
Sore hari Nolan sudah di tempat parkir rumah sakit. Ia menunggu Nesya keluar dari lobby. Matanya masih terfokus ke lobby. Padahal Nesya sudah bilang akan keluar setengah jam lagi.
Perasaan Nolan yang menjadi aneh sejak pagi, semakin bertambah kesal melihat Nesya yang keluar dari lobby dengan seorang laki-laki yang tak asing. Itu dokter Rakha yang di ceritakan Nesya.
Nolan mencoba sabar dan berpikir positif mungkin mereka berdua membahas pekerjaan. Tapi Nolan tidak bisa tinggal diam, melihat lengan Nesya yang di tarik laki-laki itu. Nolan turun dari mobil dan segera menghampiri keduanya.
Nolan menarik lengan Nesya yang ditarik seorang laki-laki itu. Nesya begitu terkejut melihat Nolan yang tiba-tiba muncul. Pasti Nolan salah paham. Ia jadi seram sendiri melihat raut wajah Nolan yang mendadak seram, terlebih lagi tadi pagi ia sudah melihat suasana hati Nolan yang buruk.
"Maaf, tolong jangan tarik-tarik tangan Nesya." Nolan melihat dengan geram lelaki di depannya.
"Iya Mas, tenang aja tadi cuma becanda aja sama Nesya."
"Bukan seperti itu cara becanda ...."
"Bang No, ayo kita pulang," Nesya menarik lengan Nolan memotong ucapannya. Ia juga seram sendiri melihat Nolan.
"Dokter Rakha kita pulang dulu ...." Nesya mengangguk dan berjalan mengajak Nolan menuju mobil, ia harus segera dijauhkan dari dokter Rakha.
Nolan malajukan kendaraannya menjauhi rumah sakit.
"Dia sering pegang - pegang tangan kamu!" kata Nolan dengan keras.
"Kadang, tapi maksudnya bercanda kok." Nesya berkata apa adanya tak berani bercanda saat ini. Begini banget orang lagi cemburu.
"Harusnya tadi aku hajar aja, biar dia nggak ganggu kamu lagi."
"Dokter Rakha memang nyebelin, tapi jangan segitunya juga Bang, kan cuma bercanda."
"Kenapa kamu nggak tepis, kenapa kamu malah mau aja di pegang-pegang untuk bahan candaan!"
Nesya mengeryitkan dahinya kali ini ia sedikit tersinggung dengan ucapan Nolan.
"Jadi Bang No pikir aku cewek yang gampang di pegang sembarangan sama cowok!"
Nolan hanya diam.
"Apa karena aku nggak nolak dicium di kening sama Bang No, sekarang Bang No pikir aku juga bisa di pegang dengan sembarang laki-laki!" Nesya juga meninggikan nada suaranya. "Pinggirkan mobilnya!" Ucapnya lagi.
"Untuk apa?" Kata Nolan dengan Nada tinggi.
"Aku mau turun! aku mau pulang sendiri."
"Nggak akan! Kamu pergi sama aku kamu juga harus pulang sama aku!"
Suasana kembali hening, Nesya lebih memilih membuang wajahnya kearah jendela. Nesya tahu Nolan marah, tapi kalau Nolan menunduh seperti itu Nesya juga ingin marah. Meskipun ia tidak tahu sampai berapa lama bisa tahan menutup mulutnya yang cerewet.
"Aku nggak suka di tuduh kayak gitu," ucap Nesya.
"Aku tahu Nes, aku hanya emosi. Aku nggak suka ada laki-laki lain yang memegang kamu kayak tadi." Tutur Nolan.
"Ya aku tahu, tapi dokter Rakha hanya bercanda."
"Lain kali! kalau bercanda bisa kan hindari kontak fisik!" ucap Nolan.
"Kalau refleks, pasti tidak ada unsur kesengajaan." Nesya masih bisa berkilah.
"Nesya!" kata Nolan penuh penekanan.
"Iya! iya, sekarang senyum jangan marah lagi, baru aku juga nurut." Nesya memberanikan diri menyentuh singkat dagu Nolan.
Nolan menarik bibirnya. Suasana kembali normal hingga mobil berhenti di depan rumah Adrian.
Nesya menepuk jidatnya. "Oh aku lupa! bunda suruh pulang ke rumah! Kita mau makan malam diluar."
"Ya udah aku antar pulang!"
"Nggak usah Bang No, aku suruh sopir bunda jemput aku di sini aja! Aku mau turun dulu." Nesya bersiap membuka pintu
"Ya!"
"Salam buat Kak Abel kalau besok di ibukota." Nolan mengangguk, Nesya melambaikan tangan setelah mobil kembali berjalan.
.
.
.
.
.
.
TBC
untung adem lagi 😌😌😌
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote dear 😘😘😘