
Ketiganya yang pergi terpisah dengan dua mobil tiba di depan rumah keluarga Doni Bagaskoro. Nesya yang duduk di samping Nolan mengenggam lagi tangan kekasihnya. Ada rasa lain ketika memasuki rumah keluarga ini.
Nolan meraih tangan Nesya yang lain agar menoleh ke arahnya. "Nes, yang kamu lakukan sudah tepat. Ingat dia yang sudah mengandung dan bertaruh nyawa melahirkan kita ke dunia ini. Surga pun tetap di telapak kakinya kan."
Nesya tersenyum dan mengangguk. Kini ia pun turun dari mobil, ia masuk ke dalam rumahnya dengan wajah panik para pelayan sambil mengangguk sopan menyambut dirinya. Nesya semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Nolan karena ia masih marah jika memegang tangan Kakaknya.
Ceklek ....
Nampak bundanya yang terbaring lemah di atas ranjang, dengan ayahnya yang terus duduk di samping sang istri. Bundanya nampak sudah siuman dan di periksa dokter keluarga yang juga Nesya kenal.
"Bunda ...."
Mendengar suara Nesya, seluruh mata langsung tertuju pada Nesya.
"Nesya, kemari nak," ucap Pak Doni senang.
"Nesya." Seren akan bangun dari tempat tidur. Tapi Nesya buru-buru berlari mendatangi bundanya. Ia memeluk orang yang selama ini ia sayangi dan hormati seperti ibunya sendiri, yang ternyata memang ibu kandungnya.
"Maafkan bunda Sayang, maaf. Bunda memang bersalah sangat bersalah. Mungkin kata maaf saja nggak akan cukup untuk menebus kesalahan yang sudah Bunda perbuat sama kamu." Seren mengeratkan pelukannya. "Jangan benci bunda Nak."
Nesya hanya terisak di pelukan ibu kandungnya tak bisa bicara apa-apa. Terlalu egois jika ia tidak bisa memaafkan ibu kandungnya sendiri. Meskipun dari hatinya ia belum bisa menerima perbuatan ibunya.
"Bunda nggak perlu minta maaf, tidak ada orang yang tidak melakukan kesalahan dalam hidupnya." Nesya hanya bisa berkata lirih.
"Kamu nggak boleh pergi jauh lagi dari Bunda. Kamu nggak boleh ninggalkan Bunda lagi."
Nesya mengangguk. Mungkin benar apa yang dikatakan kekasihnya. Ia harus menerima garis takdir yang di berikan Allah untuknya. Meskipun ia tidak tahu langsung dari mulut Ibunya, mungkin dengan ini cara alam menunjukkan siapa dirinya.
Suasana kembali hangat, meskipun tidak seperti sebelum-sebelumnya. Ada sedikit kecanggungan, Nesya masih tidak menyangka bisa bertemu dengan ibu kandungannya, orang yang selama ini merawatnya.
Nesya mengantarkan Nolan ke teras rumah usai cukup lama berada di rumahnya. Nolan merasa lega, Nesya sudah tak serapuh tadi pagi ketika di panti. Ia mulai perlahan-lahan kembali melihat Nesyanya yang seperti biasa.
"Aku pulang ya," kata Nolan sambil megusap pelipis Nesya yang tertutup kerudung.
Nolan memperhatikan dengan iba Wajah kekasihnya yang begitu pucat dan matanya yang sembab. Bagaimana tidak, Nesya menangis semalaman dan sampai hari ini.
"Hati - hati, langsung istirahat ...." Balas Nesya yang ingin sekali memeluk kekasihnya. Tapi ia harus menahan diri. Sejak kapan aku jadi kayak jablay gini.
"Kamu yang harus istirahat Nes, mata kamu udah kaya panda." Nolan yang tidak tahan menangkap wajah Nesya dengan kedua tangannya.
"Pandanya imut dan manis kan." Nesya mengedip-gedipkan mata memasang wajah imut.
Nolan hanya tersenyum melihat wajah lucu Nesya. Salah nggak sih kalo aku cium kamu yang mengemaskan gini. Astaghfirullahaladzim no ingat-ingat! Seperti ada bisikan malaikat ditelinga Nolan.
Nolan melepaskan telapak tangannya dari wajah Nesya, ia takut tidak bisa menahan diri mencium sesuatu di depannya.
"Jangan hilang lagi, bikin kuatir tahu nggak!"
"Tapi aku nggak bisa kehilangan kamu sehari aja!" Nolan mencubit pipi Nesya.
"Tolong Bang gombalannya dikondisikan, bikin ginjalku ngilu tahu!"
Nolan tertawa renyah kali ini. Fix, ia bisa tidur nyenyak nanti malam, jiwa Nesyanya sudah kembali seperti semula.
"Aku serius! aku nggak suka gombal-gombal."
Tin tin tin .... bunyi klakson ojek online yang dipesan Nolan membuyar momen manis keduanya keduanya. Tukang ojek sudah menunggu di depan pintu pagar rumah. Nolan pergi memakai mobil Nesya dan meninggalkan mobilnya di panti.
"Balik sekarang ya," ucap Nolan yang sebenarnya masih berat meninggalkan Nesya seperti sekarang. Nesya mengangguk yang sebenarnya masih ingin bersama Nolan.
Nesya melambaikan tangan ke arah Nolan ketika ojeknya sudah mulai berjalan. Nesya bersyukur mempunyai kekasih seperti Nolan yang salalu ada untuknya di saat Apapun.
Jadi pengen cepat di jadikan istri.
Ia masuk ke dalam rumah ketika ojek yang membawa kekasihnya sudah tak terlihat lagi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC.....
...----------------...
Sori Ei baru up........ ada kesibukan di RL.
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘😘