
Warning!!! Masih area 21+ kalian yang belum cukup umur boleh skip langsung like ajaπππ
Part ini masih di sponsori oleh runai tungku satu
inilah waktunya, menyatukan cinta keduanya Bukti kekuatan akan cinta yang tak bisa ia bendung.
"Nes, boleh aku?" pinta Nolan yang merasakan bagaimana rasanya menginginkan lebih. Ia menatap wajah Nesya yang mendadak pendiam.
Nesya yang sudah melambung tinggi ke awan biru karena setuhan suaminya yang memanjakan pemukaaan kulitnya. Ia tak menyangka pria yang kaku, acuh dan tak romantis ini, memanjakan tubuhnya dengan sangat lembut. Ia hanya bisa mengangguk pasrah ketika di tanya.
Pengalaman pertama untuk keduanya, Nolan juga merasa sedikit canggung, tapi gelora dalam dirinya, membuatnya harus segera menuntaskan tugasnya malam ini.
Nolan meloloskan semua yang melekat di dirinya membuangnya ke sembarang arah. Nesya menutup matanya dengan kedua tangan merasa malu, untuk pertama kalinya ia melihat benda tumpul tapi bukan pentungan hansip.
"Nes, ini milik kamu Sayang," ucap Nolan mendekatkan wajahnya di hadapan istrinya. Ia menin-dih di atas tubuh Nesya dengan badannya yang bertumpu di siku.
"Aku malu Bang," ucap Nesya.
"Kenapa harus malu, Aku juga sudah lihat semua sekarang yang sudah jadi milikku," balas Nolan. Dengan tangannya kini bergerilya menyentuh pintu surga dunia yang akan ia dapat. Sudah begitu lembab tandanya Nesya siap menerima tamu yang akan menerobos masuk.
"Ah ... bang No," pekik Nesya kembali membuat tubuhnya meremang. Dirinya kenapa mendadak sensitif mendapat sentuhan dari suaminya.
Nesya mulai membuka tangan yang menutupi matanya pelan-pelan. Ia memberanikan diri mengikuti arahan suaminya menyentuh petungan hansip yang penuh bongkahan daging itu. Nolan mengerang.
Ya ampun, apakah senikmat ini, apalagi kalau?Nolan memejamkan mata ketika Nesya mulai mengengam dengan gemas dan nampak senang menikmati benda itu, seperti anak kecil yang menemukan mainan baru.
"Nes, sekarang ya?" Nolan tak bisa lagi menunggu, ia ingin menyosong pintu surga dunianya.
"Sebentar lagi?" Nesya masih mencengkeram mainan barunya, ternyata seru membalas menyiksa enak suaminya.
"Tadi malu sekarang mau," ucap Nolan. Nesya terkekeh.
"Nes, please!" Nolan menahan tangan Nesya agar berhenti melakukan aktifitasnya. Nesya mengangguk pasrah kali ini.
Nolan dengan semangat mengarahkan benda tumpul ke lembah hangat milik istrinya. Ia mulai mengetuk-getuk pelan tapi tak kunjung juga tembus. Baru pertama mencoba benda itu tak kunjung masuk ke tempatnya. Nolan menghembuskan nafas kasar, mengusap keringat di dahinya. Kenapa sangat susah?
Percobaan yang kedua, Nesya bersiap menarik nafas karena menahan sakit serangan benda tumpul itu lagi. Kali ini dengan tempo sedikit pelan tapi menusuk. Nesya memejamkan mata ada yang mendobrak pertahanan inti tubuhnya.
Ya ampun, kenapa sesusah ini mau masuk dengan permisi.
Nolan sedikit memaksa, tapi sungguh ini sangat sulit, terlalu sempit. Jika ia kasar sedikit, ia takut Nesya akan merasa kesakitan.
Nesya melihat suaminya yang masih berusaha menerobos pertahanannya. Ia juga memejamkan mata setiap menahan perih ketika suaminya terus mengetuk-getuk tapi tak kunjung tembus.
Mau buka segel tak semudah itu Bro. Nesya
"Nes, kenapa sangat sulit sayang. Apa boleh aku memaksa masuk lebih keras sedikit," pinta Nolan. Ia mulai frustasi, sempat ia berpikir, apakah perlu berkonsultasi dadakan pada Kakaknya.
"Ya Bang, nggak apa-apa," ucap Nesya. Tak ingin malamnya gagal meskipun sama-sama masih amatiran. Malu dong sama kelopak bunga mawar yang udah bertaburan dan lampu remang-remang.
Nolan mulai mengambil ancang-ancang. Sebelum memulai bertempur lagi, ia menyulutkan api gairahnya. Ia kembali merangkak di atas tubuh Nesya. Ia mencium bibir Nesya dengan serakah. Nesya membalas tidak kalah garang dengan suaminya. Bibir Nolan kini turun menjelajah leher jenjang Nesya, yang sengaja di dongakkan Nesya agar suaminya lebih mudah mengekplorasi. Merasa sudah sama-sama panas lagi tersulut api cinta dan gairah. Keduanya menginginkan lebih, Nolan mulai mengarahkan benda pusaka yang harus tepat dan berhasil kali ini. Ia Mendorong dan mendesak lebih kuat sesuai ijin dari Nesya.
Kini Nolan berhasil menembus liang surga dunia milik istrinya. Nolan menyerang memejamkan mata merasakan aliran sensasi luar biasa yang menjalar ke keseluruh tubuhnya.
Ia membuka mata dan mendapati Nesya mengeryitkan dengan matanya yang mengalirkan buliran air. Nesya merasakan perih di bawah sana seperti tubuhnya terbelah menjadi dua.
"Nes, sakit ya! aku cabut sekarang. Kita masih punya banyak waktu." Nolan tidak tega melihat ekspresi wajah Neysa yang ada di bawah Kungkungannya.
"Jangan macem-macem Bang No, atau mau aku lempar keluar jendela! Bang No udah bongkar paksa segel, sekarang main cabut gitu aja. Lanjutkan!" Nesya masih sempat berceloteh sambil menahan rasa perih.
Nolan yang tadinya iba melihat Nesya malah jadi terkekeh. "Aku nggak tega lihat kamu kesakitan Sayang! tapi kalau itu mau kamu, aku lanjutkan. Aku janji akan melakukannya pelan-pelan." Nolan membelai sayang pipi Nesya.
Nolan mulai mengerakkan tubuhnya mengikuti instingnya ketika tubuh mereka menyatu. Keduanya mulai merasakan penyatuan rasa cinta yang luar biasa nikmatnya. Meskipun terasa sakit bagi Nesya tapi tersisipkan rasa nikmat yang tak bisa di gambarkan olehnya. Ia semakin kuat mencengkram punggung suaminya merasakan gelombang kenikmatan yang terus di hentakan suaminya.
"Bang No." Nesya melenguh terus memanggil nama suaminya.
Suara-suara pekikan dan desah putus asa yang keluar dari mulut Nesya, terdengar seperti alunan musik yang merdu untuk semakin membuat Nolan terpacu memberikan kemampuan terbaiknya untuk istrinya. Keduanya menikmati surga dunia yang begitu luar biasa. Tak butuh waktu lama, mereka larut dalam permainan panas yang mereka ciptakan. Nolan mengerakkan tubuhnya lebih cepat merasakan sesuatu yang terkumpul dalam satu titik akan mendorong untuk keluar.
"Sayang!" seru Nolan dengan peluh yang membasahi tubuhnya.
Hingga akhirnya kedua manusia yang sedang di mabuk cinta ini mengalami pelepasan bersamaan. Tunai sudah tugas pertama mereka sebagai suami istri.
"Terimakasih Sayang." Nolan mengecup kening Nesya dengan nafasnya yang masih tersengal-sengal.
Nesya hanya tersenyum karena tubuhnya sudah terkulai lemas tak bisa berkata apa-apa. Nolan merebahkan tubuhnya di samping Nesya. Nesya merapat pada suaminya, ketika tubuh montoknya di tarik dalam dekapan suaminya. Tangan Nesysa refleks melingkar di dada suaminya mencari posisi nyaman. Nolan menaikkan selimut agar lebih menutupi tubuh polos keduanya yang sudah kelelahan.
"Tidur Sayang, aku cinta kamu Nes, kamu nggak akan pernah ninggalin aku." Nolan berucap lirih ditelinga Nesya. Ia terus menciumi puncak kepala istrinya, tidak ada ungkapan yang bisa menggambarkan rasa bahagianya saat ini menjadi suami seutuhnya.
Sedangkan Nesya sudah terbawa ke alam mimpi karena tubuhnya sudah tak berdaya lagi. Ia tidur nyaman dalam dekapan tubuh hangat penganti guling beruangnya. Ya, ia sedikit sedikit mendengkur kalau sedang kelelahan.
.
.
.
.
.
.
.
TBC...
Tunai ya ......
Moon map kalo part ini panasπ
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote ππ