
Di dalam mobil Nolan memukuli kepalanya, apa yang di lakukannya. Harusnya dia bisa menahan diri, minimal meminta izin dulu pada Nesya kalau memang ingin mencium meskipun itu hanya di kening. Entah gimana Sekarang pikiran Nesya tentang dirinya. Hari ini Nolan memang begitu bahagia pergi berkencan dengan Nesya. Meskipun itu tanpa terencana.
Apakah salah dia luapkan rasa senangnya dengan mencium kening Nesya tiba-tiba. Ini juga pertama kalinya ia mencium wanita dari hati. Pikiran tidak tenang sekarang. Sesampai di rumah dia akan menelepon Nesya dan mencoba memastikan keadaannya.
Nolan sudah tiba di depan rumahnya. Ia segera berlari ingin segera ke kamar menghubungi Nesya.
"No," suara Pak Hendrawan yang membuat Nolan batal menaiki tangga.
"Apa Pa," jawab Nolan.
"Papa mau bicara sebentar," ucap Pak Hendrawan lagi. Nolan mengikuti langkah Pak Hendrawan ke ruang keluarga. Keduanya duduk dengan santai di sofa ruangan keluarga.
"Jadi Papa ada janji makan malam dengan sahabat Papa, dia mantan pejabat tapi sebenarnya dia pengusaha batubara. Dulu waktu Davin belum menikah, pasti Papa ajak Davin. Tapi sekarang anak laki-laki Papa cuma kamu,"
"Jadi, maksud papa apa?" tanya Nolan.
"Papa mau kamu ikut menemani Papa, kebetulan sahabat Papa punya anak perempuan cantik. Jadi Papa nggak enak hati kalau Papa tidak bersama anak Papa. Papa lihat kondisi kamu juga sudah mulai membaik sekarang, akhir akhir ini papa perhatikan kamu terlihat lebih tenang. Selain itu, kamu juga anak Hendrawan Adiguna yang tidak kalah tampan dengan Davin." Pak Hendrawan menepuk-nepuk pundak putranya.
Ya! Pak Hendrawan mengawasi Nolan memang sudah banyak berubah akhir-akhir ini. Ia lebih tenang dan berbicara sedikit halus pada pelayan rumahnya.
"Maaf Pa akhir-akhir ini aku sibuk mengurus lomba untuk mobil aku, jadi aku nggak bisa ikut Papa! lagi pula aku tidak terlalu suka bertemu orang-orang baru." seru Nolan lagi.
"No. sudah papa bilang, kalau kamu butuh mobil sport harga berapa miliar tinggal bilang ke papa. Kamu tidak perlu repot-repot mengikuti kontes memodifikasi mobil." Pak Hendrawan berusaha membujuk.
"Pa, ini bukan masalah mobilnya, tapi ini masalah kreatif dan pembuktian diri. Jadi maaf Pak, aku tidak tertarik atau berminat dengan mobil sport yang papa maksud." Nolan memberi penegasan.
"No, Papa tidak pernah meminta sesuatu apapun darimu karena Davin. Davin selalu memenuhi keinginan papa agar papa tidak mengusik hidupmu. Sekarang kau sudah sepenuhnya pulih, tidak bisakah kau berbakti pada Papamu yang rentah ini sedikit saja!" tegas Pak Hendrawan.
"Ya ... Pa iya, hanya menemani Papa tidak lebih!" seru Nolan tak bisa melihat wajah Papanya yang memelas.
"Ya Nak iya, ini baru putraku." Pak Hendrawan menepuk lagi pundak Nolan.
"Boleh aku ke kamar sekarang," ucap Nolan.
"Tentu Nak istirahatlah, kau pasti lelah kan," balas Pak Hendrawan.
Nolan pun bangkit dari sofa dan segera menaiki tangga menuju kamarnya.
******
Ditempat yang berbeda Nesya masih syok di balik pintu kamarnya mengingat kejadian yang menimpanya beberapa jam lalu. Jantungnya masih berdebar kencang, dan jiwanya seperti sedang beterbangan. Ia mengosok-gosok keningnya merasa senang dan binggung. Harusnya tadi ia bisa mengelak meksipun itu hanya ciuman di kening. Ya, untuk mempertahankan sikap jual mahalnya. Lagi pula hubungannya dengan Nolan masih abu-abu. Tapi Nesya terlalu lemah untuk bibir sosor-able Bang Nolan yang tiba-tiba menyentuh jidatnya.
Apalagi di tempat yang lain ya bisa melayang aku, istighfar Nesya!
Nesya mulai berjalan mondar-mandir, ia harus mencari siasat untuk tidak membenarkan apa yang dilakukan Nolan padanya. Kali ini ia tak boleh lemah, ia harus menemukan alibi yang yang tepat untuk menolak perbuatan Bang Nolan padanya.
Nesya berpikir sebaiknya ia sholat isya dulu dan berpikir sambil rebahan. Tempat yang paling tepat untuk berpikir adalah kasur.
Beberapa menit merebahkan diri di kasur, ponsel Nesya berdering ada panggilan yang masuk. Nesya melihat nama yang terpampang di layar ponselnya.
Montir hatiku
Calling ....
Belum juga sempat berpikir, orang yang mau di pikirkan sudah nelpon. Nesya bimbang sekarang, lebih baik dia angkat saja untuk meminimalisir kecurigaan Bang Nolan.
"Halo, Nes ...."
"Ya ...."
"Aku mau minta maaf soal tadi, Maaf ya Nes aku khilaf. Aku nggak seharusnya cium kamu tiba-tiba."
tuh kan aku jadi lemah gini...
"Kamu nggak marah kan Nes sama aku."
Marah! Mana bisa aku marah Bang No ...
"Tergantung, asal Bang No nggak ulangi lagi nyerang tiba-tiba."
"Pasti Nes. Aku janji, aku terlalu senang tadi bisa jalan sama kamu."
"Iya udah, beres kan masalah tadi."
"Iya, Pak Adrian ngancam aku waktu lihat kamu jadi aneh. Aku jadi cemas kepikiran terus sepanjang jalan sampai sekarang."
"Kak Adrian memang gitu, nggak bisa lihat aku jadi aneh dikit."
"Aku bisa tidur nyenyak nanti malam kalau kami nggak marah."
"Jadi nelpon aku cuma bahas masalah tadi!"
"Nggak juga, pengen denger suara kamu juga bikin ngangenin."
"Gombalanmu nggak mempan bro," ucap Nesya yang sebenarnya tersipu.
"Nes. Aku Serius!"
"I-ya ... udah malam nggak tidur,"
"Kamu udah ngantuk ya, maaf ya aku nganggu kamu."
"Ya agak ngantuk sih, tapi kalau masih ada yang mau diomongkan aku tungguin."
"Kita tidur aja ya Nes, aku pengen cepat pagi, supaya cepat ketemu kamu lagi antar kamu ke RS."
Bucin bucin deh sama aku.
"Oh ya ya, besok ada kewajiban antar pelanggan ya," canda Nesya.
"hahaha, Assalamu'alaikum."
Nesya menutup telepon dan berguling-guling di kasur sambil melempar bantal ke udara. Rencananya mencari alibi menguap begitu saja setelah mendapat telepon dari Nolan. Ia hanya bisa berharap kedepannya ia berjodoh dan hubungannya bisa ke jenjang lebih serius.
******
Ditempat yang berbeda Nolan juga meraih selimutnya dan tersenyum sendiri melihat layar ponselnya dengan foto Nesya. Bayangan Abel yang menghantui setiap malamnya mendadak menghilang, mengingatkan setiap waktu bahagia bersama Nesya.
Untuk pertama kalinya merasakan perasaan yang terbalas. Ia mengingat kembali dengan penuh rasa sayang ia mengecup kening Nesya. Nolan jadi teringat ucapan Nesya jika tidak boleh menyerang mendadak. Berarti menyerang dengan ijin boleh ya!
Astaghfirullahaladzim, apa yang sih yang aku pikirin.
.
.
.
TBC.....
Kenapa banyak kupu-kupu di bunga yang bermekaran 😍😍
mudahan nggak ada hama yang merusak ya😳😳😳
Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘