
Nesya masih diam di tempat tanpa kata. Nesya sadar dia bukan wanita berwajah sangat cantik yang bisa meluluhkan semua pria. Ia juga sadar bukan wanita berhijab yang se Sholehah istri yang memancarkan aura-aura surga.
Tapi selama ini memamg banyak lelaki yang mengerjakannya. Ternyata itu tidak berlaku untuk Nolan. Nesya saja yang merasa sangat percaya diri dan beranggapan Nolan juga punya perasaan yang sama sepertinya.
Sehingga dengan mudahnya ia mengungkap perasaannya secara gamblang. Tapi kenyataannya di di tolak.
"Hahaha, Bang No nggak usah gubris omongan aku, sepertinya aku salah makan deh," ucap Nesya dengan tawa lebar menyembunyikan hatinya yang porak poranda.
"Nesya kamu nggak apa-apa kan?" tanya Nolan malah merasa cemas.
"Santai Bang No, emang aku kenapa. Aku mau pulang dulu. Ada praktek." Nesya akan melangkah.
"Nesya, aku antar ke depan," ujar Nolan.
"Nggak perlu Bang No, pintunya masih sebelah sana kan. Aku bisa keluar sendiri." Nesya menepuk lengan Nolan dan melenggang pergi.
Nolan memang sudah memupuskan harapannya dan memporak-porandakan hatinya. Neysa sadar ini tak sepenuhnya salah Nolan. Nesya saja yang terlalu percaya diri dan tak bisa menahan diri terburu-buru menyatakan cinta. Tapi ia berusaha berdiri tegap karena Nesya udah berjanji tidak akan menangis hanya karena laki-laki.
"Ini kuncinya Mbak," montir menghampiri Neysa yang keluar dari ruangan Nolan.
Nesya langsung menyambar saja kunci mobilnya dengan wajah judes tanpa bergobrol santai dengan sang Montir seperti biasanya.
Montir mengejar Nesya yang terlihat tidak seperti biasa. "Mbaknya sakit, bahaya kalau nyetir."
"Tanya Bos kamu!" jawab Nesya langsung masuk ke mobil.
Si montir hanya bisa mengaruk kepalanya binggung. Nesya pun langsung menghilang tanpa jejak dari bengkel.
Di dalam hal ini, Nesya lebih jauh merasa malu dibandingkan sakit hati. Dia terus memaki dirinya sendiri dan bertanya-tanya. Kenapa hari ini senekat itu? pertama kalinya dalam hidupnya ia mengungkapkan perasaan dan langsing di tolak pula. Apa nanti penilaian Nolan tentang dirinya. Nesya memukul setir lagi mengingat bagaimana Bang Nolan menolaknya secara harus tapi mengena. Neysa tidak menangis seperti kebanyakan orang pada umumnya ketika di tolak. Meskipun hatinya porak poranda dunia masih berlanjut kan. Nesya rasanya ingin menghilang ke mars sementara meskipun berat.
Nesya bukan tipe orang yang mudah melupakan apalagi menyerah. Tapi setidaknya ia harus menunggu sampai rasa malunya hilang secara perlahan.
"Siang Nesya...," sapa dokter Rakha yang sengaja menunggu Nesya keluar mobil.
"Siang Dokter, maaf saya permisi sudah terlambat." Nesya langsung melangkah, tak ingin hari buruknya semakin bertambah jika bertemu dengan dokter itu.
...****************...
Di tempat yang berbeda Nolan mengusap kepalanya pusing. Ia masih di ruangan yang sama ketika bersama Neysa. Ia masih berusaha memahami keadaan beberapa waktu lalu, bagaimana bisa ada perempuan yang mengungkap perasaannya. Meskipun di ujung kata dia hanya bercanda tapi kenapa itu terlihat tulus?
Selama ini banyak perempuan yang kagum padanya tapi jangankan mengungkapkan perasaan, bicara saja mereka sudah takut. Tapi Nesya? bagaimana bisa dia? Nolan terus mencari jawaban atas pertanyaan. Ia berharap apa yang dilakukan memang tidak mempengaruhi apa-apa? Entah mengapa juga ia tidak bisa berbicara kasar pada Nesya.
Nesya adalah adik dari dosen pembimbingnya dan teman masa kecil. Nolan tidak menampik Nesya memang cantik, ceria dan lucu. Nolan rasa perasaan selama ini hanya rasa kagum. Tapi untuk jatuh cinta lagi apakah ia siap? sampai sekarang bayangan Abel masih saja menghantui meskipun jujur akhir-akhir ini ia lebih memikirkan Nesya.
Nolan menghembus nafasnya kasar. Semoga semuanya kembali normal setelah kejadian tadi. Tak ia pungkiri kehadiran Neysa membuatnya menemukan warna baru meskipun hanya beberapa kali saja mereka bertemu.
.
.
.
.
Next...
Galau sendiri kan๐ค
jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote ๐