Dear Nolan

Dear Nolan
Lamaran 2



Rombongan keluarga Adiguna sudah mulai memasuki pintu utama yang di sambut oleh keluarga Pak Doni. Nesya menuruni tangga dengan anggun bersama sang Bunda dan kakak iparnya. Semua mata melihat Nesya yang akan menjadi calon anggota baru keluarga Adiguna.


Nesya duduk dengan para keluarganya dan tamu wanita dari keluarga Adiguna. Sedangkan para pria duduk di barisan depannya.


"Inget Nes, yang anggun depan calon mertua. Jangan sampai nilai kamu turun untuk calon menantu yang ideal." Tiara berbisik di telinga Nesya.


"Iya Kak iya, ini aja aku udah gembok mulut biar nggak gampang nyeplos," cetuk Nesya di telinga kakaknya.


"Kalau perlu telan kuncinya," canda Tiara.


"Keselek dong, nanti nggak jadi kewong kata sis Anggi." Nesya mulai cekikan lagi.


Tiara memukul pelan tangan Nesya. "Hush ... udah yang kalem."


"Iya ka iya," Nesya menutup mulut dan berdiri tegak lagi seperti putri solo.


Nesya mencuri pandang melihat calon suaminya. Ya, bang No terlihat lebih ganteng dan rapi hari ini. Tidak ada rambut halus yang menjuntai di dahi seperti biasa. Agak aneh sih, tapi positif, untuk pertama kalinya Nesya melihat Nolan memakai baju batik formal lengan panjang, ia terlihat mirip pak lurah.


Nolan juga melirik ke arah calon istrinya sejak tadi turun dari tangga. Nesya memakai kebaya berwarna perak dengan bawahan batik warna Navy yang bercorak burung enggau seperti bajunya. Nesya terlihat begitu anggun dan ayu di matanya dengan balutan kerudung warna perak. Bukan hanya Nesya, debaran jantung hebat kini juga di rasakan Nolan. Ia tak berhenti mengelap dahinya yang berkeringat, padahal rumah Pak Doni sudah full AC.


Selang beberapa menit pandangan mereka bertemu. Ya, Nesya jadi salah tingkah Nolan yang terus memandanginya sambil melempar senyum.


Para pria sedang berbincang seputar masalah pernikahan. Sedangkan para wanita hanya mendengar obrolan para pria sesekali berbisik-bisik memuji Nesya. Tak sedikit juga yang mengunjing pelan Nesya, karena sepengatahuan keluarga Adiguna Nesya hanya anak adopsi dari panti asuhan.


"Cantik ya calon istrinya Nolan pantes aja, ponakan saya pengen cepat Nikah," ucap salah satu wanita bersanggul ala pejabat yang duduk di barisan kamu wanita.


Nesya jadi tersenyum malu-malu seperti anak perawan yang dipuji pada umumnya. Bunda Serena mengengam tangan Nesya yang nampak tegang.


Tak lama terdengar suara salam Pak Hendrawan Adiguna perwakilan tamu keluarga Nolan, mengutarakan maksudnya. Nolan memandang tajam ke arah Papanya dan berdoa dalam hati, agar Papanya tidak berkata macam-macam di depan keluarga besar Nesya dan mengutarakan maksud kedatangan keluarganya dengan benar.


"Jadi, keluarga Pak Doni sudah tahu kan sebelumnya, maksud dan kedatangan kami kemari ingin meminta ijin pada keluarga besar Pak Doni untuk mempersunting putrinya Nesya untuk diperistri putra kami Nolan Putra Adiguna." Ungkapan Pak Hendrawan yang membuat rumah tamu hening. Nolan bernafas lega papanya berbicara semestinya tanpa menyinggung perasaan keluarga Nesya.


"Pak Hendra kita terima dengan tangan terbuka maksud kedatangan keluarga Pak Hendra. Kita orang tua hanya bisa memberi restu, jika anak kami juga menerima putra bapak sebagai calon suaminya." Pak Doni angkat bicara dan mendekati Nesya.


"Sekarang Nolan, kamu berdiri dan tanya sama Nesya. Apakah dia mau menerima kamu sebagai suaminya." Pak Hendrawan melihat ke arah Nolan.


Setelah melantunkan doa dalam hati untuk mengurangi kegugupannya, Nolan berdiri seperti arahan keluarganya sebagai formalitas acara lamaran. Nolan yang mau ngomong kenapa Nesya yang mendadak kejer, tubuhnya berkeringat meskipun ruangannya berAC. Jantungnya tak berhenti berdebar seperti gendang dangdut.


"Sebelumnya terima kasih untuk keluarga Om Doni, yang menerima kedatangan keluarga saya untuk menyampaikan niat baik saya." Nolan menunduk sopan pada Pak Doni.


"Saya di sini ingin meminta ijin dan restu Om Doni untuk memperistri putri keluarga ini Nesya Nabilla Bagaskoro. Nanti ketika Allah menjodohkan saya dengan Nesya. Saya berjanji akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan Nesya. Saya juga akan berusaha selalu jadi terdepan untuk melindungi Nesya. Didepan keluarga besar saya, apakah Om Doni menerima saya sebagai calon menantu keluarga ini." Ungkapan Nolan yang mirip pidato. Pak Doni tersenyum dan mengangguk.


"Pasti No," balas Pak Doni. Pak Doni berdiri dan memandang ke arah Nesya. "Nesya, putriku, apa kamu mau menerima Nolan sebagai calon suamimu."


Semua mata kini menjurus ke arah Nesya. Begitu juga Nolan, wajah penuh harap melihat ke arah Nesya, bisa saja 'kan diluar prediksi Nesya kerasukan jin iprit dan tiba-tiba menolaknya.


Padahal dalam hati ia ingin jingkrak-jingkrak, tak percaya sebentar lagi mau nikah, yes akhirnya kawin kawin kawin!!! Buset kenapa aku jadi kayak orang kebelet kawin gini.


"Alhamdulilah, lamaran di terima No. Kawin juga akhirnya!" seru aneh Adrian yang jadi moderator dadakan.


Keluarga serentak mengucap hamdalah, kini acara selanjutnya diskusi masalah tanggal pernikahan yang akan di tentukan.


Setelah perdebatan panjang kali lebar. Akhirnya di dapatkan keputusan keluarga untuk acara pernikahan di selenggarakan sebelas bulan kemudian. Keputusan ini berdasarkan tertuah keluarga Adiguna yang tidak membenarkan adanya kelahiran dan pernikahan dalam satu tahun secara bersamaan. Keluarga Nesya sepertinya juga nampak pasrah.


"Maaf menyela, boleh Saya menyampaikan pendapat Saya." Nolan dengan wajah resah berusaha mengajukan keberatan atas keputusan keluarganya.


Ini negara demokrasi ia berhak menyuarakan pendapatnya. Ia saja memprotes ke tidak Adilan pada rakyat. Apalagi ini untuk dirinya sendiri. Ia masih memutar otaknya mengingat aturan keluarga dari mana yang tidak boleh adanya kelahiran dan pernikahan dalam tahun yang sama.


Nesya juga terkejut pernikahan yang di putuskan keluarganya itu sampai selama itu, kalau perlu Minggu depan saja nikah, Nesya sudah sangat siap, Eh. Kali ini dia pasang telinga dengan baik mendengarkan protesan Nolan.


Semua mata melihat ke arah Nolan, memang itu tak sopan menyela bahkan memprotes. Tapi ini demi keadilan dirinya, dia masa bodoh dengan atauran apapun.


"Maaf sekali lagi kepada kedua keluarga. Saya menyela, Saya sama sekali tidak bermaksud mengurui siapapun. Menikah itu menyempurnakan setengah ibadah. Menikah bagian dari ibadah. Bukan kah sesuatu yang mengarahkan kepada kebaikan harus di segerakan." Berbekal nasehat pernikahan yang dikajikan ustad beberapa waktu lalu, Nolan mencoba membela diri.


Nolan masih melanjutkan lagi bentuk protesnya.


"Selama kita belum nikah, kita masih terbelenggu dalam lingkaran setan. Sebagimana manusia yang tak pernah lepas dari Dosa. Saya kuatir jika terjadi kekhilafan pada Saya dan Nesya yang nantinya berujung pada dosa besar. Nauzubillahimindzalik." Nolan berharap usahanya ini bisa merubah pikiran kolot keluarga.


Para tetua keluarga Nolan dan pak hendrawan saling pandang mendengar ucapan Nolan. Anggota keluarga yang lain juga mulai berargumen pada kanan kiri tempat duduknya.


.


.


.


.


.


.


TBC.....


Hmmm Ade-ade aje😳😳


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘