Tapi Mbak, kata bos suruh antar ke rumah," bantah Jono.
Nesya sadar, lari dari masalah hanya akan membuat anggapan keluarga Nolan semakin buruk. Ia harus siap dengan segala konsekuensi dari apa yang sudah terjadi. Lagipula semua yang terjadi hari ini diluar ekspektasinya dan sudah menjadi kehendak yang maha kuasa.
"Ya udah Jon, kita pulang ke rumah Papa Hendra." Nesya memberanikan diri untuk pulang ke rumah mertuanya. Ia sudah siap menghadapi apapun yang di lontarkan mertua padanya. Bukankah itu namanya menikah yang menyatukan dua keluarga. Nesya harus bisa memberi pengertian pada keluarga suaminya meskipun itu pasti sangat sulit dan ia tak yakin bisa. Nesya anggap ini ujian untuk lebih mengenal keluarga barunya.
Mobil yang di kemudikan Jono sudah memasuki gerbang rumah keluarga Adiguna. Lagi-lagi tapi tubuh Nesya gemetar, jantungnya berdegup kencang.
"Sudah sampai Mbak, masih mau muter - muter," tegur Jono yang melihat Nesya masih duduk manis di kursi penumpang belakang.
"Apa sih Jon, iya tahu. Ini aku mau turun," balas Nesya menghembuskan nafas kasar. Saatnya ia turun dan menghadapi kenyataan hidup. Nesya membuka pintu mobil, ia mulai berjalan pelan ke teras rumah.
Nesya membuka pelan pintu utama rumah. Ia berdoa agar tidak bertemu dengan mertuanya di rumah yang luas ini. Andai saja ia menemukan jalan pintas ke rumah ini menuju kamarnya pasti ia takkan segugup ini. Ia buru-buru menaiki tangga menuju kamar. Beberapa langkah menapaki anak tangga tidak ada anggota keluarga yang muncul di lantai bawah, hanya ada pelayan yang lalu lalang melintas.
Ketika kakinya menginjak ke lantai dua, nasib baik tidak berpihak padanya hari ini. Mama mertua duduk santai menikmati teh di ruang keluarga di lantai ini. Mama Mitha langsung menyorot ke arah Nesya dengan tatapan sinis. Nesya berjalan dengan pelan menghampiri mertuanya. Nesya meraih punggung tangan Mama Mitha lebih dulu. Nesya sadar ia mendapat sambutan dingin Mama mertuanya.
"Kamu baru pulang?" tanya Mama Mitha dengan nada ketus.
"Ya Ma," jawab Nesya dengan menunduk.
"Kamu tahu juga kan kalau hari ini pembukaan tempat usaha baru suamimu!" Mama Mitha masih berbicara dengan nada tinggi.
"Nesya tahu Ma, Nesya ada keadaan darurat di rumah sakit yang mengharuskan Nesya harus tetap disana."
"Memang nggak ada dokter lain! Sampai kamu nggak bisa pulang sebentar saja!"
"Dokter bedah yang kebetulan praktek hanya dokter senior Nesya Ma, jadi mau tidak mau Nesya harus dampingi dokter senior Nesya. Kita tidak pernah tahu kejadian apa yang akan terjadi di rumah sakit."
"Harusnya kamu bisa membedakan mana yang harus di utamakan! kamu senang ya lihat kerabat kita menjadikan Nolan bahasan gunjingan kalau Nolan berbuat kasar sama kamu. Sampai dihari penting saja istrinya tidak bisa datang! padahal sebenernya siapa disini ya berbuat seenaknya!"
Nesya hanya bisa pasrah menahan air matanya. Sesuai prediksinya, mau menjelaskan apapun, mama mertuanya tidak akan mengerti.
"Ma, Nesya sama sekali nggak pernah bermaksud seperti itu! ini benar-benar diluar rencana." Nesya masih berusaha membela diri.
"Nes, mama menerima kamu jadi pendamping Nolan, karena mama merasa kamulah yang paling tepat untuk Nolan, setelah ada kamu Nolan mengalami banyak perubahan. Mama merasa anak yang besar di panti asuhan memiliki rasa empati yang tinggi, terlebih kamu di adopsi keluarga kaya dan terpandang. Tapi nyatanya Mama salah kan. Setelah menikah mama baru menyadari sesuatu, kamu malah semakin berbuat sesuka hati kamu! Pertama! kamu tidak mau punya anak dari suamimu. Kedua! kamu seenaknya sama suamimu di hari bahagianya! setelah ini apalagi! kamu akan buat Nolan jadi depresi lagi supaya kamu bisa bebas berbuat sesuka hati kamu!" Mama Mitha berkata dengan nada meluap - luap penuh Emosi.
"Tapi kenyataanya sekarang memang seperti itu! kamu memanfaatkan kebaikan Nolan untuk kepentingan kamu sendiri! Kamu ...."
"Ada apa ini Ma ribut - ribut." Davin muncul memotong ucapan Mama Mitha.
"Mama hanya memberitahu Nesya! Kalau dia sudah keterlaluan!" seru Mama Mitha.
Davin melihat ke arah Nesya yang menangis sesenggukan. Tentu saja Nesya pasti usai mendapat omelan dari Mamanya. Davin tahu Mama Mitha sangat marah dengan kejadian tadi pagi, terlebih lagi mulut pedas kerabat yang membicarakan keharmonisan rumah tangga Nolan membuatnya Mama Mitha semakin emosi.
"Nes! Sebaiknya kamu ke kamar, Abang mau pinjam Mama untuk menemani Arzen," ucap Davin memilih jalan tengah agar Mama Mitha dan Nesya berhenti membuat keributan.
"Ya Bang," Nesya sedikit bernafas lega ada Davin datang menengahi dirinya. Jika tidak entah apa lagi ucapan menusuk hati yang di lontarkan Mama Mitha.
Nesya berbalik, ia melangkah cepat menuju kamarnya. Tadinya ia ingin sejak tadi pergi meninggalkan Mama Mitha. Tapi meninggalkan orang tua yang bicara tentu tidak sopan dan hanya akan menambah penilaian buruk tentang dirinya.
Nesya membanting tubuhnya ke ranjang. Ia masih belum bisa menghentikan air matanya yang menetes. Ia merasa berat sekali ujian awal pernikahannya. Suaminya yang tak mau bicara dengannya, mertuanya yang semakin tidak simpati padanya. Ia memeluk guling erat, yang bisa ia lakukan sekarang hanya menangis dan berharap ujian masalahnya segera berakhir.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ...
Sabar ya Nes 😠....
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear 😘😘