Dear Nolan

Dear Nolan
Dimana?



Nesya masih masuk kembali ke ruang operasi. Tangannya membantu Dokter Rakha memberi tindakan pada pasien kecelakaan, tapi hatinya tetap saja tidak tenang. Pikiran melayang jauh, apa nanti suaminya akan mengerti keadaannya dan mau mengerti.


"Nesya, bantu jahit!" seru Dokter Rakha.


Nesya terbangun dari lamunannya. "Iya dokter!"


Ia segera mengambil pelengkap menjahit bekas bedah pada pasien. Ia mengambil kesimpulan kalau pasien beda yang mulai di tutup dengan jahitan, itu artinya sebentar lagi operasi akan selesai. Nesya sedikit bernafas lega, meskipun sudah terlambat tapi setidaknya dia masih memburu waktu untuk menemani pembukaan bengkel suaminya.


Nesya mencoba bersikap tenang, ia mulai berkonsentrasi pada apa yang akan ia lakukan sesuai arahan dokter Rakha. Berharap setelah ini, ia sudah bisa bertemu dengan suaminya.


...****************...


Sementara di ruko, acara semakin menuju acara inti. Tumpeng sudah di letakkan di depan podium. Nolan masih melihat ke kiri ke kanan berharap Nesya segera datang. Pasti seru kan potong tumpeng bersama sang Istri. Ia ingin memberi potongan tumpeng pertama untuk Nesya. Sepertinya harapan tak terwujud, sampai MC memanggil namanya pun untuk pemotongan tumpeng, istrinya masih juga belum memunculkan bayangannya.


Pak Hendrawan menyenggol putranya yang lebih sering melamun lebih diam sejak pagi, padahal ini adalah hari yang ditunggunya.


"Nak, potonglah dulu tumpengnya. Pak kepala dinas dan Kapolsek sudah menunggu di depan." Pak Hendrawan berdiri terlebih dahulu.


"Ya ... Pa, tapi Nesya ...." Nolan masih berharap Nesya yang akan menemaninya.


"Sudahlah Nak, Beliau - beliau itu orang sibuk. Kamu pikir bapak kepala dinas punya banyak waktu hanya untuk nunggu istri kamu yang nggak jelas batang hidungnya." Pak Hendrawan sedikit kesal.


Nolan dengan langkah berat berdiri ke podium untuk memotong tumpeng pertama. Menunda acara pun hal yang tidak mungkin. Pak Hendrawan mendampingi putranya untuk acara ini. Ia memotong dengan sedikit rasa kecewa, dalama bayangan ia akan memberi potongan pertama pada Nesya. Tempat ini dan Nesya adalah masa depannya. Ia ingin mulai yang pertama kali mencoba merasakan secuil kebahagiaan ini dengan istri tercinta. Lagi-lagi harapannya tak sesuai realita.


"Oke ... Potongan pertama akan diberi kepada siapa Bos!" seru MC kocak yang di pilih EO.


Nolan masih memperhatikan pintu, berharap ada seseorang muncul dari balik sana.


"Untuk wanita yang paling berarti dalam hidup saya. Yang selalu ada dan mendukung saya sampai bisa seperti ini," ucap Nolan.


"Oke Bos, panggil wanita luar biasa itu." Seru MC pria itu.


"Ibu saya tercinta, Mama Mitha Adiguna." Bagi Nolan saat ini hanya Mama tercintalah yang selalu ada untuknya. Ia tak banyak berharap lagi Nesya datang atau tidak.


Mama Mitha berdiri menuju podium, ia mencium pipi kanan dan kiri putranya. Mama Mitha tahu Nolan kecewa tidak ada istri yang mendampinginya.


Mama Mitha mengambil potongan pertama. Diiriingin tepukam tangan para tamu yang hadir.


"Terima kasih Nak, semoga usaha yang sudah rintis sukses dan maju kedepannya."


"Amiin Ma, doa Mama akan selalu di dengar sama Allah." Nolan memeluk Mama tercinta.


"Manis ya saudara-saudara, ingat yang disini, berbaktikah pada Mama, biar bisa sukses seperti bos ganteng kita nanti buka cabang lagi di mana-mana." MC mencoba mencairkan suasana. "Betewe, pak Kapolsek udah dapat, pak kepala dinas juga, Ayang Beb mana Bos!" lanjut si MC.


Tamu undangan mulai berbisik-bisik tentangga mulai menyadari dimana keberadaan istri Nolan. Bukankah mereka berdua masih anget-angetnya berstatus pengantin baru. Orang-orang saja masih susah Move on dengan pesta pernikahan megahnya.


Nolan malah sedikit kesal dengan nada bicara MC meskipun hanya candaan. Mama Mitha langsung menahan tangan Nolan mencoba membuatnya tenang di tengah orang ramai. Nolan kembali meredam emosinya. Ia hanya mencoba berpikir positif, ada keadaan darurat di rumah sakit yang mengharuskan istrinya belum bisa pulang.


Acara masih berlanjut. Acara terakhir setelah pembacaan doa oleh ustadz adalah acara pemotongan pipa untuk pembukaan operasional bengkel.


Nolan melihat ponselnya lebih sering. Tidak ada tanda-tanda juga istrinya menelpon atau membalas pesannya. Semua sudah turun berdiri di bawah tenda lengkung untuk menyaksikan pemotongan pita dan ratusan balon ke udara.


Nolan dengan berat hati mengambil gunting di atas nampan yang dibawa SPG seksi dari distributor oli. Bahkan sampai acara terakhir pun Nesya juga masih belum muncul. Semuanya di luar dugaannya. Untung ada Mama Mitha yang selalu mendampinginya mencoba membuatnya tetap tenang merendam emosinya.


Nolan bersamaan memotong pita dengan bapak kepala dinas pariwisata dan ekonomi kreatif. Resmilah bengkel Nolan beroperasi dan sudah tercatat dengan dinas-dinas terkait.


Acara pun di tutup dengan makan bersama di lantai dua bakal cafenya. Belum lama juga resmi di buka, mobil - mobil sudah berjajar memenuhi halaman ruko untuk mengantri melakukan servis yang memberi banyak diskon.


Keluarga Nolan berkumpul menikmati hidangan yang disediakan. Sedangkan keluarga Besannya sudah meminta maaf terlebih dahulu merasa sungkan atas ketidak hadiran Nesya dan berpamitan pulang.


"Nesya keterlaluan No," ucap Pak Hendrawan sedikit kesal sambil menyuap sendok ke mulutnya.


"Mungkin dia ada keadaan mendesak di rumah sakit Pa, Nesya masih koas. Dia nggak bisa bertindak seenaknya." Nolan berusaha menjaga nama baik istrinya meskipun sebenarnya ia juga kecewa semua diluar ekspektasinya.


"Mama setuju sama Papa, harusnya kalau tahu ada acara suaminya dia kan bisa libur dulu!" seru Mama Mitha.


"Ma, sudahlah yang penting acara pembukaan sudah berjalan dengan lancar. Aku mohon semua memaklumi keadaan Nesya."


"Ya Ma, Nolan benar. Kita doakan saja sekarang bengkel baru Nolan bisa sukses ke depannya," ucap Davin berusaha menengahi.


Pembicara rentang Nesya pun di alihkan Davin membahas yang lain demi menjaga perasaan adiknya.


...****************...


Nesya sudah melakukan tugasnya, detak jantung pasien pada monitor sering mengalami naik turun. Nesya harus melakukan tugasnya dengan perlahan. Ia buru-buru ke ruang ganti setelah pasien di masukkan ke dalam ruang ICU untuk pemulihan pasca operasi.


Ia melihat jam tangannya, ia sudah benar-benar terlambat. Ia hampir dua jam lebih berada dalam ruangan operasi. Ia merasa sedih tidak bisa menemani suaminya dalam acara penting ini. Ia di hadapan pilihan yang sulit dan tak ada yang bisa ia pilih. Ia jadi merasa bersalah dan membayangkan bagaimana suaminya tanpa dirinya. Entah apa nanti tanggapan suami dan keluarganya. Nesya hanya bisa pasrah. Ia meraih ponselnya, baterainya pun hampir habis, lengkap sudah kekacauannya hari ini.


Mungkin baterai low karena banyaknya panggilan dan pesan yang masuk menanyakan hal yang sama dari banyak orang.


Dengan gemetar, Nesya hanya membalas pesan suaminya sebelum baterai ponselnya habis.


Nesya


Abang Maaf maaf maaf ribuan kali aku Mau minta maaf🙏🙏🙏


ada pasien kecelakaan parah yang harus mendapatkan pertolongan. Dan dokter bedah yang kebetulan ada hanya dokter Rakha. Aku pasti harus menemani dokter Rakha di ruang operasi.


Nesya bernafas lega, setelah mengirim pesan, ponselnya mati. Yang harus ia lakukan sekarang hanya secepat mungkin sampai di bengkel dan menjelaskan pada suaminya kronologi kejadiannya.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


Ei jadi deg degan sendiri sama kelanjutannya 😬😬