Dear Nolan

Dear Nolan
Maaf Papa Mertua



Nesya bersantai di sofa kamarnya sambil megusap-usap perutnya yang sudah membuncit sempurna. Tanpa terasa usia kandungannya kini sudah memasuki Minggu ke 36, Nesya pun mengalami fase yang sama seperti ibu hamil lainnya. Masa ngidamnya berakhir di bulan ke Lima. Untungnya Nolan sebagai suami siaga selalu mengabulkan keinginan istrinya. Nesya juga sudah berhenti mengikuti co-ast ketika usia kehamilan 28 Minggu.


Menurut hasil pemeriksaan USG Nesya mengandung bayi kembar tak identik dengan dua kantong janin di rahim. Jenis kelamin calon bayi kembar Nesya dan Nolan adalah kembar sepasang laki-laki dan perempuan.


"Bang," ucap Nesya mendekati suaminya sambil bergelayut manja di lengannya.


"Apa Sayang," jawab Nolan yang sedang bersiap di depan kaca. Ia akan berangkat berkerja.


"Sebenarnya ada keinginan aku yang belum kesampaian loh, aku pingin bisa kesampaian sebelum anak kita lahir."


"Kamu pengen apa sih Sayang, suamimu udah penuhi semuanya keinginan ngidam kamu."


"Tapi sepertinya enggak bakalan kesampaian deh, soalnya terlalu ekstrim," ucap Nesya.


"Memang apa sih, lebih ekstrim mana sama ngidam kamu yang pengen lihat aku kasih makan buaya."


Nesya tertawa terbahak mengingat hal itu. Kehamilan trimester pertama dia ingin sekali melihat suaminya memberi makan buaya. Nolan yang tak mau anaknya ileran seperti ancaman Nesya, menuruti keinginan istrinya itu. Keduanya pergi ke penakaran buaya di kota ini untuk menuruti keinginan bumil ini.


"Abang masih ingat ya." Nesya masih cekikikan.


"Ingetlah Nes, hampir saja suamimu ini kehilangan tangan."


"Ya Maaf Bang, itu keinginan twins." Alasan Nesya lagi sambil menunjuk perutnya.


"Kalau mantan buaya darat ada Abangku, ini buaya beneran Sayang, mana waktu aku yang kasih makan buayanya ngamuk." Cerita Nolan dengan ekspresi kesal.


"Ya, maaf Bang, aku seneng Abang rela lakuin itu demi aku sama twins," balas Nesya berhenti tertawa berganti memasang wajah manja.


"Sebenarnya kamu mau apa tadi,"


"Hmmm ...." Nesya ragu, "Yakin sanggup? Ini lebih ekstrim loh."


"Ya apa?" Nolan malah jadi penasaran. "Kalau aku sanggup pasti aku turuti."


"Sejak hamil enam bulan nggak tahu kenapa pengen banget makan masakan buatan Papa Hendra."


"Apa! Ngacau kamu sayang. Ini beneran lebih serem!"


"Tuh kan," seru Nesya.


"Yang benar aja Sayang, papa nggak mungkin mau masak ke dapur. Aku aja yang masak gimana?"


"Nggak mau! Aku kurang ajar nggak sih Bang jadi kayak ngerjain mertua. Tapi sumpah bang, aku nggak tahu kenapa twins kepengen banget masakan buatan Papa Hendra, minimal telur ceplok juga nggak apa-apa."


"Ya udah aku coba bilang ke Mama," balas Nolan memberi harapan sambil mengelus perut istrinya kemudian turun mencium perut buncitnya.


"Lupakan ajalah Bang, Nesya takut papa marah."


"Aku coba, ya udah kita turun sarapan." Nolan berdiri dan mengandeng lengan Nesya.


Nolan pun juga ragu untuk memenuhi keinginan istrinya, lebih baik Nesya ngidam minta masakan chef Arnold atau Chef Juna langsung di depan mata, pasti itu lebih dikabulkan oleh Papa Hendrawan.


Sampai di meja makan suasana menjadi hening. Nesya melihat ke arah Nolan agar berbicara pada Mama Mitha.


Mama Mitha mulai melihat gerak-gerik aneh dua orang di hadapannya.


"Kalian kenapa lihat-lihatan begitu!" sentak Mama Mitha.


"Ma, sebenarnya Nesya pengen sesuatu sebelum bayi kembar kita lahir."


"Nesya mau apa, bilang sama Mama, pasti mama turuti selama mampu demi cucu sendiri," balas Mama Mitha.


"Nggak Ma, enggak apa-apa kok!" Nesya buru-buru membantah karena takut. Ia juga tidak mau dianggap menantu durhaka yang memanfaatkan kebaikan mertua.


"Nesya mau di Masakin Papa Ma, minimal telur ceplok nggak apa-apa."


Uhuk ... uhuk ... uhuk ..... Mama Mitha tersedak mendengar ucapan Nolan.


Nesya langsung mencubit paha suaminya yang langsung frontal begitu saja.


"Yang benar saja Nes, No. Hampir tiga puluh tahun mama menikah dengan Papa. Mama belum pernah sama sekali lihat Papa masak. Papa kalian tuh udah terlanjur kaya dari lahir," seru Mama Mitha.


"Enggak Ma, Nesya asal aja kok Ma,"


"Ada apa ini?" Pak Hendrawan muncul di meja makan dan mengambil posisi duduknya. Semuanya terdiam.


Pak Hendrawan langsung melihat tajam ke arah Nesya.


Nesya menunduk takut. Memang hubungan Nesya sana Papa mertua sudah membaik. Tapi pemintaan seperti itu pada seorang Hendrawan Adiguna, sungguh Nesya harus membayar mahal ketidaksopanannya kali ini.


"Kenapa tidak, ini demi cucu keluarga Adiguna kan. Lagi pula sudah lama sekali Papa nggak pernah ke dapur. Ayo Ma, temani Papa, kita buatkan makanan untuk calon cucu kita." Pak Hendrawan yang akan sarapan berdiri menuju ke dapur.


Mulut Nesya mengangga selebar mulut kuda Nil. Bukan hanya Nesya, Nolan dan Mama Mitha juga bengong tak menyangka.


Pada akhirnya karena Nesya, mereka berhasil membujuk seorang Hendarawan Adiguna yang garang dan arogan masuk ke dapur.


Entah ada kekacauan apa yang terjadi di dapur sana Nesya malah jadi takut dan mengengam erat tangan suaminya. Nolan menahan tawa melihat Nesya yang ketakutan karena ulahnya sendiri.


Tak lama, Pak Hendrawan bersama Mama Mitha datang dengan membawa piring.


"Kamu coba Nes, gini-gini Waktu masih muda, Papa suka masak sendiri." Pak Hendrawan meletakan piring di depan Nesya.


"Masa sih Pa," seru Nolan.


"Maaf Pa, Maafkan Nesya yang kurang ajar ini." Nesya meraih tangan Papa mertuanya lalu menciumnya. Papa mertua benar-benar berubah total. Jadi nggak enak hati mau nelan masakan Papa mertua.


"Nggak apa-apa Nes, namanya juga lagi hamil pasti permintaannya aneh-aneh, ayo makan," balas Pak Hendrawan.


"Ya Sayang, ayo makan." Nesya menyodorkan telur dadar di depan mulut Nesya.


Meskipun malu, Nesya membuka mulutnya menghargai usaha Papa mertua. Ternyata lumayan juga masakan papa mertua meskipun hanya telur dadar.


"Enak Pa, makasih Pa." Nesya menunduk ke arah mertuanya.


Akhirnya keinginannya sudah terpenuhi juga sebelum baby twins lahir. Keluarga ini mulai menikmati sarapan pagi mereka dengan tenang.


Nesya mengantar suaminya ke depan pintu.


"Nes, nes!" Mama Mitha kaget melihat rok Nesya yang basah. Nesya menoleh ke arah Mama Mitha.


"Rok kamu! Basah! Apa jangan-jangan!"


Nesya melihat kearah roknya yang memang basah kuyup!"


"Astaghfirullahaladzim, tapi Nesya nggak merasakan apa-apa Ma." Perkiraan lahir Nesya memang masih seminggu lagi.


"Tapi itu ketuban kamu udah rembes begitu! Cepat ke rumah sakit No!" Seru Mama Mitha panik.


"Ya ... Ma, iya!" Nolan langsung bergerak cepat panik.


Sedangkan Nesya yang hamil hanya bengong melihat kepanikan dua orang di depannya. Nesya memang dia tidak merasakan gejala apa-apa. Tapi roknya semakin basah dengan rembesan air.


Mama Mitha langsung mengandeng Nesya menuju mobil


"Ma, kenapa nggak mules ya, harusnya pecah ketuban di tandai dengan kontraksi."


"Intinya kita sekarang ke rumah sakit dulu! Mama takut keburu kembar nanti brojol di jalan."


Nesya pasrah masuk ke dalam mobil karena ini pertama kalinya pengalaman melahirkan meskipun bukan yang pertama kali menolong persalinan.


.


.


.


.


.


.


.


TBC ......


Ei comeback, sori telat update dear😘😘😘