
Nolan berhenti mendadak, untung saja Nesya cepat sadar, kakinya bisa mengerem dengan pakem. Coba kalau tidak wajah Nesya bisa menabrak dada peluk-able Bang Nolan. Kan enak ya! Hush!
"Jalan kamu Abel pelan kayak siput," ujar Nolan. Ia jadi teringat Abel lagi melihat Nesya yang berjalan pelan tak bisa cepat menyusul dirinya.
"Maaf Bang No, kaki Nesya masih sakit karena tergelincir tadi." Nesya mencari alasan biar tidak terlihat konyol.
"Masuk!" Nolan membuka pintu cafe untuk Nesya.
Nesya melangkah masuk dengan langkah cantik. Ia mengedarkan pandangannya, cafenya maskulin. Nggak jauh-jauh dari otomotif. Desiannya di buat cat-cat gelap ala coffeshop.
Nolan menyodorkan buku menu pada Nesya. Nesya memilih menu yang berjajar di depannya. Tapi sumpah tidak ada yang lebih menggiurkan dari pada makan siang bersama Bang Nolan. Minum air putih saja cukup, kenyang sendiri soalnya lihat sikap Bang Nolan yang jadi manis
Nesya memesan bakso bakar saja dengan air es. Sedangkan Nolan memesan mie kwitiau.
"Ini cafenya punya Bang No juga," kata Nesya sambil menunjukkan tangannya ke atas.
"Ya," jawab Nolan.
Singkat jelas dan tidak terlalu padat. Nesya usaha lagi, mulutnya terlalu gatal untuk tak bicara.
"Bang No udah lama usaha bengkel ini, Bang No masih kuliah juga kan," tanya Nesya lagi.
"Enam tahun ...," balas Nolan.
Lumayan dua kata daripada dicuekin. Bang Nolan memang sangat irit kata meskipun begitu, Nesya yakin Bang Nolan bukan orang yang kepribadian pelit.
"Bang No pasti bikin kafe ini untuk memudahkan pengunjung bengkel cari makan sambil nunggu mobilnya di service."
"Bener," balas Nolan.
Nesya sebenernya sedikit malas berbicara lagi mendengar jawaban Nolan yang singkat-singkat. Tapi kalau ia tidak bicara malah jadi sepi kayak hatinya selama ini.
Tak lama makanan pesanannya datang. Nesya dengan sigap membumbui dengan banyak sambel.
Nolan menatap makanan Nesya sekilas. Ya! ia jadi teringat kembali seseorang yang suka dengan makanan pedas. Kenapa Abel seperti hantu terus saja membayanginya.
"Suka pedes?" tanya Nolan.
"Banget, tapi jangan terlalu sering nggak bagus untuk kesehatan," jawab Nesya.
"Setuju ...," sahut Nolan.
Ya ampun, Bang Nolan memang orang yang cool. Ia hanya bicara seperlunya saja. Sekarang cuma Nesya saja yang harus pandai-pandai mengerem setiap kata yang ingin dilontarkkan. Setidaknya untuk mencegah siapa tahu saja ada kata-kata keceplosan yang bisa mempermalukan dirinya sendiri.
Tenang Nesya ini baru awal. Batin Nesya dalam hati.
Ponsel Nolan bergetar. Dengan cepat ia mengangkat dan mendengar seseorang yang menelponnya.
"Nesya," tanya Nolan usai meletakkan ponsel.
"Ya, Bang No." Nesya kembali semeringah.
"Kamu beneran kenal aku dari kecil?" tanya Nolan. Ia memang tak mengenali Nesya.
Nesya pikir Nolan akan mulai mengeluarkan modus-modus pada dirinya. Ternyata itu tidak terwujud.
"Kamu kenal Bu Tari?" tanya Nolan.
"Sangat kenal Bang No, dia yang merawat Nesya dulu."
"Tadi anak-anak telepon katanya Bu Tari sakit."
"Beneran, Bang No ayo kita lihat Bu tari." Nesya langsung meneguk air mengakhiri makannya merasa cemas.
"Mobil kamu masih di servis," ujar Nolan.
"Nesya nebeng Bang No aja!" ucap Nesya refleks, ia menutupi mulutnya.
"Tapi aku nggak punya mobil semewah mobil kamu. Aku hanya punya mobil itu." tunjuk Nolan pada mobil Strada single cabin dengan logo bengkelnya, yang terlihat dari balik kaca cafe.
"Ya ampun Bang No, mobil apa aja yang penting bisa jalan Nesya mau!" balas Nesya.
Asalkan sama Bang No, sungguh Bang No pribadi yang low profil.
Keduanya kini keluar kafe, Nesya menunggu Nolan yang mengambil mobil.
Entah kenapa Nolan merasa Nesya mirip dengan Abel. Ocehannya, tingkahnya. Ya sudahlah. Nolan menggelengkan kepalaku tak ingin mengingat kakak iparnya itu.
Nolan membunyikan klakson, menyapa Nesya.
"Bang No, tunggu sebentar Nesya ambil tas medis di mobil!" ucap Nesya di jendela mobil.
Nolan mengangguk. Beberapa menit Nesya sudah kembali dengan sesuatu yang di ambilnya. Karena ini mobil single cabin Nesya duduk di dekat kursi kemudi bersama Nolan.
"Kamu Dokter?" tanya Nolan dengan ragu.
"Masih calon Bang No," balas Nesya. Nolan hanya mengangguk dan tetap bermuka datar.
Ya, kenapa Bang No kayak nggak percaya aku calon dokter. Edan - edan begini aku pinter dan punya cita-cita mulia menolong orang sakit kecuali sakit hati.
Mobil pun melaju menyusuri jalan keluar bengkel.
.
.
.
.
.
.
Next....
dear ada yang masih ngerep turun ranjang 😳😳😳
tinggalkan jejak like komen vote ya😘😘😘