
Ya, pagi-pagi sekali Nesya sudah memesan pil Kontrasepsi darurat. Sepengetahuan Nesya, Guna pil kontrasepsi darurat ini untuk mencegah terjadi indung telur yang akan dibuahi setelah berhubungan suami istri. Harusnya di minum secepatnya setelah berhubungan, tapi masih bisa dicegah maksimal 72 jam. Nesya membolak-balikkan pil itu, kenapa ia jadi ragu untuk meminumnya.
Nesya rasanya ingin menyimpan kembali pil kontrasepsi itu. Padahal ia sudah mendapat ijin suaminya untuk menelan pil kontrasepsi darurat ini. Secara tak langsung ada rasa bersalah menyelip di hatinya. Mencegah apa yang seharusnya terjadi kan tidak baik juga. Sama saja dia menolak kehendak yang Maha Kuasa. Apalagi jika memang terjadi pembuahan karena percintaan hebatnya semalam, itu adalah anak pertama dari pernikahannya yang sangat di harapkan keluarganya.
Nesya menyimpan kembali pil itu, ia masih punya 56 jam lagi untuk berpikir. Meskipun peluang tidak terjadinya kehamilan semakin kecil.
Nesya pun berdiri menganti baju, ia akan melakukan aktivitas di ruang praktek bedahnya seperti biasa.
Waktu di rumah sakit begitu cepat berlalu, Nesya pun diberi ijin untuk pulang cepat, karena dokter praktek bedah belum ada kegiatan lagi. Nesya hanya diminta berjaga-jaga bila di perlukan.
Nesya meraih ponselnya, mengirim pesan memberi kabar pada suaminya kalau kegiatannya di rumah sakit sudah selasai. Baru akan menelfon suaminya kakaknya menghubungi Nesya terlebih dulu.
"Ya, kak Adri!" jawab Nesya.
"Kamu sibuk?"
"Nggak juga sih ini udah mau pulang."
"Bisa ke rumah sebentar nggak!"
"Kapan!"
"Nanti kalau Avatar sudah menaklukkan bumi! Ya sekarang lah!"
"Idih! Ada apa aku disuruh ke rumah? Mau kasih hadiah," canda Nesya.
"Pikiran kamu hadiah terus! Aline demam, dia nggak mau ke dokter! katanya cuma mau di periksa kamu aja."
"Kasian banget Aline, ya udah aku cus kesana, tunggu suamiku datang!"
"Cieh Suami! Kita tunggu!" Telefon terputus.
Beberapa menit menunggu, Nesya mengenal mobil putih yang sering di kendarai suaminya. Mobil berhenti tepat di depan Nesya.
"Lama ya nunggu?" tanya Nolan ketika istri masuk ke dalam mobil.
"Nggak kok, aku yang nggak enak ganggu Abang kerja," balas Nesya sambil mengenakan seat belt.
"Sejak kapan suami merasa diganggu istrinya, bukannya gitu seharusnya. Suami selalu ada untuk istri."
"Ahh! ada yang melunak tapi bukan jelly, I love you suamiku." Nesya bergelayut manja di lengan suaminya. Bukannya senang Nolan malah mengerakkan tangannya agar Nesya tidak bergelayut.
"Sayang aku lagi nyetir jalanan rame, duduk yang benar," seru Nolan. Nesya dengan cemberut kembali ke kursinya.
"Bang No, kita ke rumah Aline ya, dia lagi sakit," ucap Nesya.
"Aline sakit apa?" tanya Nolan panik.
"Dia demam, nggak mau di bawa ke dokter, maunya aku yang periksa dia."
"Ya udah aku antar kesana? tapi mungkin nggak bisa mampir," balas Nolan.
"Kenapa? aku sendirian dong," tanya Nesya.
"Bengkel ramai sayang, aku mau cek pendapat kemarin dan stok spare part dari sekarang. Biar nanti nggak kemalaman pulang."
"Alhamdulillah kalau ramai terus," jawab Nesya.
"Rejeki kamu Sayang. Kayaknya aku butuh karyawan akunting untuk bantu Mbak Rika," balas Nolan.
"Cieh mau cari karyawan cewek," sindir Nesya.
"Ya ampun sayang, akunting kan nggak harus cewek, laki-laki pun bisa. Yang penting ngerti masalah. keuangan dan niat kerja, kamu mau suamimu pulang malam terus," balas Nolan.
"Ya nggak maulah, aku bisa kedinginan dong nggak bisa peluk-peluk suami," ucap Nesya manja.
"Iya, Sayang. Sebagai gantinya malam ini aku mau ajak makan malam di luar!"
"Serius! mau ngajak makan malam di luar!" Nesya memastikan ucapan suaminya, siapa tahu lidahnya hanya terpeleset.
Nesya mengangguk senang, tanpa terasa mobil sudah berhenti di depan pagar rumah. Nesya turun dan melambaikan tangan ke arah suaminya yang langsung pergi menuju bengkelnya.
Nesya yang mengetuk pintu rumah kakaknya langsung di sambut Kakak iparnya Tiara. Tiara sengaja pulang lebih awal karena anaknya sakit. Nesya bergegas ke kamar Aline untuk memeriksanya.
Aline mulai memasang stetoskop di dada Aline, kondisi Aline memang demam, tapi tidak berbahayanya.
"Gimana Nes?" tanya Tiara.
"Nggak tanda - tanda serius Kak, nggak apa-apa, hanya demam karena kelelahan," balas Nesya.
"Aline, kamu belum boleh makan makanan asam ya, sekarang harus banyak istirahat. Biar besok cepat sembuh."
"Ya Anty, Aline kangen sama Anty. Kata Mami sekarang Aline nggak boleh tidur sama Anty. Biar Anty cepat punya adek bayi."
Nesya langsung melihat ke arah Tiara.
"Hehe, aku nggak tau jelasinnya gimana Nes." Kekeh Tiara.
"Mudahan Anty cepat punya dede bayi nanti Aline mau gendong," ucap polos Aline.
Nesya hanya tersenyum masam, Nesya jadi merasa bersalah. Nesya seperti melihat sosok Mama mertua versi mini di diri Aline. Wait! Doa anak kecil biasanya mudah dikabulkan.
"Sekarang Aline istirahat ya, obatnya biar bekerja terus ponakan Anty sembuh." Nesya menarik selimut menutupi tubuh Aline. Bocah tujuh tahun itu menunduk dan memejamkan mata.
Nesya dan Tiara keluar dari kamar Aline, keduanya kini mengobrol di ruang santai di temani teh hangat dan tahu isi ala Mbak Tini.
"Makasih Nes udah bantu Aline," ujar Tiara.
"Ya Ampun kak, Aline tuh udah aku anggap adek sendiri. Pasti aku datang kalau tidak ada halangan."
"Keadaan kamu gimana? Jadi mau nunda punya anak?" tanya Tiara.
Nesya nampak berpikir dengan pertanyaan kakak iparnya. Berbeda dengan keluarga suaminya, keluarganya mendukung apapun keputusan Nesya. Termasuk menunda kehamilan sampai masa koas berakhir.
"Nggak tahu Kak," jawab Nesya.
"Loh ... kenapa?" tanya Tiara.
"Mama mertua aku, dia pengen banget punya cucu, mereka tuh udah kayak tutup telinga sama semua alasan aku!" jawab Nesya.
"Mertua memang gitu, pasti dia nuntut cucu, untung dulu mertua aku Seren, orangnya masa bodoh sama aku," balas Tiara.
"Bukan itu juga sih Kak, aku kayak merasa ada yang ganjal waktu mau minum pil KB darurat, aku merasa bersalah. Pikiran aku mau! Tapi hati aku nolak."
"Nes, aku boleh cerita nggak?" tanya Tiara. Nesya mengangguk.
"Dulu, aku juga sama kayak kamu Nes, aku sama Adrian mutuskan buat nunda kehamilan. Aku harus ke Prancis untuk pembekalan, sedangkan Adrian berniat mau selesaikan S3nya. Tapi rencana manusia, berbeda dengan rencana Allah, aku kebobolan juga kan meskipun aku udah program penundaan terbaik. Finally. Saat itu, aku batal ke Prancis, Adrian juga batal selesaikan S3. Tapi di balik semua itu, ada kebahagian sendiri untuk kita berdua adanya Aline dalam hidup kita. Hal yang seharusnya kita tunda malah muncul dan hal seharusnya kita lakukan malah tertunda. Tapi aku bersyukur sekali ada Aline dalam hidup kita, buktinya sampai sekarang aku sama Adrian udah pengen banget punya anak kedua, tapi Allah belum juga kasih. Padahal kita sudah melakukan promil terbaik." Cerita Tiara.
Nesya tersenyum mendengar sepenggal cerita dari kakak iparnya. Setiap orang punya masalah rumah tangga yang berbeda-beda. Apa yang di inginkan manusia tak selalu sejalan dengan takdir yang Maha Kuasa. Ia jadi yakin dengan apa yang akan dilakukannya sekarang. Apa salahnya menunda sesuatu yang seharusnya?
.
.
.
.
.
.
TBC.....
Sori Ei baru muncul....
Selamat menunaikan ibadah Puasa dear 😘