
Nolan sudah berdiri di samping mobilnya depan pagar rumah Adrian. Weekend ini Nolan menepati janjinya pada Nesya akan menjadikan objek fotonya.
Dua wanita muncul dari pintu membuat rasa bosannya menunggu hilang. Gadis kecil itu langsung saja berlari memeluk Nolan seperti punya bapak kedua. Nolan mengangkat sambil memutar-mutar gadis itu mengajaknya bercanda.
"Udah ya, gadis imut kamu berat sekarang." Nolan menurunkan Aline.
"Abang ayo kita jalan." Aline langsung dengan santai melenggang naik ke mobil bagian penumpang belakang.
"Lama ya!" tanya Nesya.
"Nggak kok, ayo pergi mumpung cahayanya bagus," ujar Nolan. Padahal ia menunggu Nesya dari setengah jam yang lalu.
"Ayo...." Nesya masih diam di tempat. Dia menunggu Nolan membukakan pintu untuknya seperti di drama-drama. Tapi harapan itu tak terwujud karena Nolan sudah melenggang sendiri masuk ke kursi kemudi.
"Nes, ayo masuk! kamu nunggu apa lagi!" teriak Nolan dari dalam mobil.
"Iya-iya," ucap Nesya sewot. Dengan kesal ia membuka pintu mobil sendiri, Nesya hampir lupa kekasihnya bukan cowok romantis. Bahkan untuk hal sekecil membukakan pintu mobil.
Untung aku cinta dan masih punya cadangannya stok sabar.
Mobil pun berjalan menyusuri jalanan kota minggu pagi ini untuk menuju objek pertama. Nolan juga tak pernah keberatan jika Aline selalu saja menguntit di antara mereka.
Keduanya sampai di lokasi pertama yaitu pantai Melaw*i, pantai yang berdekatan dengan pelabuhan ini menjadi salah satu objek fotografi paling populer di kota ini. Nesya turun dari mobil, menghirup udara segar sejenak dengan air laut yang mulai pasang.
Nolan masih di dalam mobil memeriksa dan menyiapkan kameranya. Ya, sudah lama sekali ia tidak memotret, mengikuti kegiatan komunitas atau kegiatannya sendiri. Terkahir memotret ia mengikuti lomba bersama Abel. Bulan-bulan terakhir ia lebih fokus mengurus bisnis bengkelnya. Sedangkan Minggu - minggu terakhir ia lebih giat mengerjakan skripsi dengan harapan bisa segera melamar Nesya.
"Bang No, udah belum. Aku udah mode cantik nih sama Aline." Nesya sudah mengambil posisi di pagar pembatas laut dengan pemandangan kapal-kapal kecil , Kapal-kapal besar, dan kapal tongkang pengangkut batubara.
"Oke ready," jawab Nolan mendekati objeknya.
Ia mengamati Nesya dari lensa kamera. Tak seperti foto Abel yang ia ambil diam-diam, kali ini ia malah tak berhenti tertawa kecil melihat pose Nesya yang lucu kadang lebih ke aneh.
Nolan mendekati Nesya untuk memperlihatkan hasil jepretannya.
"Oke, bagus-bagus." Nesya merasa puas dengan hasil jepretan kekasihnya.
"Ayo pindah tempat kesana." Nolan menunjuk bukit bebatuan di dekat laut ini.
Nesya mengandeng tangan Aline mengekor di belakang Nolan. Setelah sampai di lokasi tujuan. Tanpa membuang waktu, Nesya mengambil pose cantik dan Nolan mendapatkan beberapa gambar cantik pula. Nolan lagi-lagi mengamati wajah Nesya dari layar lensa.
Sebentar lagi jika takdir Allah berkehendak, senyum inilah yang akan menghiasi setiap hariku.
"Bang No! lovelyku!" teriak Nesya membangunkan lamunan Nolan.
"Ya," jawab Nolan gelabakan.
"Udah selesai apa belum fotonya, gigi aku keburu kering senyum terus nggak di jepret-jepret."
"Udah. Ayo kita pulang," ucap Nolan langsung mengandeng Aline.
"Nesyanya ketinggalan Bang No," teriak Nesya.
"Kamu kan sudah gede Nes, bisa jalan sendiri!" Nolan berhenti dan berbalik ke belakang
Nesya hanya mendecak sebal. Lagi - lagi ia mengekor di belakang Nolan yang jalannya sangat cepat dengan Aline.
Ketiganya kini sudah berada di mobil untuk meneruskan perjalanannya selanjutnya.
"Nes, kita ke panti sebentar ya! ada yang mau aku titip untuk anak-anak. Minggu - Minggu kemarin aku sibuk. Aku belum sempat kesana." Tangan kiri Nolan yang tak memegang setir meraih tangan Nesya mengengamnya dan meletakkannya di atas pahanya.
"Ya, aku ikut aja," jawab Nesya. Nesya sebenernya ingin menyandar di pundak Nolan, tapi hal seperti itu tidak akan baik untuk pengelihatan anak tujuh tahun seperti Aline.
...****************...
Mobil sudah berhenti di depan panti asuhan yang biasa Nolan kunjungi. Sama halnya dengan Aline, anak-anak disini langsung berhamburan mengerubungi Nolan. Nolan membuka pintu belakang mobil dan menyuruh anak-anak itu untuk mengeluarkan kotak-kotak kardus berisi makanan ringan itu.
Melihat anak-anak itu, Nesya jadi teringat waktu kecil dirinya selalu menunggu mobil Nolan datang ke tempat ini. Seperti halnya anak-anak ini, Nesya begitu mengagumi seseorang yang sekarang menjadi kekasihnya. Hingga suatu hari Allah merubah kehidupannya 180 derajat, dengan kedatangan bunda Serena dan ayah Doni yang mengadopsinya memberinya banyak cinta dan kemewahan dunia seperti putri kandungnya sendiri.
"Nes!" Nolan memegang pundak Nesya yang mendadak jadi diam. Nesya terbangun dari lamunannya dan menghapus bulir yang keluar dari matanya.
"Aku hanya mengingat masa lalu, jadi terharu."
"Ya udah sekarang kita masuk sebentar, ada yang mau titip sama Bu Tari."
Nesya dan Nolan meninggalkan Aline di luar, Karena Aline sepertinya sudah menemukan banyak teman di halaman panti.
Masuk ke administrasi panti Nesya jadi teringat ucapan Adrian dan bundanya beberapa waktu lalu. Sebenarnya ia tidak ingin memikirkan hal itu, tapi apa salahnya ia tahu asal usulnya. Siapa sebenarnya orang tua kandungnya atau bagaimana ia bisa berada di panti ini.
"Billa, Bang No." Bu Tari menyapa dengan bahagia dua orang di depannya.
"Assalamu'alaikum Bu Tari, ibu sehat." Nesya mencium punggung tangan Bu Tari.
"Alhamdulillah sehat, kamu tambah cantik Billa, bener kan waktu itu kata ibu. Kamu sama Bang No cocok." Ledek Bu Tari.
"Bu Tari bisa aja," jawab Nesya.
Nesya hanya tersenyum malu-malu sekarang. Nolan menyerah amplop untuk Bu Tari. Bu Tari seperti sudah hapal apa isi amplop itu dan menyimpannya di laci mejanya.
"Ya sudah Bu Tari, saya mau pamit," ucap Nolan akan berdiri.
"Bang No, aku masih mau ngobrol sebentar sama Bu Tari. Bang No duluan aja nanti aku nyusul."
"Ya udah ... aku nemenin Aline sama anak-anak yang lain," seru Nolan. Ia pun keluar ruangan meninggalkan keduanya.
"Billa, nggak nyangka ibu kamu bisa luluhkan Bang No, cepat dihalalkan Bil," ujar Bu Tari.
"Insya Alloh Bu, doain ya Bu," jawab Nesya.
"Pasti dong, ibu selalu doain."
"Bu, saya boleh tanya sesuatu sama ibu," ujar Nesya.
"Ya, kamu mau tanya apa Bil," ucap Bu Tari santai.
"Bu, sekarang saya sudah dewasa. Saya boleh tahu nggak Bu, bagaimana masa lalu orang tua kandung saya. Bagaimana saya bisa yatim piatu, selama ini saya nggak pernah dengar cerita tentang mereka. Saya hanya ingin tahu saja Bu, tidak ada maksud lain. Saya sangat bahagia dan menyayangi keluarga saya yang sekarang."
Bu Tari Langsung pucat dan menarik nafas panjang. Ia sangat terkejut dengan pertanyaan dari Nesya.
"Billa, bukan ibu mau nutupi semuanya. Tapi menurut data orangtua kandung kamu tidak dijelaskan dan di terangkan. Jadi maaf, ibu tidak bisa memberi info apa-apa," jawab Bu Tari mencoba bersikap tenang
Nesya sedikit kecewa dengan jawaban Bu Tari. Ia sudah berharap mendapatkan info dari Bu Tari.
"Ya Bu nggak apa-apa, saya hanya ingin tahu saja. Bukan maksud saya nggak bersyukur dengan bunda Serena dan Ayah Doni yang merawat saya sampai seperti ini."
"Billa, orang tua kamu yang sekarang adalah orang baik dan terpandang. Mereka pasti menyayangi kamu seperti anak mereka sendiri."
Nesya hanya mengangguk, mendadak suasana menjadi hening dan canggung.
Nolan masuk ke dalam ruangan lagi. "Nes, udah belum, aku mendadak suruh balik ke bengkel ada teman datang."
"Udah Bang, ini aku mau pamit sama Bu Tari." Nesya mencium punggung tangan Bu Tari. Nolan menganggukkan kepala pada Bu Tari ikut berpamitan.
Nesya dan Nolan keluar dari ruangan Bu Tari.
Bu Tari menghembuskan nafas lega.
Maaf Billa ini memang tak adil, tapi ibu sudah janji pada seseorang tidak akan memberi tahu siapapun tentang kamu. Ini demi kebaikan semua orang.
.
.
.
.
.
.
TBC.....
Nanti Ei lanjut dear.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘