
Tak terasa dua minggu berlalu, entah kenapa malam ini terasa lebih indah dari malam-malam sebelumnya. Lelaki tampan dengan senyum semeringah yang tak lepas dari bibirnya. Ia memakai balutan kain batik warna Navy bermotif burung enggau khas Kalimantan timur. Ya, baju batik yang nantinya akan serupa dengan baju bawahan yang di kenakan Nesya. Tentu, yang memilih kain batiknya adalah Nesya.
Akhirnya hari ini pun tiba, ia bulatkan niatnya untuk melamar wanita pujaannya. Nolan mendesak kelurganya agar melamarkan Nesya untuknya. Meskipun sebagian keluarga besar Adiguna yang kurang setuju karena terkesan terburu-buru, mengingat usia Nolan yang masih 23 tahun. Tapi berkat dukungan Mama Mitha tercinta, Sang Mama berhasil meyakinkan keluarga tentang kesungguhan Nolan meminang Nesya.
Seminggu lalu, Nolan juga berhasil menepati janjinya. Meskipun dengan perdebatan panjang. Ia di nyatakan lulus skripsi oleh 4 dosen penguji, yang salah satunya tentu calon Kakak iparnya. DR. Adrian Bagaskoro, ST M.si. Meskipun nilai skripsinya B, ia sudah sangat senang. Bagi Nolan bisa lulus dari kampus dan mengugurkan kewajibannya menjadi sarjana itu cukup. Ia juga bertekad setelah lulus dan menikah, ia akan pensiun menjadi orator demo, ia akan mengadakan audisi untuk mencari penerusnya yang lebih garang.
Ia akan memilih fokus pada bisnis barunya, showroom mobil bekas yang sudah mulai tahap pengerjaan workshop. Ia juga punya mimpi, kelak ingin membangunkan Nesya klinik kesehatan ibu dan anak seperti harapan calon istrinya. Tentu, dari hasil jerih payahnya sendiri.
"Widih ... adikku ini memang selalu ganteng." Davin tiba-tiba muncul di ambang pintu.
Nolan langsung menoleh ke sumber suara begitu mendengar suara Kakaknya. Davin dan keluarganya tiba dari ibukota sejak tadi pagi.
"Bang!" Nolan berhambur memeluk kakaknya. Ia merasa begitu bahagia yang tidak bisa di ungkapkan.
"Udah No, baju kamu dan baju Abang nanti kusut." Davin menepuk-nepuk pundak Nolan.
Nolan melepaskan dekapan tangannya. "Arzen mana?" tanya Nolan.
"Di bawah sama Abel. Semua keluarga sudah berkumpul di bawah, mereka nunggu kamu," ucap Davin.
"Bentar Bang, aku pakai sepatu dulu," ujar Nolan.
Davin memegang tangan Nolan. "No, akhirnya Abang bisa ikut melamarkan wanita impianmu. sesuai janji Abang."
"Ya Bang, aku juga nggak nyangka. Nesya tiba-tiba hadir dalam hidupku setelah waktu itu." Nolan tahu Davin pasti mengerti apa maksudnya. Ya, cinta pertamanya dulu telah kandas, yang tak lain adalah kakak iparnya.
"Itulah jodoh yang selalu menjadi rahasia Allah," seru Davin.
"Abang benar, Nesya yang selalu hadir dalam mimpiku. Nesya yang selalu ingin aku sebut dalam tiap doa, dia jawaban istikharahku. Nesyalah wanita yang aku inginkan untuk menemaniku melewati masa tua bersama." Nolan tersenyum selangkah lagi ia akan bersama mimpinya itu.
"Kamu jadi puitis No, sekarang," puji Davin.
"Ini ungkapan hati Bang," tegas Nolan.
Davin hanya tertawa renyah, adiknya sekarang memang sudah banyak berubah. Nolan lebih kalem dan gampang tersenyum. Padahal dulu ia hanya berbicara dua patah kata kalimat penting. Itupun juga berbicara halus hanya pada Davin. Nesya wanita yang tepat untuk Nolan, karena membuat Nolan jadi jinak, begitu yang ada di pikiran Davin.
"Sekarang, cepat siap-siap, Nesya pasti sudah nggak sabar mau ketemu kamu dan keluarga besar kita," seru Davin.
Nolan langsung cepat meraih sepatunya.
"No, sudah jam berapa ini, ayo cepat! kayak perempuan aja dandannya lama!" Kini Mama Mitha muncul juga dari balik pintu.
"Ini udah selesai Ma," seru Nolan usai memakai sepatunya.
"Ayo cepat, keluarga calon menantu Mama udah nunggu." Mama Mitha mengandeng lengan Nolan dengan wajah bahagia dan antusias.
...****************...
Di tempat yang berbeda. Nesya di berikan sentuhan terakhir berupa blush-on warna peach di pipinya agar menambah rona merah pada pipinya.
Nesya pasrah tidak ada acara lamaran romantis, seperti di pantai, di tepi kolam renang, restoran mahal atau di atap-atap gedung ala artis - artis yang di Instagram. Ya, Nesya juga ingin punya feed tentang lamaran romantis ala - ala yang bikin jiwa jomblo makin gigit guling. Tapi, Mengingat calon suaminya yang memang tidak bisa romantis, di tambah lagi itu juga hanya akan membuatnya kebaperan. Jalan satu-satunya yang di pikiran Nesya adalah pasrah. Sudahlah, itu tidak terlalu penting sekarang. Nesya hanya berharap ke depannya langkahnya dengan si montir hati untuk ke jenjang lebih serius tidak ada halangan.
"Udin selesong," kata lelaki setengah matang yang bersama Nesya. Pria kemayu ini adalah fashion designer kondang di kota ini. Ia dipilih Bunda Serena untuk make over Nesya di hari bahagia ini.
Adrian masuk tiba-tiba ke kamar Nesya. "Nes, udah siap," tanyanya.
Pria kemayu itu menyuruh Nesya berdiri, memperlihatkan hasil setuhan akhir sang fashion designer kondang yang nggak kaleng-kaleng.
"Pak dos, gemindang hasil servis ekeh. Nesye cucok bingo kan," katanya dengan lenjeh pada Adrian.
"Iya cantik, tapi adikku memang cantik dari sononya," balas Adrian ketus.
Pria kemayu itu mendekati Adrian. "Tapi karena juri-juri ekeh, Nesye tambah cucok kan," katanya sambil memamerkan jarinya.
"Iya ... iya buruan Nesya siapin, keluarga calon suaminya mau datang!" gertak Adrian.
"Siap Pak Dos, ekeh yakin nih, tuh si calon suaminya Nesye langsung pengen minta cepat kewong lihat Deseh."
"Apain sih Anggoro, kewong, kewong."
"Ekeh Anggi Pak Dos, ekeh jadi pengen ikut kewong!" Si Anggi mencolek pinggang Adrian lalu meremas otot lengannya.
Adrian dengan cekatan menghindari pria kemayu itu sebelum memegang organ berharganya yang lain. Kalau Adrian sudah biasa jadi idola dan di godain mahasiswi- mahasiswi, kadang juga ibu-ibu komplek, tapi kalau di gangguin makhluk setengah matang begini, jujur tengkuknya jadi ngilu.
"Kawin sono sama pohon pisang!" seru Adrian.
"Idih Pak Dos, jehong sama ekeh." Si pria gemulai melenggos memasang wajah ngambek.
Nesya tak bisa lagi menahan tawa kali ini melihat dua orang di depannya. Tadinya ia ingin tampil anggun dan tak ingin make up-nya sis Anggi rusak. Tapi perutnya terlalu geli untuk tidak mengeluarkan tawa.
"Nggak usah ketawa Nes, bentar lagi keringat dingin kamu ketemu calon mertuamu yang sanggar," gertak Adrian
Nesya langsung berganti raut wajah panik, ia menginggat wajah calon mertuanya yang memang sanggar.
"Ya udah turun yuk Kak." Nesya mengandeng lengan Adrian.
Keluar dari kamarnya, Nolan berpas-pasan dengan bundanya yang tergesa-gesa. Bunda Serena juga sudah tampil waw dengan sanggul anti ombak ala sosialita kota ini.
"Kalian lama sekali, rombongan keluarga Nolan udah datang." Dengan tergesa Bunda Serena langsung saja mengandeng lengan sebelah kiri Nesya.
"Eh ... tunggu." Serena menoleh ke arah Nesya. "Anak bunda cantik banget ya," puji Serena. Ia memegangi wajah putrinya yang terbalut jilbab warna silver.
Nesya merona malu, "Bunda bisa aja, Nesya kenapa jadi gugup gini ya Bun."
"Baru juga dilamar, belum nanti akad nikah. Bisa pingsan kamu!" cetuk Adrian yang langsung mendapat hadiah tinju di lengan dari Serena.
"Itu udah biasa Nak, namanya juga akan memulai langkah awal untuk memulai hidup baru. Itu hal yang wajar." Nasehat Serena pada Nesya.
"Makasih bunda wejangannya." Nesya memeluk bundanya.
"Udah! tamu kita nunggu."
Nesya dan Serena melepaskan pelukannya setelah mendengar ucapan Adrian. Saatnya bertemu calon imam, dada Nesya masih saja tak berhenti berdebar.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ....
Cieh... cieh ... cieh Sori ada part bahasa planet translate sendiri ya 😁😁😁
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘