Dear Nolan

Dear Nolan
Jangan Lari



Nesya kembali ke meja kerjanya dengan keadaan lunglai. Tiba-tiba saja dia jadi lemah. Ya, Nesya orang yang gampang lemah dan gampang emosional ketika mendapat kata-kata serangan dadakan.


"Dokter, pasien yang tadi nggak perlu rawat inap," tanya perawat.


"Dia cuma butuh penjelasan kak," jawab Nesya masih melamun.


"Apa dokter," tanya perawat itu heran.


Nesya terbangun dari lamunannya. "Maaf, kak. Pasien tadi sembuh mendadak." Jawab Nesya asal.


Perawat hanya mengiyakan saja jawaban dari pertanyaannya. Nesya hanya bisa berharap segera pulang ke rumah dan Nolan tidak menunggu lagi sampai ia pulang kerja.


Matahari yang terik berubah menjadi cahaya sore yang teduh, Nesya melihat-lihat di sekeliling lobby sambil menunggu taksi online. Ternyata dugaannya salah, kali ini Nolan tak menunggunya. Mobil sesuai pesanan aplikasi berhenti di depan, Nesya dengan cepat masuk ke mobil meninggalkan rumah sakit.


...****************...


Tok tok tok


"Nes, buka!" suara dari pintu kamar Nesya.


Nesya yang baru saja merebahkan dirinya sejenak langsung bangun membuka pintu meskipun malas.


"Kok, tumben sudah pulang," tanya Adrian ketika pintu sudah dibuka.


"Lagi pingin pengen pulang cepet aja!" balas Nesya.


"Kakak mau ngomong sama kamu!" Adrian menarik Nesya keluar kamar.


Keduanya duduk di ruang tengah.


"Kamu sakit, kenapa kamu pucat." Adrian mengawasi wajah Nesya.


"Nggak, aku lagi kedatangan tamu bulanan aja, perut agak ngilu-ngilu." Jawab Nesya.


"Ya udah kalo kamu sehat, sekarang kakak mau tanya? Kenapa kamu sama Nolan? apa masalah kamu, cerita sama Kakak." Adrian mendesak Nesya yang bersikap aneh pada Adrian.


"Aku lagi nggak pengen bahas dia kak," jawab Nesya.


"Nes, kamu sekarang udah dewasa kan, nggak perlu lari-larian kayak gini. Kalau ada masalah selesaikan dengan baik, jangan main lari masalah. Hadapi! kalau sudah di bicarakan apapun hasilnya, yang penting saling nerima satu sama lain, kamunya juga lebih tenang kan kedepan." Adrian mengakhiri siraman rohani untuk Nesya.


"Ya kak, Kakak udah kayak Mama didih tahu nggak." Nesya mencoba bercanda.


Adrian langsung menonyor kepala Nesya. "Kamu tuh ya, dikasih tahu orang tua selalu aja bercanda. Kali ini kakak serius."


Nesya mengeryitkan dahinya. "Ya ka iya, maaf."


"Kakak bukannya mau tahu atau ikut campur urusan kamu, selama kamu belum nikah kamu masih tanggung jawab kakak juga. Cerita sekarang kenapa kamu nggak teguran sama Nolan. Kemarin-kemarin, kamu fine aja," ujar Adrian lagi.


"Dia nggak bisa move on kak, aku nggak bisa jalanin hubungan sama orang yang nggak bisa move on dari masa lalunya," jawab Nesya dengan suara lemah seketika.


"Kamu tahu dari mana dia nggak bisa move on," usut Adrian lagi.


Nesya berpikir sejenak, apa perlu ia juga menceritakan pada kakaknya kalo melihat ribuan foto Abel. Tepatnya bukan itu yang membuatnya marah, tapi panggilan sayang yang diberikan padanya sama seperti yang disematkan pada Abel yaitu My Angel.


"Pokoknya aku tahu dan punya bukti, intinya bang Nolan nggak bisa move on dari kakak iparnya sendiri," jawab Nesya masih belum mau menceritakan mendetail pada Adrian.


"Jadi Nolan, pernah suka sama Abel, ponakan kesayangan kakak. Lagian Abel kan udah nikah Nesya sama kakak Nolan, nggak mungkin lah Nolan belum bisa Move on." Adrian memberi pencerahan lagi.


"Cerita panjang kak, bisa tiga hari tiga malam kalo Nesya jabarin semua. Intinya aku mau sendiri dulu kak," bantah Nesya lagi


"Tapi temui dan selesaikan aja baik-baik sama Nolan, kasihan anak orang, pagi, siang, malam nyariin kamu terus udah kayak kurir catering diet Tiara tahu nggak." Adrian memberi nasehat lagi.


"Ya kak," jawab Nesya singkat.


Keduanya pun bubar ketika mendengar suara adzan Maghrib berkumandang.


...****************...


Nolan masih mondar mandir di depan ruangannya. Ia bahkan tidak bisa tidur nyenyak apalagi makan enak sore ini. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya bicara baik-baik dengan Nesya dan menyelesaikan masalahnya.


"Maaf Bos nganggu." Jono masuk ke ruangan Nolan.


"Kenapa Jon," tanya Nolan.


"Mau nganter makan malam Bos," ucap Jono.


"Taruh aja di meja Jon," kata Nolan masih rebahan di sofa.


Jono meletakkan makanan di meja, Jono juga masih melihat di meja makan siang Nolan tak tersentuh. Hanya cangkir teh yang kosong. Bosnya lagi galau berat sepertinya. Begitu yang ada di pikiran Jono.


"Maka siangnya nggak di sentuh bos," tanya Jono.


"Tadi masih kenyang, selesai magrib aku mau keluar lagi," jawab Nolan.


"Ini nasinya mau di bawa pulang atau taruh sini."


"Taruh situ aja," balas Nolan.


"Dimakan Bos, nanti sakit bos. Kasihan Mbak Nesya kalo Bos sakit," seru Jono. Jono juga kuatir melihat Bosnya yang tidak seleryy biasanya.


"Ya Jon. Makasih ya," balas Nolan bangun menepuk pundak Jono.


Adzan Maghrib berkumandang bersamaan Jono yang keluar ruangan. Dengan cepat Nolan meraih kunci motornya, ia akan menyelesaikan masalahnya malam ini juga.


...****************...


Keluarga Adrian sudah berkumpul untuk menikmati makan malam. Bahasan di meja makan pun tetap sama menyalahkan tindakan Nesya yang mengabaikan Nolan.


Tapi Nesya mencoba tenang saja menikmati makan malam karena suasana hatinya sudah mulai tenang sekarang.


"Maaf Mbak," seru Mbak Tini menyela di waktu makan. Untung saja keempat anggota keluarga ini sudah menyelesaikan makan malamnya.


"Ada apa Mbak Tini," tanya Tiara pada ART itu.


"Di depan ada tamu yang nyari Mbak Nesya," jawab Mbak Tini sopan karena dihadapan Tiara.


"Siapa Mbak?" tanya Nesya sambil meneguk minumannya.


"Tukang kredit tadi pagi," jawab Mbak Tini sambil terkekeh.


Tiara mengeryitkan dahinya menatap Nesya. "Kamu hutang apa Nes, berlian, Tas Branded, atau mobil sport." Tiara menerka - nerka.


"Bukan Kak, aku hutang penjelasan!" jawab Nesya berdecak kesal. Bang No, memang bukan orang gampang menyerah sudah seperti minum obat saja sehari tiga kali datang ke rumahnya.


Nesya pun memutuskan menemui Nolan, benar kata kakaknya ia harus menghadapi masalah. Dirinya memang harus bicara dengan Nolan, semakin cepat masalah ini beres akan semakin baik juga.


Sebelum menuju teras, Nesya melihat bayangan dirinya di cermin ruang tamu. Jangan ditanya lagi, keadaan Nesya sangat mengenaskan untuk bertemu seorang kekasih. Wajah polos tanpa make up, empat jerawatnya yang mecongkol dekat dahi dan terakhir ia hanya mengunakan piyama tidur panjang motif doraemon yang kembaran dengan Alien. Tak lupa kerudung slem rumahan yang biasa ia pakai untuk menyiram tanaman.


Tak seperti biasanya, Nesya masih melaju melangkah menuju teras. Ia tak peduli dengan tampilannya sekarang. Ia hanya ingin masalahnya dengan Nolan selesai.


.


.


.


.


.


.


TBC....


Ei akan sambung sebentar lagi..