Dear Nolan

Dear Nolan
Sudah Cukup



Nolan merasa darahnya naik ke kepala. Kepalanya terasa berat pandangannya kabur, ia terus membayangkan bagaimana dirinya nanti tanpa Nesya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat berharap bisa segera menyusul Nesya dan mencari tahu kenapa dia begitu dan apa yang terjadi pada dirinya.


Ia berbelok ke perumahan mewah di kota B dan akan mencari di rumah orang tuanya. Jika belum weekend Nesya tidak akan ke rumah Adrian.


Nolan segera turun dari mobil, ia masuk ke rumah besar itu setelah mendapat ijin sekuriti rumah. Meskipun ia mendengar sendiri dari sekuriti Nesya belum pulang. Tapi ia nekat masuk ke dalam rumah memastikan secara Langsung.


Nolan meminta asisten rumah tangga yang membukakan pintu untuk memanggilkan saja Tante Serena.


"No," sapa Serena dari balik pintu.


"Maaf Tante, Nesya udah pulang." Nolan langsung semeringah melihat Serena muncul.


"Nesya belum pulang dari tadi. Kayaknya dia nginep tempat kakaknya deh," ucap Serena.


"Ya udah Tante, saya mau nyusul kesana." Nolan mencium punggung tangan wanita empat puluh tahunan itu dan berpamitan pergi dengan buru-buru.


Nolan tidak mau putus asa, ia harus tanya kenapa Nesya pergi tanpa pamit dan bersikap aneh. Nolan melajukan kendaran dengan cepat menerobos hari yang mulai malam. Ia sejenak singgah di Masjid untuk menunaikan kewajiban menjalankan sholat dan menenangkan pikirannya sejenak.


Cukup menempuh 30 menit dari masjid. Nolan sudah sampai di depan pagar rumah Adrian. Nolan bernafas lega melihat mobil CRV putih milik Nesya terparkir di halamannya.


Ia segera turun dan berharap bisa meminta penjelasan Nesya malam ini.


Tok tok tok


"No, cari Nesya ya?" tanya Tiara yang membukakan pintu.


"Ya Bu, Nesya ada di sini?" tanya Nolan.


"Sebentar aku panggilkan dulu, tadi sih dia langsung masuk kamar," ujar Tiara.


Nolan menunggu di kursi yang ada di teras rumah Adrian.


Tiara membuka kamar pintu Nesya yang kebetulan tidak di kunci. Tiara melihat adik gadisnya yang terbaring dengan mata terpejam seperti tertidur.


Tumben juga Nesya tidur jam segini. Biasa dia selalu tidur larut malam.


Sepertinya ia tidak tega membangunkan Nesya. Nesya seperti kelihatan sangat lelah. Ia akan berkata apa adanya pada Nolan.


"No, Nesyanya tidur tuh! ada yang penting ya atau aku bangunkan aja." Kata Tiara.


Nolan berpikir sejenak. Mungkin Nesya lelah, tidak etis jika ia harus membangunkannya. Mungkin ia bisa kembali besok pagi untuk mengantar Nesya.


"Besok aja saya kesini lagi Bu," ucap Nesya.


"Oke," balas Tiara.


"Nesya udah tidur, tumben." Adrian tiba-tiba muncul dari balik mobil.


"Ya, datang langsung kamar terus aku lihat tidur," ucap Tiara sambil meraih punggung suaminya untuk di cium.


"Nggak biasa nya Nesya begitu." Adrian milirik ke arah Nolan. "Kamu lagi ada masalah sama Nesya." Adrian mendadak galak pada Nolan.


"Pasti gara-gara kamu No! kalau nggak Nesya nggak mungkin ngurung diri begitu!" Adrian berbicara keras semakin galak.


"Pak! saya juga nggak tahu," seru Nolan.


"Kamu jangan banyak alasan No!" Adrian mulai berbicara keras dan menunjuk-nunjuk Nolan.


"Sayang! udah! kita tanya saja Nesya besok apa masalahnya." Tiara berusaha menenangkan suaminya yang mulai terpancing emosi.


"No, sebaiknya kamu pulang dan besok selesaikan masalah Kalian." Tiara mencoba membujuk Nolan.


Nolan mengangguk kepalanya dan berpamitan pulang. Adrian merasa sudah cukup tenang dan masuk kedalam rumah bersama istrinya.


Disisi lain Nolan semakin cemas, apa yang sebenarnya terjadi pada Nesya. Apa kesalahannya yang membuat Nesya tidak ingin menemuinya dan pergi begitu saja.


Nes kamu kenapa? Jangan tinggalkan aku Nes. Aku nggak akan sanggup lagi jika kamu juga harus ninggalin aku.


Dengan kepalanya yang terasa berat, Nolan sekuat tenaga mengemudi mobil. Hanya tentang Nesya yang mencongkol di kepalanya. Ia tidak yakin bisa tidur nyenyak malam ini. Ia tidak yakin setelah sampai rumah akan tenang sebelum mendengar suara Nesya meskipun hanya satu kata saja.


*****


Sementara Nesya yang dari tadi berpura-pura tidur mencoba membuka matanya kembali. Ia memastikan mobil yang pergi tadi adalah mobil Nolan. Ia meraih handuk ingin segera mandi untuk menjernihkan pikirannya.


Ia sengaja tidak ingin menemui Nolan yang hanya akan membuat sakit hati. Padahal beberapa jam yang lalu ia selalu membayangkan wajah itu yang akan jadi imannya. Wajah itu yang akan bersamanya di pelaminan. Tapi harapannya sudah pupus. Kenyataaanya Nolan hanyalah pria yang gagal Move On dari kakak iparnya sendiri. Yang lebih parah lagi dia hanyalah pelariannya.


"Kenapa aku sebodoh itu! kenapa!" Nesya mengutuki dirinya sendiri di bawah guyuran shower.


Nesya bukanya mau lari dari masalah dan menghindari Nolan. Dia hanya ingin sendiri untuk sementara waktu ini.


Ia sadar pernah menyatakan terlebih dahulu perasaannya. Karena rasa cinta lamanya yang akhirnya bisa terwujud. Tapi ia masih punya harga diri, cukup sudah ia menjadi pengemis cinta. Seberapapun usahanya, sebesar apapun cintanya, sekuat apapun ia mencoba membuat bahagia. Tapi kenyataaanya tetap sama! Bang Nolan belum bisa move on dari Kak Abel.


Nesya menatap suasana malam dari luar jendela usai menyegarkan tubuhnya.


"Mulai detik ini, aku akan berusaha lupain semuanya. Mulai detik ini juga aku akan pergi ninggalkan dia...." Janji Nesya dengan tatapan hampa.


.


.


.


.


.


TBC.....


Ei up lagi Zen💔