Dear Nolan

Dear Nolan
Ganteng



Nesya mondar-mandir di kamarnya, harusnya waktu ini ia gunakan untuk rebahan di kasur sambil membayangkan masa depannya dengan Nolan. Sekarang ia malah di selimut cemas, kenapa calon mertuanya tiba-tiba ingin mengundur acara lamarannya.


Nesya meraih ponselnya, ia harus memberitahu Nolan mengenai hal ini. Nesya yakin Nolan belum tahu rencana ayahnya ini. Tak lama menekan nada suara terdengar dari genggamannya.


"Ya Nes,"


"Bang No, udah sampai rumah?" tanya Nesya.


"Udah, baru aja masuk kamar. Kenapa?"


"Udah kangen," jawab Neysa ngelantur. Ia selalu lemah dengar suara kekasihnya.


"Ya ampun Nesya besok kan ketemu lagi."


"Sori bukan itu maksud aku nelpon." Nesya menepuk jidatnya. "Aku mau nanya? Bang No udah tahu kalau Om Hendra telpon ayah, Om Hendra bilang sama ayah kalau akan memundurkan acara lamaran."


"Hah kamu serius!"


Nesya menjauhkan telepom dari telinganya karena suara Nolan yang terlalu nyaring. "Iya," balas Nesya singkat.


Tut ... tut ... tut, tiba-tiba sambung telepon terputus. Nesya jadi panik sekarang. Harusnya ia bicarakan saja besok.


...****************...


Sementara di rumah keluarga Adiguna. Nolan membatalkan keinginnya yang hendak membaringkan tubuh setelah beraktifitas seharian. Kepala mendadak berat mendengar kabar dari Nesya tadi. Sebenarnya apa lagi mau papanya itu. Ia keluar kamar dengan kesal menuju kamar Papanya.


Ia mengendor keras pintu kamar seperti akan merobohkannya saja. Tak lama pria paruh baya membuka pintu sambil mengucek matanya, ia sedikit kesal ada yang menganggu waktu istirahatnya


"No, kamu pikir telinga papamu ini tuli," sentak Pak Hendrawan.


"Pa, aku mau ngomong sama Papa!" kata Nolan cukup keras.


"Nak! besok saja kan bisa, Papa mau istirahat sekarang." Pak Hendrawan menepuk pundak Nolan hendak menutup pintu.


Tangan Nolan dengan cepat menahan pintu.


"Aku mau bicara sekarang Pa!" seru Nolan lagi masih dengan nada keras.


"Baiklah Nak, ayo masuklah. Ada apa sebenarnya." Pak Hendrawan terpaksa menuruti keinginan anakknya yang mendadak seram.


Nolan melangkah memasuki kamar ayahnya. Ya, ayahnya sedang sendirian sekarang karena Mama Mitha sedang berada di ibukota di rumah Kakaknya.


"Kenapa Nak, kenapa kau seperti ingin menghajar Papamu saja nak."


"Apa benar Papa telpon Om Doni! Terus bilang akan mundurkan acara lamaran Nolan untuk Nesya!"


"Hmmm, iya Nak benar." Pak Hendrawan panik melihat Nolan yang tak berhenti berteriak.


"Kenapa Papa nggak rundingkan dulu sama Nolan dan Papa memutuskan sendiri kepentingan Nolan!"


"Tenang Nak, semua yang Papa putuskan ada alasannya."


"Alasan apa Pa! Papa ingin menghalangi hubungan Nolan dengan Nesya! iya Pa!"


Pak Hendrawan tidak tahu harus berkata apa. Ia paling tidak bisa berkata kasar dengan Nolan karena hanya akan menganggu kesehatannya. Ia juga tentu saja tidak bisa menandingi suara keras putra bungsunya yang semakin menjadi - jadi jika ia terus melawan.


"Bukan begitu Nak, istri kakakmu baru saja keluar dari rumah sakit. Kondisi istri dan anak kakakmu belum sepenuhnya pulih. Apakah pantas jika kita akan melamar Nesya minggu depan. Papa hanya ingin ketika kau melamar Nesya, keluarga kita bekumpul semua dan kita semua juga ikut merasakan kebahagiaan yang kau rasakan." Pak Hendrawan menemukan alasan lain.


Nolan mendadak diam, rahangnya yang mengeras karena menahan marah berubah menjadi raut wajah bersalah karena menuduh Papa punya rencana lain untuk dirinya.


"Maafkan Nolan Pa, Nolan seharusnya bertanya baik-baik bukan berpikir yang bukan - bukan tentang Papa."


"Ya Nak," balas Pak Hendrawa lega, akhirnya ia bisa menjinakkan putranya.


Nolan memeluk Pak Hendrawan. "Pa, Nesya wanita yang aku cintai Pa, Nesya wanita yang selalu aku sebut dalam doa supaya Allah segera mengikat kita dalam ikatan yang halal. Maafkan anakmu yang payah ini, saking bahagianya aku bahkan tak berpikir masalah Bang Davin dan Abel."


Pak Hendrawan membalas memeluk Nolan, untung saja ia menemukan alasan tentang Davin. Kali ini rencananya gagal total, ia sepertinya akan susah memisahkan putranya dari Nesya. Bahkan tidak mungkin memisahkan mereka. Ia tak mau terjadi apa-apa pada Nolan seperti tahun-tahun sebelumnya.


Pak Hendrawan sekarang yang merasa kesal sendiri. Akankah ia akan menerima Neysa dalam keluarganya? Apa yang bisa dilakukannya sekarang. Nolan terlihat sangat marah hanya karena dirinya ingin mengundurkan lamarannya. Bagaimana kalau sampai pernikahan mereka batal?


"Sudah No, sebaiknya kau tidur hari sudah malam." Pak Hendrawan melepaskan pelukan anaknya.


Nolan pun merasa lega, ia meminta ijin untuk kembali ke kamarnya.


Sesampai di kamar Nolan menghubungi Nesya dan menceritakan semuanya. Keduanya pun jadi tenang untuk tidur nyenyak malam ini.


...****************...


Nolan dan Nesya menyusuri jalanan kota di pagi hari. Minggu ini, Nesya mendapat jadwal jaga pagi di UGD. Nesya menikmati alunan musik diperjalam sambil melihat foto-foto terbaru ponakan kecil kekasihnya yang bernama Arzen.


"Gemes banget pengen ketemu Arzen," ucap Nesya.


"Sama Nes, aku juga nggak sabar pengen ketemu Arzen. Nanti kita datang ya ke acara aqiqahnya sekalian."


"Siap! aku juga udah ijin kok mau ke ibukota untuk lihat Arzen."


Nesya masih melihat-lihat lagi foto Arzen yang di gendong ayahnya.


"Ya ampun Arzen mirip banget ya sama Bang Davin." Nesya menunjukkan layar ponsel pada Nolan.


"Bang Davin juga ganteng banget ternyata, patas aja Arzen bisa seimut ini," sambung Nesya.


Nolan menatap tajam sekilas ke arah Nesya.


"Tadi kamu bilang apa?"


"Bang Davin ganteng banget." Nesya yang polos mengulangi perkataan sesuai keinginan Nolan.


Nolan langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan lebih kencang dari tadi. Ia bahkan berhenti mendadak dengan rem kencang saat rambu lampu merah menyala.


Beberapa menit selama perjalanan, Nesya baru menyandari ada yang berbeda dengan kekasihnya. Kekasihnya tak bicara satu kata pun setelah menyebut Bang Davin.


Apa Bang No lagi marah sama aku? salahku dimana?


"Bang No," sapa Nesya.


"Ya ...." Nolan menjawab singkat.


"Kenapa cemberut gitu sih, marah sama aku?" tanya Nesya.


"Nggak ...." jawab Nolan singkat.


Nesya malas untuk bertanya lagi, setiap pertanyaannya akan di jawab singkat. Nesya sudah menduga kalau Bang No bersikap begitu, pasti ada sesuatu. Sampai mobil berhenti di lobby rumah sakit tidak ada yang mengeluarkan suara.


"Turun!" seru Nolan dengan muka datar.


"Nggak mau, sebelum jelasin kenapa Bang No jadi aneh."


"Nanti kamu telat!" ucap Nolan.


"Nggak! Bang No kenapa? Baru aku turun."


Nolan yang selalu kalah berdebat dengan Nesya, akhirnya membuka suara. "Aku nggak suka kamu muji-muji laki-laki lain di depan aku. Meskipun itu Abang aku sendiri. Apa aku salah?"


Nesya terdiam, "Enggak salah kok, aku yang salah. Mulut aku memang suka refleks."


Begini banget ya calon suamiku cemburu tidak pada tempatnya, trauma sama kak Abel kali ya.


"Ya udah turun," ucap Nolan datar.


"Ih masih marah ... aku kan udah minta maaf. Bang No memang yang paling ganteng."


"Kalau begitu namanya kamu bohong."


Nesya menghembus nafasnya ingin mengigit orang di sampingnya, "Ya, aku harus gimana dong! bilang orang ganteng salah, bilang pacar sendiri paling ganteng juga salah."


"Ya udah nggak usah di bahas lagi."


"Aku mau turun aja, malas ah pagi-pagi udah di ajak ribut." Nesya yang merajuk dan membuka pintu.


"Loh Nes, kok kamu ikut marah! Harusnya aku yang marah! Cih ...." Nolan melihat Nesya turun dari mobi tanpa menghiraukan ucapannya.


Nesya melenggang begitu saja menuju lobby rumah sakit tak memberikan senyuman atau berdadah manja seperti biasanya.


Nolan meraup wajahnya heran! Kenapa Nesya yang marah gara-gara hal kecil. Ternyata perasaan wanita memang susah ditebak. Dangkal sekali pengetahuannya tentang hubungan percintaan.Ya, mungkin karena dia juga tidak pernah pacaran sebelum bertemu Nesya.


Awas aja Nes, nanti kalau sudah halal aku gulung kamu di kasur kalau ngambekan kayak begitu. Batin Nolan dalam hati sambil tersenyum. Ia kadang gemas dengan Nesya yang susah dan gampang di tebak sifatnya.


Nolan pun manarik tuas transmisi dan pergi meninggalkan rumah sakit.


.


.


.


.


..


.


.TBC


Ei cambek dari pertapaan di gunung hatari😁😁😁😁😁Maafken Ei yang telat Up. Kedepannya Ei bakal rajin Up.......


Ei akan tuntaskan apa yang udah Ei mulai, tenang aja Ei bakal tamatkan novel sesuai kerangka yang Ei buat.... Makasih semua zen yang udah setia nunggu Bang No...


Jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘😘