Dear Nolan

Dear Nolan
Kembali



Sebelum menuju teras, Nesya melihat bayangan dirinya di cermin ruang tamu. Jangan ditanya lagi, keadaan Nesya sangat mengenaskan untuk bertemu seorang kekasih. Wajah polos tanpa make up, empat jerawatnya yang mecongkol dekat dahi dan terakhir ia hanya mengunakan piyama tidur panjang motif doraemon yang kembaran dengan Alien. Tak lupa kerudung slem rumahan yang biasa ia pakai untuk menyiram tanaman.


Tak seperti biasanya, Nesya masih melaju melangkah menuju teras. Ia tak peduli dengan tampilannya sekarang. Ia hanya ingin masalahnya dengan Nolan selesai.


"Nes," sapa Nolan langsung berdiri melihat Nesya.


"Duduk, ada apa kesini," tanya Nesya ketus ia ikut duduk di kursi teras yang terhalang meja di tengah kursi keduanya.


"Aku mau bicara sama kamu disini sesuai keinginan kamu," ucap Nolan.


"Ya terpaksa, ya udah ngomong!" balas Nesya ketus.


Nolan mencoba menenangkan hatinya menghadapi sikap Nesya yang dingin.


"Nes, aku nggak tahu kamu kenapa? aku juga nggak tahu apa alasan kamu menghindar dari aku. Setidaknya kita bisa kan saling bicara, aku akan memperbaiki semuanya jika memang aku salah."


"Ya memang Bang No yang salah," jawab Nesya ketus.


"Salah aku apa Nes, aku pikir kita sudah saling terikat satu sama lain saling mengerti dan memahami sikap masing-masing. Makanya aku dulu minta kita saling mengenal dulu satu sama lain. Tapi aku salah kan, hanya aku yang merasa terikat sama kamu. Kamu menyerah begitu aja dengan hubungan kita."


"Bang No yang buat aku nyerah!"


"Ya. Apa alasan kamu nyerah Nes, aku harus tahu."


"Bang No nggak bisa move on dari Kak Abel!" jawab Nesya dengan nada keras.


"Nggak bisa move on? astaghfirullahaladzim."


"Bang No sadar nggak sih, semenjak pulang dari Ibukota bang No jadi aneh tau nggak! Bang No cuekin aku, inget kan!"


"Ya ampun Nes, cuma karena itu kamu anggap aku nggak bisa move on dari Abel." tanya Nolan.


"Ya, salah satunya itu!" jawab Nesya


"Nes, Saat pulang dari Ibukota apa salah kalau aku panik saat kamu datang ke bengkel nemui aku. Aku mendadak ada perasaan takut kehilangan kamu! Aku kangen sama kamu! aku hanya nggak mau lewati batas, memeluk dan khilaf melakukan hal lain karena rasa kangen aku sama kamu, makanya aku suruh kamu ke atas nunggu aku sebentar untuk aku bisa nenangin diri."


Nesya mendadak jadi merona malu mendengar penuturan Nolan. Tapi bukan itu saja inti masalah.


"Tapi ada masalah lain! Aku nemu foto kak di komputer Bang No, dan tahu apa nama folder My Angel, kata yang sering Bang No bilang di depan aku. Apa salah aku marah, aku merasa seperti perlarian Bang No dari gagal Move on dari Kak Abel." Nesya masih bicara dengan nada keras.


"Ya Ampun, jadi folder itu. Aku memang suka pake nama Angel untuk objek foto. Sebenarnya folder itu udah aku hapus dan aku restore lagi. Abang aku yang minta foto istrinya sebelum menikah yang sempat aku simpan. Sebelum aku ke Ibukota, aku copy dulu untuk aku kasihkan ke Bang Davin. Biar dia bisa lihat foto istrinya. Waktu aku pulang, aku belum sempat hapus folder itu karena sibuk mikirin lomba dan sikap kamu yang aneh."


Nesya masih belum puas dengan penjelasan Nolan.


"Kalau kamu nggak percaya, aku telepon Bang Davin sekarang, kamu sendiri yang ngomong sama dia, apa ucapan aku ini bohong atau nggak!" ucap Nolan lagi dengan nada sedikit tinggi.


Nesya memandang ke arah Nolan, kali ini tidak alasan lagi untuk tidak mempercayai Nolan. Ia jadi sedikit tenang sekarang.


"Ya, kali ini aku percaya." kata Nesya masih ketus.


Nolan mendekati Nesya, ia berlutut di depannya memegangi kedua tangan Nesya.


"Nes, kalau aku boleh jujur. aku memang pernah cinta sama Abel. Aku juga hampir putus asa karena masih terus di bayang-bayangin Abel setiap waktu meskipun dia sudah jadi kakak ipar aku. Aku sampai nggak tahu lagi cara apa yang harus aku lakukan untuk menyudahi perasaan terlarangku itu."


Nesya jadi terbawa suasana dan melunakkan wajahnya. Sepertinya dia akan meluluh malam ini. Ia masih jadi pendengar yang baik untuk pria yang berlutut di depannya.


"Tapi semuanya berubah, aku seperti menemukan titik terang di tengah jalan buntu setelah kamu hadir dalam hidup aku Nes. Kamu unik, kamu beda, kamu memberi warna indah untuk hidupku yang gelap. Perasaan aku sama Abel perlahan hilang, karena hari - hari aku hanya mau memikirkan kamu, aku hanya mau membayangkan saat bisa sama kamu."


Tiba-tiba bulir air halus keluar dari mata Nesya.


"Ih ... Debu sialan, bikin orang kelilipan." Nesya menepis matanya, lagi-lagi ia merusak suasana dengan beralasan menutupi air mata harunya. Tapi Nolan tidak terpengaruh ia kembali meraih tangan Nesya karena maksudnya belum terselesaikan.


"Nes aku cuma mau kamu percaya, aku cinta sama kamu dan cuma kamu yang mau aku cinta, tolong jangan tinggalin aku Nes. Aku nggak sanggup kalau sampai itu terjadi." Nolan Mengungkapkan perasaan dengan sungguh.


Nesya ibarat Es yang sedang mencair. Kali ini dia benar-benar meleleh. Ia tidak ada alasan lagi untuk marah, malah ia harus guling-guling sekarang berhasil membuat Bang Nolan cinta dan mengungkapkan cinta padanya.


Bucin beneran kan sama aku


"Ya Bang No, ingat kepercayaan itu penting. kali ini aku percaya. Karena aku juga cinta sama Bang No," balas Nesya ikut mengungkap perasaannya lagi secara terang-terangan kali ini.


"Syukur kalau begitu, berarti kesalahan pahaman kita sudah di luruskan ya sekarang, kamu nggak marah lagi kan sama aku," Nolan berucap lega dan bangkit kembali ke kursinya.


Nesya melipat kedua tangannya di dada, "Siapa yang bilang, aku masih marah."


Nolan mengacak rambutnya kesal. "Kamu marah kenapa lagi Nes."


"Kenapa Bang No nggak bilang kalo suka fotografi."


"Kamu kan nggak nanya Nes," jawab Nolan.


"Ya, tapi aku mau di foto juga kayak model yang cantik.Terus Bang No harus hapus semua foto Kak Abel tanpa tersisa satu pun."


"Itu pasti Nes, kalau perlu foto yang ada didinding ruangan aku, aku ganti foto kamu semua," jawab Nolan.


"Itu nggak perlu nanti ruangan bang No, di datangi banyak semut karena dindingnya manis." Nesya menyempatkan sedikit bercanda.


Nolan mulai bisa terkekeh mendengar jawaban Nesya. Ia mulai bernafas lega, Nesyanya sudah kembali seperti Nesya yang biasanya.


"Satu lagi," Nesya menatap Nolan. "Jangan panggil lagi Aku My Angel, aku trauma sama sebutan itu." Nesya menyambung kalimatnya.


"Ya Nes, aku janji nggak akan sebut itu lagi." Balas Nolan.


"Jadi Bang No, udah pikiran panggilan sayang yang baru untuk aku," tanya Nesya.


"Apa ya, panggil Nesya aja lah kayak biasanya." Jawab Nolan enteng.


Nesya meraih batu kecil diatas vas bunga, melemparnya ke arah Nolan. " Bang No, romantis dikit bisa nggak sih. Panggil aku sayang atau julietku, my sweety, my honey, ayang beb atau apa gitu."


"Aku agak aneh Nes panggil-panggil begitu, yang penting kan hati aku sayang kamu Nes, nggak perlu lah pakai panggilan - panggilan begitu."


"Aku maunya pakai," Nesya cemberut lagi kali ini bersikap manja.


"Ya iya, nanti aku pikirkan sambil jalan."


Panggil sayang aja pake mikir dulu di jalan, bang No ini gumus deh pengen aku gigit.


"Ya udah Nes, aku balik dulu udah malam. Aku lega sekarang, semuanya bisa terluruskan." Nolan bangkit dari duduknya.


"Ya bang," Nesya tersenyum manis. Kini ia mengantarkan Nolan ke halaman rumahnya.


"Akhirnya sampai rumah aku bisa makan dan tidur tenang Nes," kata Nolan.


"Bang No belum makan? awas sakit loh telat makan." Nesya panik mendengar No mogok makan.


"Kan ada kamu Nes, dokter cintanya," jawab Nolan keluar begitu saja.


"Idih gombalanmu receh banget bro," canda Nesya menepuk pundak Nolan.


Nolan hanya tersenyum senang, kali ini Nesya sudah kembali ke wujud asal. Ia juga bisa melihat wajah Nesya yang polos tapi tetap cantik alami meskipun terlihat sedikit pucat.


Nesya melambaikan tangannya ketika motor Nolan perlahan meninggalkan rumah. Nesya masuk ke dalam rumah dengan perasaan berbeda kali ini senyum terus terukir di bibirnya.


.


.


.


.


.


.


TBC..


...----------------...


Thor : blo ... blo ... jomblo ...


blo : hadir Thor, kenapa panggil-panggil


Thor : Kuatkan ginjal dan jantungku habis baca Bang No...


Blo : Ia Thor ini juga gue ngumpet di pojokan nggak kuat bacanya.


Thor : 😂😂😂😂


Bio : Gini Amat ya nasib gue,


Thor : Derita elu blo..


...----------------...


Ei udah Up 2 episode panjang Zen, yang belum vote sungguh terleleh kau Jamal ....