Dear Nolan

Dear Nolan
Cuek



Nesya merapikan pakaian yang ia ganti usai keluar dari ruang operasi. Pengalaman pertama yang cukup mengejutkan untuk Nesya masuk ke dalam ruang bedah. Tapi ini akan jadi hal yang akan di lalui hari-hari kedepan.


"Nes! Gimana pengalaman pertama kamu di ruang operasi?" tanya dokter Rakha menyapa Nesya.


"Halo Dokter, cukup gugup Dok, tapi harus membiasakan diri Dok."


"Oh ya, ngomong-ngomong selamat ya sekali lagi atas pernikahan kamu, aku dapat souvenir hapenya loh," ucap Dokter Rakha lagi.


Nesya terkekeh, "Makasih dok," balas Nesya.


"Oh ya. Jadwal operasi selanjutnya nanti dikabari. Hape kamu selalu standby ya," seru Dokter Rakha.


"Iya Dok," jawab Nesya. Ia sekarang tidak boleh cuek dengan Dokter Rakha. Sekarang beliau, si Dokter genit adalah seniornya.


"Kalau begitu Dok, saya pulang dulu!" seru Nesya. Dokter Rakha mengulurkan tangan mempersilahkan.


Nesya pun sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit. Menjadi asisten dokter bedah membuat Nesya tak perlu seharian di rumah sakit atau berganti shift seperti di UGD. Nesya hanya ke rumah sakit saat praktek dokter di mulai dan ketika operasi. Sedikit kelonggaran memang, tapi bedanya Nesya pasti menjadi lebih sibuk dan harus selalu siap ketika di butuhkan.


Nesya memutuskan untuk ke bengkel suaminya sebelum pulang ke rumah. Biasanya ia pulang sore ketika masuk UGD pagi hari, tapi sekarang waktu menunjukkan pukul satu siang. Hari yang panjang untuk menunggu suami, lebih baik ia ikut ke bengkel saja.


...**************...


Bengkel cukup ramai hari ini. Ia sudah lebih seminggu tidak datang ke tempat ladang rejekinya ini. Seperti biasa, setiap awal bulan banyak mobil - mobil yang akan di servis secara berkala. Nolan hanya mengawasi dari kaca ruangannya. Mungkin sebentar lagi ia akan merindukan tempat yang penuh kenangan ini, ia akan segera pindah ke tempat yang baru.


Mendadak senyum mengembang di bibirnya mengingat pertama kali berbicara secara baik-baik dengan istrinya di workshop bengkel. Di tempat ini juga mobil istrinya ia sandera hanya sekedar ingin jadi pengantar jemput istrinya ke rumah sakit. Siapa yang sangka kalau Nesya berhasil mengusik hatinya yang seperti mati rasa akan cinta.


"Assalamu'alaikum."


Nolan mengalihkan pandangan pada sumber suara di balik pintu. Berumur panjang begitulah mitosnya, orang yang dipikiran langsung ada di depan mata.


"Wa'alaikumusalam, kok sudah pulang! Nggak kasih kabar kalau kesini." Nolan refleks melihat jam tangannya yang menunjukkan waktu masih siang hari.


Nesya langsung duduk dipangkuan suaminya, "Sekarang kalau nggak ada jadwal praktek dokter Rakha aku bisa pulang. Lagipula aku bete dirumah kalau nggak ada Bang No." Nesya merebahkan kepalanya di bawah rahang suaminya.


"Ya udah kita pulang sama - sama. Besok berangkat pagi lagi?"


"Kayaknya iya. Harus selalu standby," balas Nesya masih memeluk manja suaminya.


"Besok bangunin. Aku antar!"


"Aku nggak tega lihat Bang No kecapean," ucap Nesya dengan tangannya yang mulai meraba-raba dada suaminya.


Nolan mengerakkan kakinya merasa sudah tidak nyaman dengan ulah istrinya yang bisa membangkitkan sesuatu. "Nes, kamu duduk yang benar sayang, nggak enak kalau ada yang masuk. Belum lagi dinding ruangan aku transparan. Tuh lihat! montir di bawah pada ngintip dan cegar cegir." Nolan menunjuk ke arah workshop.


Nesya ikut mendongak ke bawah. "Biarin aja Bang! Kita kak suami istri, mereka yang di bawah itu pada jomblo makanya iri."


"Nes, nanti kalau di rumah kamu boleh deh duduk dengan posisi sesuka hati kamu!"


Nesya bangkit dengan kesal. "iya ... iya." Kini ia duduk di meja berhadapan dengan suaminya.


Nolan berdiri merasa selamat karena bisa menahan hawa panas di tubuhnya, seandainya dinding ruangan tidak transparan mungkin Nolan ingin melampiaskan hasrat, bermesraan di ruang kerja seperti di film Hollywood. Nolan harus sabar kali ini.


"Kamu udah makan?" tanya Nolan. Nesya menggelengkan kepala karena ia memang ingin makan siang bersama suaminya.


"Aku ambil makan ke bawah dulu."


"Nasi bungkus?" tanya Nesya terbesit memori makan siang nasi bungkus di bengkel ini.


"Bukan Sayang, nasinya pakai kotak karena hari pertama aku masuk bengkel," balas Nolan.


"Apa bedanya! Ujung - ujungnya juga isinya nasi Padang."


Nolan tertawa renyah, "Itu memang makanan paling enak. Jangan cerewet aku ke kebawah dulu." Nolan mencuri ciuman singkat di bibir Nesya setelah itu langsung berjalan begitu saja melalui pintu.


Tak lama berselang, Nolan sudah kembali dengan kotak makan yang berisi nasi Padang. Nolan mulai menikmati suapan demi suapan Makanan kesukaannya itu. Begitu pula dengan Nesya yang terpaksa ikut makan, sebenarnya Nesya tidak terlalu suka makanan berbumbu dan berminyak.


"Alhamdulillah hari ini ramai banget, awal bulan Sayang orang pada servis."


"Jadi kapan bengkel yang baru buka," tanya Nesya.


"Mungkin tiga sampai seminggu lagi, isi sama persiapannya udah delapan puluh persen selesai. Showroom juga udah mulai ada mobil-mobil yang isi. Besok aku juga udah mulai wawancara beberapa karyawan baru."


"Pakai grand opening enggak?"


"Ya tapi nggak perlu datangkan walikota," ucap Nolan. Nesya tertawa kecil, bisa juga suaminya bercanda.


"Bengkel bikin promo aja diskon 50 persen untuk servis dua hari pertama," jawab Nolan.


"Semoga sukses ya sayang," seru Nesya.


"Kamu harus temanin aku nanti waktu pembukaan, biar semua karyawan juga tahu kamu istriku," balas Nolan.


"Iya suamiku Sayang," balas Nesya.


Keduanya melanjutkan acara makan siang bersama. Seharian menemani suaminya di bengkel Nesya tertidur di sofa bed yang memang disediakan di ruangan Nolan untuk beristirahat. Nolan membangunkan Nesya untuk pulang karena langit menunjukkan hari akan senja.


"Sudah mau pulang ya." Nesya mengucek matanya yang masih setengah bsadar dari tidurnya.


"Ayo, kita naik mobil kamu aja, tadi aku berangkat kesini bawa motor." Nolan membantu Nesya bangun.


"Pulang naik motor aja Bang, aku pengen boncengan berdua sama bang No," Nesya merangkul lengan suaminya.


"Lebih aman naik mobil," balas Nolan. Ia memang lebih suka naik motor tapi ketika bersama Nesya keselamatannyalah yang paling utama.


Nesya yang terus merengek akhirnya membuat Nolan mengajaknya naik motor dan meninggalkan mobil Nesya di bengkel. Keduanya menyusuri jalanan kota yang tidak terlalu padat karena sudah lewat jam pulang kerja. Nesya mengeratkan pelukannya dari bangku belakang. Nolan ikut tersenyum tipis, ternyata sebahagia ini orang yang sudah halal. Bisanya ia hanya di temani angin yang membungkus kalbu ketika naik motor. Eh ... sekarang ia sudah punya penghangat alami untuk kemana-mana. Tangan kanannya sesekali mengelus tangan Nesya yang melingkar erat di perutnya.


Bertepatan adzan magrib motor mereka sudah memasuki rumah keluarga Adiguna. Tak lama berselang mobil mewah hitam juga berhenti di halaman rumah. Nesya yang menunggu suaminya memarkir motor menyambut terlebih dulu Papa mertua yang turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum Pa," sapa Nesya ramah, ia langsung mengambil punggung tangan Papa mertua.


"Ya, Wa'alaikumusalam," sahut Pak Hendrawan. Tanpa berkata embel-embel apapun, papa mertua langsung masuk saja meninggalkan Nesya ke dalam rumah.


Nesya memang sedikit kecewa Papa mertua yang terlampau cuek, tapi ia berusaha berpikir positif, mungkin Papa mertua lelah dan tak ingin basa-basi. Masih banyak hari untuk merebut hati Papa mertua.


"Ayo masuk," Nolan yang baru keluar garasi membangunkan lamunan istrinya.


Nesya tersentak langsung saja mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam rumah.


.


.


.


.


.


.


.


TBC......


Ei came back ... Sorry baru bisa up sayangku😘


Makasih Masih terus ikuti kisah Bang No memasuki babak rumah tangga 🙄.