Dear Nolan

Dear Nolan
Lari



Nesya masuk ke kamarnya usai bercengkrama dengan keluarga Adrian. Dia merasa butuh bantal untuk bersandar sekarang meskipun matanya belum ngantuk.


Ia meraih ponsel melihat situs belanja online. Mengingat bengkel, Nesya tidak berminat lagi belanja online.Ia lebih berminat melihat social media Bengkel Nolan, ya selama ini Nesya tidak menemukan sosmed Nolan. Mungkin dengan sosmed bengkelnya, ia bisa menemukan sosmed pemilik bengkel.


Hanya sekali pencarian, yang menuliskan nama bengkelnya ‘N’Borneo Otomitif’ langsung muncul Instagram dan facebook nama terkait. Bengkel Nolan cukup terkenal di kota ini. Nesya langsung melimpir ke Instagram. Nesya mulai mejelajahi foto-foto yang sebagian besar hanya gambar mobil. Nesya tidak putus asa, ia terus mencari gambar hingga akhirnya ia menemukan akun Instagram Nolan. Tentu hatinya langsung salto kegirangan.


Nesya mulai mejelajah IG Nolan, memang tak banyak foto-fotonya sendiri layaknya selebgram. Hanya banyak fotonya aktivitas kegiatan social dan foto beberapa model hasil jepretan kamera.


Sangat humanis dan low profile


Hanya melihat foto saja membuat Nesya cukup girang, tahu aktifitas kegiatan Nolan. Hingga tanpa ia sadari waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi.


Nesya terbangun pukul delapan, terlalu cepat bangun untuk hari sabtu. Biasanya ia bisa bangun pukul sepuluh setelah sholat subuh. Tapi ia akan menjalankan misi pertamanya ia harus semangat pagi.


Nesya keluar kamar berjalan menuju dapur yang tak jauh dari kamarnya di lantai satu. Ia mengisi gelas dengan air, kebiasan tiap hari selalu minum air putih setelah bangun tidur. Rumah nampak sepi, entah kemana keluarga Kakaknya hanya ada ART yang memasak.


Terdengar suara bel dari ruang tamu.


“Saya buka pintu dulu Mbak, sepertinya tukang roti sudah datang.” Kata Mbak ART.


“Lanjutkan pekerjaan kamu, biar Nesya yang buka,” Nesya meraih kerudung dan memakainya asal. Biarpun Nesya mantan cewek bar bar Nesya tetep istiqomah menutup aurotnya.


Ceklek. Nesya membuka pintu.


“Assalamualaikum, Pak Adrian Ada?”


Nesya tentu sangat mengenal Abang ganteng di balik pintu.


"ALLAHUAKBAR!" teriak Nesya. Dengan spontan Nesya menutup pintu lagi dan berlari.


"Mbak bukain pintu!" teriak Nesya pada Mbak Tini si ART.


Nesya masuk ke dalam kamarnya dan memegangi dadanya yang berdebar-debar. Ini sungguhan kan. Ini bukan halusinasi, Bang Nolan bukan tukang roti. Bang Nolan bertamu ke rumah kakaknya.


"Tidak!" teriak Nesya melihat bayangan di kaca.


Nolan melihat dia dengan kondisi seperti ini. Baru bangun tidur, belum gosok gigi, bisa juga ada belek atau iler yang masih nempel. Kerudung acak-acakan lagi, di tambah piama tidurnya bermotif doraemon. Sangat nggak elegan sama sekali.


Nesya rasanya ingin pergi ke mars saja sekarang atau ke Pluto sekalian planet yang sudah dibuang dari tata Surya.


Nesya keluar kamar dengan tunik warna pink dengan rok plisket warna mocca lengkap dengan kerudung pashmina warna pink juga. Ia berjalan sangat percaya diri seperti di catwalk.


Ia celingak-celinguk melihat seseorang di ruang tamu. Tapi nampak hanya kakaknya saja yang sibuk dengan tumpukan kertas.


"Kakak!" Nesya mengagetkan Adrian.


"Nesya bikin kaget aja, kamu kaya Jaelani!" seru Adrian.


"Nesya nih Nesya, btw siapa Jaelani." tanya Nesya.


"Temen kamu, yang datang gak dijemput pulang gak diantar." Adrian menonyor kepala Nesya.


"Kakak serius coba! mana tadi orang yang cari kakak?" tanya Nesya.


"Hah. Nolan maksudnya? kamu kenal," jawab Adrian.


"Ya kak, iya?"


"Udah pulang! baru aja." Adrian menunjuk ke arah pintu.


Bruk. Nesya langsung mendadak lemas. sia-sia ia tampil maksimal. Tapi tenang masih ada misi ke bengkel. Gumamnya dalam hati menyemangati dirinya sendiri.


.


.


.


.


.


.


Next.....