
Nesya berjalan tergesa-gesa menuju lobby. Ia menepuk jidatnya setelah sadar ponselnya kehabisan baterai. Bagaimana ia bisa memesan taksi online. Mau kembali ke dalam dan mengisi daya ponsel juga akan membuang waktu. Lima menit di charger paling hanya terisi 4%, itu hanya akan memperlama ia segera ke bengkel.
Nesya mencoba tidak panik dan kembali ke dalam rumah sakit meminta bantuan temannya. Belum sempat masuk ke dalam pintu Lobby, Nesya berpas-pasan dengan dokter Rakha.
"Loh Nes, kamu belum pulang? katanya buru-buru," tanya dokter Rakha.
"Ya Dok. Hape saya mati, saya nggak bisa pesan taksi." Nesya hendak berpamitan ke dalam.
"Tunggu Nes." Dokter Rakha menghalangi langkah Nesya.
"Saya antar aja kamu gimana?"
Nesya tentu tidak mau menambah lagi masalah, Ia akan membangun jiwa buas suaminya bangkit dengan menerima tawaran dokter Rakha.
"Makasih Dok, saya rasa tidak perlu." Nesya berusaha menolak sehalus mungkin.
"Kita satu arah, kebetulan saya mau traktir perawat Arga dan selia yang tadi membantu saya dan kamu. Jadi kita nggak hanya berdua kita berempat. Saya akan antar kamu dulu ke bengkel suamimu."
Nesya mendapat titik terang. Suaminya tidak akan cemburu kan karena mereka di dalam mobil beramai-ramai. Lagi pula perawat Arga dan Selia bisa jadi saksi kalau dirinya benar-benar dalam keadaan darurat menyelamatkan seseorang yang terluka parah dan tidak bisa diabaikan. Jika memang mereka berdua diperlukan. Nesya mempertimbangkan kembali penawaran dokter Rakha. Sepertinya menumpang dokter Rakha adalah jalan satu-satunya yang harus ia ambil saat ini.
"Ya udah dok. Kalau memang nggak merepotkan," ucap Nesya.
Dokter Rakha berjalan lebih dulu. Nesya kini sudah berada di kursi belakang mobil bersama Selia. Mobil warna kuning itu pun berlahan meninggalkan rumah sakit.
Mendekati lokasi bengkel suaminya, Nesya semakin gugup. Ia benar-benar pasrah dengan apa yang terjadi nanti.
Nesya melihat banyak karangan bunga di sepanjang jalan ruko. Begitu pula dengan mobil antri yang berjejer di halaman ruko. Sepertinya acara pembukaan bengkel benar-benar sudah berakhir, nampak kursi-kursi dalam tenda biru lengkung sudah di susun rapi. Nesya jadi terbayang keseruan acara pembukaan bengkel suaminya, Nesya kembali sedih tidak bisa menemani suaminya tadi pagi.
"Sudah sampai Nes. Jadi ini bengkel baru suamimu," ucap Dokter Rakha membuka kaca jendela melihat tempat di depannya.
"Ya Dok," ucap Nesya bersiap membuka pintu.
"Iya, iya. Jangan kuatir," balas Nesya pada perawat muda itu. "Sekali lagi makasih Dokter tumpangannya," sambung Nesya melihat ke arah Dokter Rakha.
Dokter Rakha menganguk, "Saya juga lain kali mau coba kalo sudah nggak antri." Sambung Dokter Rakha.
"Boleh Dok," jawab Nesya.
Selia melambaikan tangan ke arah Nesya ketika mobil Dokter Rakha perlahan bergerak. Nesya membalikkan badan ketika mobil Dokter Rakha menjauh.
Baru beberapa langkah menuju pintu utama bengkel. Nesya langsung membulatkan matanya melihat ada suami yang tak jauh dari hadapanya. Nolan sudah berdiri didepan pintu kaca bengkel dengan raut wajah tak bisa di artikan oleh Nesya. Bahkan suaminya itu tidak menghiraukan seseorang yang menegurnya, ia hanya fokus melihat Nesya yang berjalan mendekat dengan pelan.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC ....
Aw ... Ei mau kabur..