Dear Nolan

Dear Nolan
Bertemu Bayi



Hari ini seluruh keluarga besar Nolan pergi ke Ibukota. Termasuk keluarga Adrian yang akan bertolak ke ibukota besok. Kedua keluarga ini akan menghadiri acara aqiqah dan tasyakuran putra pertama kakak Nolan.


Keluarga Nolan sudah pergi terlebih dahulu menggunakan pesawat pribadi. Sedangkan dirinya sudah berjanji akan pergi bersama Nesya mengunakan pesawat komersial. Keluarga Adrian akan pergi esok bertepatan waktu acara


Nolan menunggu di pintu gate, ruang tunggu masuk pesawat yang akan mereka tumpangi. Ia terus melihat jam di tangannya tak kunjung melihat Nesya yang tadi ingin pergi ke toilet.


Nolan bernafas lega melihat Nesya yang muncul dari balik kerumunan orang.


"Kamu lama banget sih Sayang ke toiletnya. Orang-orang sudah naik ke pesawat." Nolan mengeluh pada Nesya yang baru tiba di depannya.


"Maaf, aku mampir beli roti, ini rotinya enak masih panas, oleh-oleh juga buat Kak Abel." Nesya menunjuk roti gembung khas kota ini dan dua cup kopi.


"Ya udah ayo! Sini aku bawakan tas kamu." Nolan menarik tas jinjing yang di bawa Nesya. Nolan tidak tega melihat kekasihnya kesulitan sambil membawa bungkusan roti dan kopi.


"Ayo!" Nesya dengan suka hati memberi Nolan tas yang ada di lengannya.


Kini tangan Nesya hanya membawa tas plastik berisi Roti dan cup kopi. Dengan tangan satunya memegang lengan Nolan. Ini yang selalu disukai Nolan dari Nesya. Nesya selalu memikirkan hal kecil untuk orang lain.


Dua jam menempuh perjalanan udara, keduanya sudah tiba di bandara internasional di ibukota. Nolan menunggu sopir yang akan menjemputnya sesuai arahan Kakaknya. Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depannya.


Lelaki paruh baya dengan sopan membukakan pintu untuk keduanya. keduanya pun masuk dan bersiap meninggalkan bandara menuju rumah Abel.


Nesya melihat jalanan ibukota yang tak berubah. Tanpa terasa Nesya sudah setahun lebih meninggalakan ibukota karena kembali ke kota asal. Ada sedikit kerinduan di hati Nesya saat masa-masa kuliah. Tapi ia bersyukur bisa menyelesaikan separuh perjalanan kuliahnya, kembali ke kota kelahirannya dan bertemu dengan Nolan lagi.


Mobil berhenti di sebuah rumah dua lantai dengan nuansa minimalis bercat putih dan dominan hitam. Nolan menunggu Nesya turun dari mobil untuk masuk ke dalam rumah bersama.


Nesya mendadak gugup, untuk pertama kalinya ia akan berkumpul dengan keluarga besar calon suaminya.


"Aku jadi gugup gini ketemu keluarga calon mertua." Nesya berbisik pada Nolan.


"Masih keluarga inti, keluarga besar aku besok baru kumpul semuanya," balas Nolan.


Sebelum mengetuk pintu, pintu sudah terbuka dengan sambutan dari sang tuan rumah. Wanita cantik dengan wajah ceria langsung berhambur memeluk Nolan.


Nolan membalas pelukan kakak ipar yang pernah singgah di hatinya itu. Tidak ada rasa apapun, hanya ada perasaan merindukan sahabat dan kakak yang tak bertemu berbulan-bulan. Jika Nolan bisa memutar waktu, ia hanya ingin meminta agar tidak pernah bertemu Abel dalam hidupnya dan langsung bertemu Nesya. Tapi itulah liku-liku kehidupan yang harus dilalui setiap orang.


"Alhamdulillah kamu sehat dan selamat sama Arzen." Nolan mengusap pinggang Abel.


Abel merenggangkan pelukannya dan menatap adik iparnya.


"Alhamdulillah No," balas Abel.


Nesya hanya bisa memaksa senyum indah berpura-pura bahagia melihat keadaan yang janggal pada calon kakak ipar dan kekasihnya itu.


Dibilang cemburu, Nesya merasa konyol harus cemburu dengan Kakak iparnya sendiri. Di bilang tidak cemburu, perasaannya berontak. Kak Abel adalah cinta pertama kekasihnya. Terlebih mereka berdua terlihat sangat akrab, peluk-pelukan segala pula, sudah mirip kayak teletabis.


Nolan menarik tangan Nesya yang hanya diam. Nesya yang sejak tadi jadi penonton yang baik pertemuan kakak ipar dan kekasihnya, tersentak kaget tangan besar Nolan menarik lengannya.


Abel tersenyum girang dan langsung memeluk Nesya. Nesya membalas memeluk Abel.


Kak Abel sekarang terlihat lebih berisi dari acara pernikahannya. Itulah terkahir kali Nesya bertemu. Tapi wajahnya nggak berubah tetap cantik dan kelihatan keibuan.


Abel melepaskan pelukannya. "Nggak nyangka dunia ini sempit, Nolan menjalin hubungan dengan adik om Adrian. Semoga kalian segera halal. Aku ikut bahagia."


"Amin. Makasih kak Abel," balas Nesya lembut. Entah kenapa dia jadi mendadak kalem di depan Abel.


"Ayo masuk!" Abel dengan antusias mengajak tamunya masuk ke dalam rumahnya.


"Mana Arsen, aku nggak sabar mau ketemu dia." Nolan masuk ke dalam rumah terlebih sambil mengandeng Nesya.


Nesya melihat wajah Nolan sekilas, Nesya tidak bisa menggambarkan perasaan di raut wajah Nolan. Entah dia masih menyimpan rasa pada kakak iparnya atau cintanya memang untuknya sepenuhnya seperti yang pernah dikatakan.


Tapi Nolan memang terlihat lebih enjoy! mungkin benar perasaannya pada Kak Abel udah mulai pudar.


Keluarga Nolan sudah berkumpul di ruang tengah. Ada Pak Hendrawan, Mama Mitha dan keluarga dari Abel. Nesya langsung cari simpati depan calon mertua dengan mencium punggung tangan Mama Mitha, di balas dengan cipika cipiki dari calon mama mertua yang anggun itu. Nesya juga meraih punggung tangan calon Papa mertua yang terlihat seram tanpa senyuman, tapi Nesya sebagai calon menantu yang baik tetap memasang senyum semanis mungkin.


"Hai uncle...." Sapa Davin kakak Nolan sambil menggendong bayi mengemaskan.


Nolan dengan sigap duduk disebelah Davin dan menoel-noel bayi lucu dalam pangkuan kakaknya.


"Bang aku mau gendong," Nolan langsung saja mengambil Arzen dari gendongan Ayahnya.


Meskipun Nolan belum jadi ayah, tapi Nolan sangat jago untuk urusan mengendong bayi bahkan yang kecil sekalipun tidak ada kecanggungan sama sekali.'


"Tenang No, sebentar lagi kamu juga akan punya sendiri," ucap Davin menepuk punggung Nolan. Disusul suara sindiran tawa dari orang yang berkumpul di ruang tengah.


Nolan hanya tersenyum malu, ia jadi semakin tak sabar ingin segera berumah tangga juga dan punya bayi.


.


.


.


.


.


.


.TBC...


nanti di usahakan lanjut lagi😍😍