Dear Nolan

Dear Nolan
Ungkapan



Nesya melipat kertas bungkus nasi yang sudah kosong. Ia meneguk sisa minuman isotonik yang diberikan Nolan. Nolan juga sudah menyelesaikan makannya.


Senyum terus mengembang di bibir Nesya.


"Kalau mau cari istri, harus punya pacar. Emang Bang No nggak jomblo kan?" tanya Nesya pura-pura bodoh saja kalau Nolan memang jomblo.


"Kalau mau jomblo sampai halal gimana menurut kamu?" jawab Nolan dengan muka datar.


Neysa langsung lemah lagi, bukan karena kecewa, kali ini dia seperti di gombali padahal tidak ada kata modus sama sekali. Tolong jangan kepedean Nesya, Nesya terus menyemangati dirinya agar bisa menahan diri.


Maju Nesya, Bang No yang maksa jiwa bar bar ku kambuh.


"Bagus Bang No, kalau memang cowoknya serius? kenapa nggak?" jawab Nesya.


"Percuma kan pacaran lama ujungnya putus?" jawab Nolan. Apalagi orang yang kita cintai ujungnya bersama orang lain," lanjut Nolan.


Neysa sekarang tunjukkan pesonamu, Bang No bener-bener nantangi aku. Sekarang jaman emansipasi wanita, apa salahnya perempuan yang mengungkap rasa suka duluan.


Pikiran Nesya semakin liar, apakah ia harus senekat ini. Nesya tipikal orang tidak suka basa basi.


"Bang No, kenapa Bang No nggak mencoba saja menjalin hubungan dengan seseorang," ungkap Nesya.


"Untuk saat ini nggak dulu Nes, aku ingin lebih fokus di skripsi dan lomba," jawab Nolan.


Nesya sedikit terkejut tapi apa salahnya mencoba meyakinkan.


"Apa salahnya Bang No, jika itu membuat kita bisa meluapkan masa lalu dan menatap masa depan." Nesya semakin agresif.


"Entah, aku belum siap cinta sama orang lagi." Ungkap Nolan entah keluar begitu saja.


"Maaf kalau aku salah bicara," ucap Nesya.


"Nggak kok," balas Nolan.


Nolan memandang Nesya heran. Entah kenapa dia menjadi aneh dimatanya. Nolan mendadak jadi malu sendiri dan memilih berdiri dengan alasan membuang bungkus nasi ke tempat sampah di ujung ruangan.


"Bang No, apa bang No nggak liat ketulusan di mata aku. Apakah aku nggak bisa jadi alasan untuk Bang No mencintai orang lagi." Nesya bener-bener gila dan hilang kendali kali ini menyatakan dengan gamblang perasaan tanpa rasa gugup.


Nolan hanya bisa menatap Neysa dan berusaha memahami kata-kata yang keluar dari mulut Neysa. Tetap saja pikiran belum bisa menerima apa yang di maksud Nesya.


"Maksud kamu?"


"Apa Bang No nggak ingin kita menjalani hubungan yang lebih serius. Aku dan Bang No." Nesya kembali memperjelas kalimatnya dengan baik tidak. Ia bisa mengendalikan dirinya.


Apa yang dilakukan Nesya? Apa ia mengungkapkan perasaan padanya. Kenapa Nolan merasa seperti di serang Mendadak. Nolan seperti terpenjara dengan Nesya yang seolah tak membiarkannya pergi. Bahkan ia tidak bisa menghindar dari tatapan Nesya yang meminta jawaban.


Nesya lega setelah Nolan tersenyum beberapa detik kemudian. Nolan memberanikan diri menyentuh pundak Neysa.


"Neysa maaf, untuk saat ini aku belum bisa menerima perempuan manapun di hati aku, termasuk kamu?"


Mata Nesya membulat, detik itu juga Nesya berdoa ada gempa yang membelah tanah di bawah kakinya dan menenggelamkannya ke perut bumi sekarang juga


.


.


.


.


.


.


Next...


😆😆😆😆


Jangan lupa like komen vote dear 😘😘