Dear Nolan

Dear Nolan
Persiapan Bengkel Baru



Nolan kembali ke dalam kamar dengan mangkuk berisi ramen di tangannya. Ia menghampiri istrinya yang duduk di sofa. Nesya mengembangkan senyum melihat kedatangan suaminya meksipun hatinya masih risau sejak kejadian tadi.


Aroma harum dari mangkuk yang di bawah oleh suaminya berhasil menganggu indera penciumannya. Ia melihat isi mie kemasan yang di masak suaminya.


"Ayo makan, ini suamimu yang masak," Nolan menyodorkan sendok di depan Nesya. Nesya menyambar sendok yang di sodorkan suaminya.


"Enak! pedesnya pas," puji Nesya sedikit semeringah.


"Pasti. Suamimu yang masak." Giliran Nolan menyuap untuk dirinya sendiri.


"Masaknya ditambahi bumbu cinta ya," canda Nesya kembali meraih sendok dari suaminya untuk mengambil mie lagi.


Nolan tersenyum lega, sepertinya Nesyanya sudah tak sedih lagi. "Ya nggak lah Nes, pakai bumbu bungkusnya," balas Nolan.


Nesya meninju lengan suaminya. "Bilang ya aja kenapa sih buat istri senang."


"Iya, iya. Puas!" balas Nolan.


Nesya memeluk lengan suaminya. Tempat paling nyaman untuknya bersandar. Nesya mengangkat kepalanya, di tatapnya. wajah suaminya yang sedang menikmati isi mangkok di tangannya.


"Bang No," panggil Nesya.


"Hmmm ...." Nolan menoleh ke arah istrinya.


Nesya ragu ingin menanyakan apa yang menganggu pikirannya. Tapi, ia harus memastikan jawabannya sekarang juga.


"Apa benar yang dikatakan Mama kalau Bang No sebenarnya kecewa dengan keputusan aku." Nesya ragu sebenarnya menanyakan hal ini lagi .


Nolan meletakkan mangkoknya di meja. Ia meraih tangan istrinya yang ternyata masih belum move on dari masalah tadi.


"Nes, aku berusaha nepati janji aku ke kamu. Masalah aku kecewa atau nggak, biar aku yang pikiran. Aku nggak mau terlalu menekan kamu untuk masalah ini. Tapi seperti yang kamu tahu kan, mama sepertinya kurang sependapat dengan kita. Mama hanya punya dua anak, mungkin Mama juga mau lihat aku punya anak juga seperti Bang Davin. Aku akan berusaha lagi kasih pengertian ke Mama. Kamu nggak usah panik!" Nolan meraih kepala istrinya dan menyadarkan di pundaknya.


"Aku binggung sekarang harus gimana? aku jadi kecewakan Mama dan mungkin semua keluarga Abang." Nesya menintihkan air mata lagi di pelukan suaminya.


"Udah Nes, setiap orang punya caranya sendiri untuk masa depannya. Aku yakin keputusan yang kamu ambil sebelum kita menikah pasti ada alasannya dan sudah kamu pikirkan baik-baik." Saat ini yang bisa di lakukan Nolan hanya menenangkan istrinya dan memberi tempat ternyaman.


Nolan meraih mangkok mienya lagi, "Sekarang makan kita bahas lagi masalah ini nanti, setelah itu kita tidur. Seharian aku mau berduaan terus sama kamu. Besok aku sibuk!" Nolan menyuapi Nesya lagi.


Nesya pun jadi merona merah, suaminya ini ternyata bisa juga di ajak manja-manjaan. Senyum mulai mengembang di bibirnya sambil menikmati suapan - suapan cinta dari suaminya. Siang penuh drama ini berlalu dengan Nesya boci cantik dengan suaminya. Terlepas dengan apa yang terjadi, Nesya hanya ingin saat menenangkan diri di pelukan suaminya. Ia juga berpikir akan membicarakan hal ini lagi pada suaminya nanti, ia juga akan minta pendapat kedua orangtuanya. Apa salahnya merubah prinsip yang malah akan memecah belah keluarganya.


...****************...


Malam hari keluarga Adiguna sudah berkumpul di meja makan. Nesya dan Nolan juga menuruni tangga ikut bergabung dengan keluarganya. Jujur! Tadinya Nesya menolak akan makan malam bersama, tapi hal tersebut akan memancing perbincangan menginggat ia baru hitungan minggu menjadi menantu. Saat ini jantung Nesya berdegup kencang akan bertemu lagi dengan Mama Mitha.


Bukannya apa, Nesya pikir cukup Papa mertua yang bersikap dingin padanya, ternyata kini bertambah Mama mertua. Nesya hanya bisa berdoa jangan sampai mama mertua juga menyebarkan virus kebencian pada keluarga yang lain.Ia takut Mama Mertua berubah lebih seram dari tadi siang. Nesya mengeratkan genggaman tangannya pada Nolan.


Nolan memegangi tangan Nesya memberi ketenangan semuanya akan baik-baik saja


"Pengantin baru kita udah turun!" tegur Davin melihat adiknya. Yang di sebut hanya melempar senyum pada semua yang ada di meja makan.


"Nes, sini!" seru Abel, wanita cantik itu membuka kursi melihat Nesya Nolan mendekati meja makan.


"Ya Kak!" Nesya melepaskan pegangan pada Nolan menduduki kursi yang dipilih Kakak ipar. Dan sialnya kursi itu berhadapan langsung dengan Mama Mitha. Ya! Mama mertua menatapnya tajam setajam silet. Mama mertua mulai tak bisa dengan nyaman menikmati hidangan yang ada di depannya. Mama mertua rasanya ingin segera berdiri dan tak mau berhadapan dengan menantu anak bungsunya yang secantik mungkin memasang wajah senduh.


Mama Mitha berdiri dan membuat semua mata menoleh ke arahnya.


"Mama udah kenyang! Mama lagi nggak nafsu makan! Mama mau temui Arzen dulu." Mama Mitha melenggang pergi begitu saja.


Semua yang ada di meja makan nampak heran sikap Mama Mitha. Semuanya saling pandang seolah bertanya ada apakah ini? Nesya yang merasa dirinya kambing hitam cuma bisa menunduk merasa bersalah.


"Sudah ... sudah kita lanjutkan makannya, mungkin Mama kalian memang sudah kenyang," seru Pak Hendrawan.


Semuanya melanjutkan acara makan malam ini, Nesya merasa lega ternyata Mama Mitha menyimpan amarahnya sendiri tanpa melibatkan keluarga yang lain.


"No, bagaimana persiapan pembukaan bengkel baru kamu." Pak Hendrawan membuka topik pembicaraan usai yang lain selesai makan


"Alhamdulillah udah sembilan puluh sembilan persen semua sudah siap Pa," balas Nolan.


"Jam berapa besok pembukaan bengkel kamu? Biar Papa bisa siap-siap."


"Apa perlu Papa undang walikota untuk hadir sebentar di acara pembukaannya!"


Nolan menggelengkan kepala. "Nggak perlu lah Pa, cukup pejabat setempat aja pak lurah. Sudah ada juga perwakilan dari dinas pariwisata dan ekonomi kreatif. Ada juga media lokal dan media otomotif. Malah nanti bikin aku pusing kebanyakan tamu."


"Iya ya Nak, Papa akan usahakan datang tepat waktu," balas Pak Hendrawan.


"Makasih Pa!"


"Berarti besok Abang juga akan ke bengkel kamu lebih dulu sebelum ke kantor," ujar Davin.


"Ya harus! Abang investor terbesar," canda Nolan, disusul tawa bahagia keluarga.


"Semoga berkah No, target sehari harus bisa penuhi puluhan sampai ratusan juta, skincare istri mahal," celetuk Abel.


"Amiin!" balas Nolan dan Nesya bersamaan sambil tertawa renyah.


Nesya mengingat Mama Mitha, sayang Mama mertua tidak ikut dalam kebersamaan ini karena dirinya, biasanya beliau yang paling heboh mengurus event keluarga.


"Ya udah Abang mau duluan." Davin berdiri dari kursi meja makan mengandeng tangan istrinya.


"Papa juga mau ke ruang kerja dulu!" Pak Hendrawan juga ikut bangkit akan meninggalkan meja makan menyusul Davin.


Tersisalah Nesya dan Nolan yang masih di meja makan. Nolan menunggu Nesya yang masih menghabiskan sisa jus dan dessertnya.


"Sayang. Besok usahakan datang lebih awal, kamu nggak lama kan operasinya."


"IsyaAllah nggak suamiku yang Manis! Cuma beda ringan," balas Nesya memegangi kedua pipi suaminya.


"Perginya aku antar, biar sekalian pulangnya aku langsung ke bengkel."


"Oke! emang nggak kepagian?" tanya Nesya.


"Sekalian cek persiapan di sana." Nesya mengangguk mengerti perkataan suaminya.


"Ke atas yuk tidur! besok biar fit!" Nolan bangkit meraih tangan Nesya.


"Ambil jatah ya," canda Nesya berbisik ditelinga suaminya.


Nolan memandang aneh ke arah Nesya. Ia mencubit hidung Nesya. "Istriku ini agresif banget ya! Mau tidur aja Nenes, besok setelah pembukaan bengkel baru aku mau bercocok tanam sampai subuh!"


Nesya memukul lengan suaminya. "Saingan sama tukang Ronda dong!" canda Nesya.


"Udah ke atas kita tidur! Besok biar semangat." Nolan merangkul pundak Nesya mulai berjalan. Jika ia meladeni istrinya pasti tidak akan ada habisnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC.....


Mangap2 Seyeng Ei baru bisa Up. Ei nggak bagi dua chapter ini jangan eneg kalo kepanjangan, Ei lagi suka yang panjang-panjang 😳.