
Neysa menunggu taksi online di depan lobby Rumah Sakit'. Tak lama mobil yang ia pesan berhenti di depannya. Nesya sengaja sore ini mampir ke bengkel Nolan sebelum pulang ke rumah. Ia tahu kekasihnya itu sudah pulang dari Ibukota dan langsung menuju bengkel setelah pesawat landing. Kebetulan juga Nesya ingin melihat keadaan mobilnya vang mengandang hampir 3 minggu.
"Pacar bos," seru Montir bernama Jono yang sangat mengenal Nesya.
"Mobil aku mana!" seru Nesya pada Jono.
"Itu Nah calon Bu Bos," seru Jono menunjuk mobil warna putih milik Nesya.
Nesya menghampiri mobilnya yang sudah tidak ada lecet karena terperosok di parit. Bahkan mobilnya jadi semakim mengkilat menandakan sering di poles selama dalam kandang.
"Mobil aku udah beres!" seru Nesya.
"Dari dulu Mbak beresnya, si bos aja yang nahan-nahan jangan di kasih Mbak Nesya dulu." Si Jono nyengir melihat Neysa yang melihatnya dengan tatapan aneh.
"Hedeh, kalian berdua sama aja."
"Namanya juga si Bos lagi usaha Mbak. Kencantol juga kan akhirnya," celetuk Jono lagi. Nesya menonyor lengan Jono.
"Sekarang mana si Bos," tanya Nesya.
"Itu lagi berduaan sama pacar kedua disebelah."
"WHAT!"
Jono menunjuk Nolan dari balik kaca, Nolan melihat-lihat mobil hasil modifikasinya yang di maksud pacar kedua. Nesya langsung memberi hadiah Jono pukulan dengan tas di lengannya karena membuatnya panik.
"Ya udah mau samperin Yayang dulu."
"Mbak Nesya! lagi bahagia nggak bagi tip," teriak Jono.
"Aku aduhin Bos Nih," canda Nesya.
"Bercanda kali Mbak Bos," jawab Jono.
Nesya langsung pergi saja ke ruang variasi meninggalkan Jono karena tak mau lagi meladeninya.
Ia melihat Nolan yang begitu serius melihat mobil yang ada di depannya. Sejak semalam dia juga belum mengirimkan pesan. Hanya tadi sore saja bilang akan langsung ke bengkel setelah sampai di bandara.
"Ehem ...." Nesya berdehem membuat Nolan mengalihkan pandangan ke arahnya.
"Nggak bilang mau kesini." Nolan meraih lap untuk membersihkan tangannya yang terkena noda oli.
"Bilang, Bang No aja yang lihat Wa aku." Nesya menyadarkan tubuhnya di kap Mobil yang terbuka.
"Belum sempat lihat Hape," jawab Nolan.
Nesya merasa Nolan jadi lebih diam setelah pulang dari Ibukota. Nesya segera membuang jauh-jauh pikiran buruknya mungkin karena tidak bertemu beberapa hari ada kecanggungan.
"Kak Abel gimana kabarnya?" tanya Nesya.
"Nggak usah bahas Abel deh Nes, aku males!" ucap Nolan.
"Oke!" jawab Nesya kesal. "Kita bahas apa dong ini." Nesya berwajah manja menyadarkan sikunya di pundak Nolan.
Nolan bangkit dan tangan Nesya terturun otomatis.
"Kamu tunggu aku di atas, aku masih mau bereskan ini sebentar. Nanti aku suruh Mbak Rita antarkan cemilan." Nolan meninggalkan Nesya.
Hedeh, aku di cuekin. Kenapa nih orang?kayak kembali ke jiwa lama habis pulang dari Ibukota, aku nggak dapat senyuman sama sekali lagi.
Nesya menurut saja kali ini, ia menaiki tangga menuju lantai dua. Ia masuk ke ruangan Nolan sesuai arahan mbak-mbak yang menjabat administrasi di bengkel ini. Nesya masuk ruangan dengan nuansa yang sangat berbeda dengan bengkel. Nesya baru menyadari selain cinta dengan otomotif, kekasihnya juga menyukai fotografi. Nesya berkeliling di dinding yang terpanjang banyak foto - foto unik.
Nesya melipat tangannya ke depan karema kesal. Kenapa nggak pernah minta aku jadi model, kurang montok apa coba si calon istri Solehah ini.
Ia berjalan lagi menuju meja kerja ruangan Nolan. Ia duduk di kursi yang lumayan nyaman. Dari kursi ini ia bisa melihat dari balik kaca bengkel yang mulai sepi karena menjelang sore. Ia juga melihat montir hatinya yang berada di workshop yang sibuk dengan pacar keduanya. Ya, Nolan terlihat sibuk dengan mobil yang akan ikut lomba, sampai-sampai Nesya di anggurin dan diungsikan ke ruangannya ini.
Ya Nesya menemukan foto-foto unik, gambar-gambar mobil modifikasi. Sayang, dalam komputer kekasihnya ini tak ada fotonya. Nesya bertekad setelah ini dirinya harus memaksa Nolan untuk menjadikannya model fotografinya.
Ketika akan menutup file, tangannya berhenti pada folder yang bertuliskan 'My Angel'. Nesya jadi tersipu malu, bukan kah itu kata yang sering di ucapkan Nolan padanya. Neysa membuka isi folder, siapa tahu itu catatan harian Nolan atau puisi cinta untuk dirinya.
Ah ... so sweet
Mata Nesya langsung membulat, jantungnya mendadak nyeri seperti di tikam tombak saat itu juga. Isi folder adalah ribuan foto Abel yang di ambil secara diam-diam. Hampir posenya terlihat natural. Tangan Nesya gemetar, isi kepala terus memutar-mutar moment dimana Nolan selalu bilang kata itu yang ternyata bukan sebenarnya miliknya.
Kamu masih cinta sama Kak Abel bang No. Pantas kamu jadi aneh setelah ketemu Kak Abel. Kamu cuma jadikan aku tempat pelarian kamu. Bahkan kata itu, kenapa kamu ucapkan berulang-ulang depan aku. Aku Benci!
Nesya meraih tasnya, ia tak sanggup lagi terus berada disini. Ia menuruni tangga dengan cepat.
"Mbak mau kemana? tunggu si Bos masih beli makanan." Jono menegur Nesya yang seperti buru-buru akan pergi.
"Mana kunci mobil aku. Aku mau pulang!" kata Nesya dengan nada keras.
Dengan cepat Jono menyerahkan kunci mobil Nesya karena wajah wanita di hadapannya terlihat menyeramkan.
Nesya berlahan pergi meninggalkan bengkel menyetir mobilnya yang tidak di gunakannya selama berminggu-minggu.
Nesya berusaha tidak menangis, karena dia tidak pernah menangis karena laki-laki. Kali ini tak bisa, matanya meneteskan air mata, bukan karena laki-laki tapi ia menangis karena sebuah kebohongan dan merasa di khianati. Ia berusaha tegar tapi tangannya tak bisa menahan lelehan air yang keluar dari matanya. Pertama kalinya Nesya merasakan sebuah hubungan, pertama kalinya juga ia merasakan bagaimana sakit hati itu.
Lagi-lagi isi kepalanya di isi momen- momen bersama Nolan yang menyebutkan kata "My Angel". Hati Nesya terasa nyeri itu setiap momen itu muncul di kepalanya seperti siaran ulang.
...****************...
Nolan membawa bungkusan kwitiau goreng yang ia beli dari ruko sebelah bengkelnya. Ia segera naik ke ruangannya menemui Nesya yang menunggunya.
"Nes!" katanya melihat ruangannya yang kosong.
Ia pun keluar melihat dari balkon ke arah workshop tidak menemukan Nesya. Ia menuruni tangga lagi memastikan Nesya, apakah masih ada di bawah.
"Bos! cari Mbak Nesya ya!" tanya Jono yang melihat Bosnya celingukan mencari sesuatu.
"Ya, kamu lihat!" seru Nolan panik.
"Tadi pulang Bos bawa mobilnya, mukanya jadi galak gitu terus buru-buru pergi."
"Ya udah jon, ini buat kamu." Nolan menyerah tas plastik yang berisi makanan yang batal ia makan berdua dengan Nesya.
"Makasih Bos!"
Nolan dengan gesit meraih ponsel dan menghubungi Nesya berkali-kali. Nesya mematikan ponselnya, ia terus menelpon, tapi tetap saja suara operator ponsel yang bicara. Nolan mendadak panik dan cemas. Tak biasanya Nesya bersikap seperti itu. Entah apa yang terjadi pada Nesya yang pergi tiba-tiba. Rasa traumanya akan kehilangan muncul lagi di kepalanya. Nolan meraih kunci mobilnya di gantungan meja kasir dan ingin segera menyusul Nesya.
.
.
.
.
.
.
NEXT....
Ei came back membawa hati yang patah 💔 ....
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘 dear