Dear Nolan

Dear Nolan
Makan Malam



Matahari sudah terggelam. Warna langit berubah jadi warna gelap betabur cahaya setitik - titik penuh kemerlap.


Nesya masih duduk di depan kaca untuk memoles wajahnya. Beruntung ia masih punya baju cadangan rok bahan tile warna mustard dan blouse bahan satin sutra warna cokelat di rumah Kakaknya. Jadi ia tidak perlu repot ambil baju ke rumahnya dan bertemu ibu mertua. Nolan memberi kabar lewat pesan kalau dirinya sudah selesaikan pekerjanya dan segera keluar dari bengkel.


Ya, Nesya begitu semangat di ajak makan malam di luar oleh suaminya. Nesya meluapakan sejenak masalah yang ada, ia sudah terbayangkan hal-hal romantis yang akan terjadi malam ini.


Ia sudah berdandan dengan total. Tinggal duduk cantik di teras rumah menunggu suami tercinta yang dalam perjalanan menjemput bidadari.


Panjang umur yang di tunggu sudah memasukan mobilnya di halaman rumah kakaknya. Dengan semeringah Nesya mendekat kearah suaminya yang turun dari mobil, ia langsung mengandeng lengan suaminya.


"Kamu kok cantik sih sayang malam ini," ucap Nolan memperhatikan istrinya yang dandan seperti akan pergi ke kondangan. Apa tidak terlalu berlebihan untuk makan malam di luar, batin Nolan.


"Kemana aja Mas, Baru sadar ya Mas kalau istrinya cantik," balas Nesya. Nolan hanya terkekeh.


"Kita mau makan malam di luar Sayang, bukan mau ke kondangan," balas Nolan


"Ya nggak apa-apa sekali-kali dandan total, buru kalau mau lihat Aline, setelah itu kita langsung cus," Nesya menyeret suaminya agar segera melangkah ke dalam rumah.


Setelah menengok Aline dan berpamitan kepada kakak Adrian dan kakak Tiara, keduanya masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan.


Sepanjang jalan, tidak ada obrolan yang serius mereka berdua hanya menikmati malam sambil mendengarkan music dari stereo. Nolan juga tak memberi tahu akan makan dimana?


Tak lama dalam perjalanan, Nolan berhenti di depan mini market dan memasukkan mobilnya di halamannya. Nolan turun dari mobil.


Nesya berpikir, mungkin suami tercinta mau membeli minuman dingin atau kebelet pipis.


"Nes, ayo turun Sayang!" Nolan membuka pintu untuk Nesya karena tak ada pergerakan dari istrinya.


"Abang kalau mau beli minuman dingin bisa sendiri kan," ucap Nesya.


"Siapa yang mau beli minum, kita mau makan disana," Nolan menunjuk warung tenda di depan mini market yang bertuliskan sate dan gulai kambing.


"Abang jangan bercanda ah! Kita kan mau dinner," ucap Nesya.


"Serius sayang, dari kemarin aku mau ngajakin kamu makan malam di luar, makan sate sama gule kambing, baru ada waktu sekarang. Buruan Sayang, aku udah lapar nanti keburu kehabisan."


"Ih ... Bang No nyebelin!" Hayalan Nesya makan di resto mewah ambyar. Nesya memukul-mukul lengan suaminya.


"Aku salah apa Sayang!" Nolan mencoba menenangkan Nesya yang mukanya di tekuk seperti pakaian kusut.


"Kenapa nggak bilang dari awal. Aku kira kita mau dinner, makan di hotel atau resto pinggir pantai." Nesya melipat tangannya ke dada kesal.


Nolan menepuk jidatnya dan terkekeh kenapa istrinya dandan cantik. "Ya ampun Nes, kamu tahu sendiri aku nggak suka makan makanan begitu, lebih puas makan di kaki lima, enak, harga murah, sekaligus kita bisa bantu pedagang kecil."


"Tahu ah!" jawab Nesya sudah terlanjur kesal memalingkan wajahnya.


"Marah nih gara-gara tempatnya nggak berkelas, nggak mau temani suami yang kelaparan."


Nesya masih memalingkan wajahnya.


"Ya udah aku mau makan sendiri," Nolan langsung menutup pintu mobil Nesya.


Idih nggak peka banget ya istri lagi ngambek pengen di ajak dinner beneran! Mana lapar juga lagi.


"Bang No tunggu!" Nesya berteriak mencegah suaminya melangkah. Nolan pun berhenti dan menunggu istrinya turun dari mobil.


"Ya udah aku ikut makan!" ucap Nesya.


"Ih Bang No, omes," ucap Nesya malu.


Nolan pun mengandeng tangan Nesya ke warung sate kambing tenda. Nesya yang masih kesal terpaksa menerima dirinya yang sudah berdandan maksimal terdampar di warung tenda.


"Enak kan Sayang," tanya Nolan sambil menyuap sate kambing.


"Lumayan," jawab Nesya.


"Besok kita makan di luar lagi deh, tapi gantian kamu yang pilih tempat," seru Nolan.


"Oke! aku mau makan di resto Korea," ucap Nesya.


"Terserah kamu Sayang," Nolan mencubit pipi Nesya. Kadang istrinya ini terlihat lucu kalau lagi ngambek.


"Bang No, Tolong ambilkan tisu basah aku di tas." Nesya menunjuk tas di samping Nolan, karena tangannya belepotan.


Nolan dengan sigap mencari sesuatu yang diminta Nesya. Tapi belum sempat menemukan sesuatu yang di minta Nesya. Nolan malah menemukan pil yang masih utuh. Tentu saja Ia tahu apa kegunaannya.


"Sayang, kamu belum minum pilnya," Nolan setengah memperlihatkan pilnya. Nolan sadar ini di tempat umum tak mungkin mengeluarkannya.


Nesya menggelengkan kepala dan tersenyum. Nolan antara senang dan binggung, kenapa Nesya tidak meminumnya. Apakah dia ingin hamil? atau dia punya obat yang lebih akurat?


"Kenapa?" tanya Nolan.


"Nanti malam aku kasih tahu alasannya," bisik Nesya sambil tertawa renyah. Nolan mengangguk mengiyakan.


Keduanya pun melanjutkan menikmati sisa tusuk sate yang masih ada di piring.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


Selamat Berpuasa 🙏


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘