
Bukan hanya semua orang yang berkasak-kusuk mendengarkan ucapan Nolan. Nesya juga tertegun calon suaminya itu berani memprotes dengan alasan yang masuk akal dan benar juga.
Bagaimana nanti keputusan akhirnya, apakah para orang tua ini mau merubah keputusannya. Meninggalkan semua tradisi keluarga mereka. Nesya jadi bertambah tegang di hari yang seharusnya bahagia ini.
"Itu semua benar No. Tapi kembali lagi, kita harus mengikuti petuah dari keluarga kita," ucap Pak Hendrawan.
"Maaf sekali lagi Pa, sebelas bulan waktu yang terlalu lama untuk dua orang yang sudah siap untuk membina rumah tangga. Apalagi dengan alasan yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh sama sekali." Nolan masih kekeh membantah.
"Itu semua sudah diperhitungkan Nak." Pak Hendrawan yang masih tidak mau kalah.
"Maaf kedua keluarga, tolong pertimbangkan lagi. Menikah perkara ibadah apakah kita harus menunggu selama itu. Kalau kalian mengijinkan, saya ingin pernikahan saya dan Nesya di laksanakan paling lambat tiga bulan lagi." Nolan berusaha mengungkapkan keinginannya berkata pelan tegas tapi bisa menahan emosinya.
Semua orang juga reflek melihat ke arah Nesya. Terutama calon mertuanya Pak Hendrawan Adiguna yang menatapnya tajam dengan sorot mata setajam pisau chef Juno. Dalam pikiran Nesya, semua orang seolah beranggapan dirinya berkomplot dengan Nolan untuk mempercepat pernikahan. Bahasa kasarnya seperti terlihat sama-sama kebelet kawin.
Siapa yang sangka bang No juga kebelet kawin juga ... eh. Astaghfirullahaladzim.
Semua orang diam tanpa kata karena suasana menegangkan ini. Nesya meremas - remas tangannya sambil menunduk cantik, untuk menghindar mata - mata seram yang melihat dirinya.
Kenapa mendadak jadi ribet begini urusan yang melibatkan dua keluarga.
"Saya setuju dengan Nolan, mengikuti aturan tradisi itu penting. Tapi untuk apa kelahiran putraku di jadikan alasan untuk maksud baik seseorang. Menikah itu ibadah dan berkah, kita akan dosa jika memperlama tujuan mereka, yang nanti dikuatirkan malah berakhir pada hal yang tidak inginkan keluarga. Pernikahan Nolan dan Nesya harus dilakukan paling lambat tiga bulan. Waktu yang cukup dan tidak terlalu lama untuk mempersiapkan semuanya." Davin mulai angkat bicara membela adiknya.
Davin sangat tahu bagaimana rasanya kebelet kawin, tentu saja ia tidak ingin adiknya merasakan hal itu. Ya, meskipun Nolan belum pernah pacaran tapi ia yakin adiknya punya naluri purba yang menggebu seperti dirinya. Itu tidak boleh ditunda, hanya karena alasan kurang logis keluarganya.
Suasana menjadi panas, terutama untuk keluarga Adiguna. Mereka saling pandang satu sama lain, untuk pertama kalinya mereka di bantah dalam hal menentukan pilihan.
Melihat kondisi yang semakin sulit di tebak, Pak Doni berdiri ingin menengahi keputusan keluarga calon besannya yang mulai panas. Ia akan memberi keputusan dari keluarga Nesya.
"Jadi begini semuanya. Pak Hendra, saya juga sependapat dengan Nolan. Benar kata Nolan, pada dasarnya menikah itu tuntunan agama kita untuk menyempurnakan ibadah. Kita dukung saja niat keduanya Meksipun itu sedikit menyalahi aturan keluarga besar pak Hendra." Pak Doni berusaha jadi penengah.
"Benar Pak, tolong pertimbangankan lagi demi kebaikan Nolan dan Nesya juga." Adrian juga ikut angkat bicara.
Adik dari Pak Hendrawan nampak membisikkan sesuatu, pak Hendrawan hanya manggut-manggut mencoba merespon.
"Baiklah Pak Doni, kami sekeluarga sepakat. Menuruti keinginan anak-anak kita untuk mempercepat pernikahan." Pak Hendra nampak berat mengatakannya. Tapi ia mengambil keputusan dengan mempertimbangkan kondisi psikologis Nolan.
Nolan bernafas lega, rasanya tidak ada lagi beban yang ditanggungnya sekarang.
"Alhamdulillah," seru seluruh anggota keluarga yang ada di dalam ruangan.
Nesya tersenyum lega, Mama Mitha yang sekarang di sampingnya mengengam tangan calon menantunya.
"Mama yakin Nolan akan membuat kamu bahagia," ucap Mama Mitha.
Nesya tersenyum sambik mengangguk, ia memandang bahagia pada wanita paruh bayah yang masih terlihat muda itu, dalam hati ia berkata, kelak nanti ia menjadi menantu keluarga Adiguna. Ia tidak boleh mengecewakan wanita yang paling di sayangi calon suaminya ini.
Keluarga berunding kembali setelah putusan terakhir. Acara lamaran berlangsung lebih lama dari yang di rencanakan. Sesuai hasil rembukan ulang, acara pernikahan Nesya dan Nolan dilangsungkan dua bulan mendatang. Tanpa ada acara pertunangan mewah seperti yang di rencanakan.
...****************...
Seluruh tamu yang datang ke rumah Pak Doni kini menikmati hidangan yang sudah di siapkan. Tidak ada suasana tegang seperti tadi. Semua nampak menikmati piring masing-masing.
Nesya akhirnya bisa menelan sesendok nasi. Bukan apa, sejak tadi sore ia belum makan karena tegang. Di tambah lagi acara lamaran di bumbui debat yang menyita banyak waktu. Sekarang waktunya ia balas dendam, memenuhi piringnya dengan makanan untuk mengisi cacing perutnya yang berdemo.
Tangan seseorang seperti sengaja menyenggol lengan Nesya yang sedang duduk santai sambil menikmati makanan. Nesya jadi kesal menoleh ke arah tangan jail itu.
"Kamu Cantik," katanya samar setengah berbisik tapi mengena di di telinga Nesya.
"Tunggu Bang!" Nesya berhasil menghentikan Nolan yang kini berbalik. Nesya mengajak Nolan ke dekat jendela arah ke kolam renang.
"Apa Sayang, kamu habiskan makanan kamu dulu!"
"Maaf maaf ya, tadi Bang No bilang apa ya! telingaku agak susah nangkap," seru Nesya Karena sepengatahuannya ini pertama kalinya Nolan bilang dia cantik.
"Nggak ada siaran ulang." Nolan berucap ketus sambil melipat kedua tangan ke dada.
"Ih kok gitu sih, oke kalau nggak mau ngaku." Nesya merajuk berpura melangkah meninggalkan Nolan.
"Iya, iya. Tadi aku bilang kamu akan jadi istriku!" ucap Nolan.
Nesya mengeryitkan dahinya, "Bukan itu!" elak Nesya, kini sungguh-sungguh meraju, ia akan melangkah meninggalkan Nolan tapi urung karena lengannya sudah di tahan.
Tinggal bilang cantik aja apa susahnya sih, sia-sia dong di make up dua jam sama sis Anggi. Nesya
Nolan menahan tawa, ia jadi seneng menjahili Nesya.
"Nesya, kamu cantik. Aku laki-laki paling bahagia karena nanti akan bersama si cantik ini sepanjang hidupku." Ucap Nolan pelan tapi langsung nyes di kepala Nesya.
"Tadi sukses ya protesnya!" canda Nesya menutupi wajah malu-malunya.
"Asalkan bisa sama kamu," balas Nesya.
"Sekarang pinter gombal ya," goda Nesya.
"Aku serius sayang!"
Belum sempat membalas perkataan Nolan. Kakaknya yang nggak bisa lihat orang bahagia sedikit, merangkul dari belakang pundak Nesya.
"Jangan mojok disini, entar lagi juga sudah halal, ayo gabung di tengah," ucap Adrian.
"Iya Pak," Nolan jadi malu, ia pun menurut kata calon kakak iparnya.
Nesya menyiku perut kakaknya itu. Menganggu saja momen-momen manis bersama Nolan yang langka, meskipun hanya di pintu jendela.
...****************...
Acara lamaran selesai, keluarga Nolan mulai meninggalkan rumah Nesya satu per satu setelah sesi terkahir acara foto bersama. Nesya memang serasi dengan Nolan, keluarga besar Nolan mulai menyukai sosok Nesya yang membuat Nolanya keluarga Adiguna yang sekarang lebih sering tersenyum. Tanpa memperdulikan, asal usul Nesya seperti yang di ceritakan Pak Hendrawan.
Lambaian tangan Nesya mengiringi kepergian calon suaminya itu. Jadi nggak sabar rasanya Nesya menunggu hari H, akan bersama terus dengan Bang No si sosorable lip, membayangkan saja lututnya sudah lemas. Apalagi nanti pas beneran. Eh ....
.
.
.
.
.
.
TBC