Dear Nolan

Dear Nolan
Cara mencintai



Acara makan malam ini pun usai, Nolan pun minta ijin agar bisa menemani Nesya pulang yang menyetir mobil sendiri ke resto. Ia beralasan waktu yang menunjukkan semakin larut akan bahaya demi keselamatan Nesya yang meyetir sendiri. Bunda Nesya setuju jika itu demi keselamatan Nesya.


Keduanya pun kini pulang terlebih dulu dengan Nolan yang menjadi sopir Nesya. Kali ini Nesya tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali malu. Bagaimana tidak Nolan sudah berbicara langsung dengan kedua orang tuanya. Nesya bersyukur kedua orangtuanya tidak keberatan dengan hubungan mereka.


"Rambut udah mulai panjang Bang," ucap Nesya.


Tangannya memegang ujung rambut Nolan yang hampir menyentuh mata. Nesya hanya mencari topik pembuka bahasan karena mulutnya tak tahan untuk diam lebih lama lagi selama perjalanan. Lagi pula sekarang dia sudah resmi jadi calon masa depan Nolan.


"Aku nggak sempat potong rambut, bengkel lagi rame, kamu nggak suka ya!" tanya Nolan.


"Suka aja sih, lebih kasual malah," balas Nesya jujur. Bang Nolan seperti apapun tetap ganteng di mata Nesya.


"Nesya, setelah lulus ujian skripsi aku langsung mau bawa orang tua aku ngelamar kamu," ucap Nolan.


"Yakin! langsung ngelamar depan orang tua aku?"


"Sangat yakin!" seru Nolan tegas.


Nesya memang masih tidak menyangka, kenapa semuanya berjalan dengan cepat. Tapi apalah daya! Nesya juga cinta kok dengan Nolan, meskipun keduanya tidak pernah saling mengungkapkan kata 'cinta' secara langsung.


"Bang No, aku ngerasa kenapa Bang No buru-buru banget ya," ucap Nesya.


"Kamu nggak suka ya!"


"Bukan begitu, kalau aku berubah pikiran gimana?"


"Maksud kamu gimana ya Nes, kamu nggak mua nikah sama aku!" wajah Nolan mulai berubah meradang.


Nesya memegangi kedua pipi Nolan untuk membuat tampilan lucu karena wajah Nolan berubah kaku. "Jangan ngambek dong, maksud aku kita nggak pakai acara lamaran sendiri gitu."


Jujur! Nesya juga pingin sebelum di lamar secara resmi. Ia ingin di lamar ala- ala novel yang ceweknya di lamar dekat pantai atau di ajak naik ke atas atap gedung, sedangkan cowoknya bawa bunga segede-gede gaban, terus berlutut sambil bawa cincin. Tapi sepertinya Nesya harus mengubur agannya itu dalam-dalam. Calon suaminya ini bukan tipe pria seperti itu. Nolan sangat tidak romantis tapi itu yang selalu bikin Nesya merasa gemes. Nolan beda dengan pria lain yang yang suka mengobral cinta yang berujung penghianatan.


"Nesya, tujuan kita baik. Kenapa nggak di segerakan. Kalau kita terus kayak gini, aku takut kita sering khilaf. Kalau kita halal, kita bisa lakuin apa aja kan tanpa mikir takut dosa." Nolan terkekeh mengucapkan kalimat terakhirnya.


"Ih memang mau ngapain?" goda Nesya.


"Kamu nggak usah mancing deh, kan kamu sendiri tadi yang minta mau ngapain!" balas Nolan.


"Oh, yang mau bikin bayi itu!" jawab Nesya polos sambil tertawa.


"Ya!"


"Apa sih Bang No!"


"Ya kan nanti kalau sudah halal," balas Nolan.


Wajah Nesya langsung memerah. "Udah ah nggak ganti topik."


"Masih ragu sekarang, kalau aku mau serius," tanya Nolan lagi.


"Nggak! puas!" balas Nesya. "Betewe mobil aku kapan kelar, aku nggak tega lihat Bang No, jadi sopir aku tiap hari!"


"Sengaja aku lamain, kenapa! kamu nggak mau lagi aku antar jemput!" nada Nolan mulai meninggi.


"Sekali-kali mau naik taksi Online, kemarin teman aku ketemu sopir yang mirip Adam Levine lho!" canda Nesya.


"Ih mulai kan! becanda aja. Bang No kan punya kesibukan lain selain antar jemput aku!"


"Aku fine aja!"


"Ya, ya." Balas Nesya yang mulai harus terbiasa dengan sikap prosesif kekasihnya ini.


Perdebatan kecil yang di ributkan keduanya terhenti setelah mobil sudah berada di halaman rumah Nesya.


"Sampai! istrirahat, langsung tidur ya udah malam." Kata Nolan setelah mematikan mesin mobil.


"Bang No juga ya, besok jadi ke ibukota," tanya Nesya.


"InsyaAlloh jadi!" balas Nolan.


"Oke! cepat balik ya, aku pasti kangen sopir kesayangan aku ini." Canda Nesya.


"Nes!" panggil Nolan. Nesya langsung batal membuka seta belt dan kini bertatap pandang dengan orang di sebelahnya.


"Maaf ya, mungkin aku nggak bisa jadi cowok yang romantis. Aku punya cara sendiri nunjukkan rasa sayang dan cinta aku. Mungkin dengan seperti ini, menjaga kamu dan memastikan kamu selalu aman ketika bersama aku." Nolan mengelus puncak kepala Nesya.


"My Angel," lanjut Nolan.


Nesya seperti tersihir. Ia langsung terdiam, badannya langsung lemah seolah tidak ada lagi tulang-tulang yang bisa menopang tubuhnya. Rasanya tidak gambaran yang bisa mengungkapkan rasa mabok cintanya kali ini.


"Aku pulang dulu!" Nolan membuka seat belt.


Nesya terbangun dari lamunannya, "Iya, aku juga mau turun." Nesya ikut membuka seat belt. Ia merasa tidak perlu lagi sekarang menjaga image.


Nesya merasa keduanya sudah memiliki rasa keterikatan masing-masing. Ia melambaikan tangan pada Nolan ketika tukang ojek on-line yang mengantar Nolan sudah datang.


Nesya tidak tahu apa yang terjadi kedepannya, yang pasti sekarang ia ingin menikmati dulu saat manis-manisnya hubungannya dengan Nolan.


.


.


.


.


.


.


.


TBC


Sorri baru Up lagi,😘😘


Jangan lupa tinggalkan Jejak ya like komen vote 😘😘