Dear Nolan

Dear Nolan
Kejutan



Seperti biasa, Nolan sudah stand by di area parkir rumah sakit. Tak lama, orang yang ia tunggu melambaikan tangan ke arahnya. Dengan cepat Nolan masuk ke dalam mobil untuk bergerak menghampirinya.


Nesya langsung masuk ke dalam mobil jemputan gratisnya. Ia dengan sigap memakai sabuk pengaman dan mobil melaju meninggalkan rumah sakit.


"Jadi kapan sidang?" tanya Nesya.


"Kata kakak kamu minggu ini, kamu doain ya!"


"Pasti, habis itu rencananya mau ngapain?" ucap Nesya mengoda kekasihnya.


"Pastinya langsung melamar kamu," balas Nolan.


Nesya merona merah, "Nggak nunggu wisuda."


"Kelamaan, aku nggak sabar setiap bangun tidur lihat kamu."


"Apa sih," ucap Nesya malu.


Nesya tersenyum sendiri mendadak jadi salah tingkah, ia juga tidak menyangka akan secepat ini mengakhiri masa mudanya. Ia pikir dia akan menikah di umur tiga puluhan seperti kebanyakan rekan para dokternya.


"Loh ... loh, kita mau kemana?" tanya Nesya karena mobil berbelok tidak mengarah ke rumahnya.


"Sudah kamu nurut aja!" balas Nolan.


Nesya pun pasrah, siapa tahu saja kekasihnya itu mengajak lihat senja gitu sambil kasih cincin. Terus berlutut dan bilang 'Will you Marry me'. Nesya tersenyum-senyum sendiri membayangkan hal-hal yang romantis. Tapi itu semua apakah mungkin? Nesya kembali pesimis dan meyakinkan lagi dirinya kalau kekasihnya itu bukan orang yang romantis.


Setelah beberapa detik mobil berhenti di depan deretan ruko kosong. Nesya heran, kenapa berhenti disini, Jangan bilang mau berbuat asusila. Nesya meraih Tas medisnya yang berisi beberapa jarum suntik untuk berjaga-jaga.


Ya ampun seudzon banget sih sama calon suami sendiri.


"Ayo turun." Nolan membuka pintu untuk Nesya.


"Tunggu, kita mau ngapain senja-senja gini di depan ruko kosong." Nesya mulai bersikap protes.


"Turun dulu, nanti juga tahu."


"Nggak! mau mesum kan," ancam Nesya menunjuk wajah Nolan.


"Astaghfirullahaladzim, nggak lah Nesya. Nanti mesumnya kalau sudah halal." Nolan malah terkekeh dengan sikap Nesya yang jadi galak.


Nesya akhirnya turun mengikuti arahan Nolan. Nolan meraih tangan Nesya dan mengandengnya mendekati halaman Ruko.


"Nes, kamu lihat dua ruko yang ujung." Nolan menunjuk dua ruko lantai tiga yang paling ujung. Nesya mengangguk.


"Itu sudah aku beli cash pakai tabungan aku," ucap Nolan.


"Oh Ya, emang mau buat apa?" tanya Nesya.


"Aku mau buka showroom mobil bekas, empat Ruko yang lain mau aku beli juga tapi dananya mau pinjam dulu sama Abang aku daripada KPR."


"Serius? banyak banget bukanya tiga ruko aja cukup."


"Nggak cukup sayang, aku juga bakalan bikin bengkel variasi, toko sparepart, sama tempat pencucian mobil modern. Nanti lantai duanya aku bikin kafe sama kantor. Lantai tiganya mess karyawan dan gudang."


Nesya hanya bisa diam karena tak tahu menahu masalah otomotif. Lagipula Bang Nolan berasal dari keluarga kaya yang punya perusahaan pertambangan sekelas Adiguna gruop, masih mau bersusah payah membangun usahanya sendiri. Apalagi hanya untuk membeli ruko, Nesya yakin calon mertuanya akan merasa seperti membeli sepeda. Tapi ini, ia malah akan meminjam dana pada kakaknya.


"Bang No, kenapa nggak minta bantuan Om Hendra. Pasti langsung di danai deh."


"Nes, apa salahnya aku usaha sendiri tanpa embel-embel Papa. Aku mau buktikan aku bisa menata masa depan aku tanpa keluargaku. Lagipula aku lebih puas kalau semuanya dari jerih payah aku sendiri."


Nesya hanya tersenyum, merasa bangga karena kemandirian kekasihnya. Tapi di sisi lain apa tidak sedikit sayang ya, tidak memanfaatkan harta orang tua. Di luaran sana ketika orang tuanya kaya raya mereka pasti sibuk pamer kekayaan dan menghamburkan uang untuk hal yang mubazir.


Calon suami yang produktif.


"Ayo masuk, ada lagi yang mau aku tunjukkin ke kamu." Nolan menarik tangan Nesya dan berhasil membangunkan lamunannya.


Nolan membuka pintu Ruko, ia masih menarik tangan Nesya menaiki tangga ruko. Perasaan Nesya mendadak merinding. Ruko yang hampa dan sunyi karena tidak ada barang-barang, sedangkan dirinya hanya berdua. Bukanya apa, setan selalu mengoda, bagaimana kalau dua orang yang saling cinta sampai melakukan kekhilafan.


Lagi-lagi Nesya berpikir jelek pada kekasihnya. Ia harus naik lagi ke lantai tiga.


"Besok pasang lift Bang," ucap Nesya merasa letih meskipun hanya naik dua lantai.


"Iya - iya, lift khusus buat kamu." Nolan mendorong tubuh Nesya agar terus naik.


Ketiganya pun sampai di lantai atas yang di sambut tiga orang laki-laki, dengan ada layar proyektor yang menyala di tembok ruko yang putih bersih. Pikiran buruk, lebih tepatnya mesum, langsung sirna dari pikiran Nesya. Ia kembali tidak mau curigaan dengan Nolan. Kekasihnya ini tipe orang santun, rajin ibadah, setia dan pekerja keras meskipun sedikit jutek.


Nolan menyalami ketiga orang yang sudah menunggunya itu. Salah satu orang mulai menyalakan proyektor. Eh ternyata! ketiga adalah arsitek perancangan ruko baru Nolan yang akan di jebol sekat-sekatnya menjadi showroom dan kebutuhan otomotif.


"Pacarnya ya Mas," tanya lelaki itu.


"Bukan," jawab Nolan enteng. Nesya langsung melotot ke arah Nolan.


"Bukan pacar tapi calon istri," sambung Nolan. Nesya seketika itu juga berbinar seperti ada kupu-kupu yang memutar di kepalanya.


"Nes, kamu calon istri aku. Bagian hidup aku. Aku mau kamu terlibat apapun tentang rencana aku ke depan untuk keluarga kecil kita nanti." Nolan menatap Nesya lekat. Nesya menggangguk lagi-lagi ia merasa sangat berarti untuk Nolan.


Nesya pun ikut menyimak, karena dia juga fakir ilmu masalah desain properti, dia hanya menikmati saja penjelasan perancang bangunan itu. Setelah penjelasan panjang, akhirnya sang perancang berhenti bicara.


"Gimana Nes, kamu suka atau ada masukan buat desiannya," tanya Nolan.


"Aku sih suka aja," jawab Nesya dari segi penikmat bukan ahli desain.


"Sepertinya nggak ada masalah untuk renovasi rukonya. Tolong desain satunya lihatkan pada Nesya juga."


Dengan seketika layar berubah jadi Desain rumah yang unik.


"Nes, itu desain rumah kita nanti. Maaf aku nggak diskusi dulu sama kamu."


Nesya masih memandang layar monitor tak percaya.


Nolan menjelaskan isi gambar. "Aku lebih suka rumah model retro, perbanyak ornamen kayu. Satu lagi, aku pengen buat halaman yang luas biar anak kita bisa main lari-lari puas. Ada yang mau kamu tambahin nggak Nes."


Nesya tak bisa berkata apa-apa lagi, matanya hanya bisa berkaca-kaca merasa begitu terharu. Nesya tidak pernah memikirkan sampai sejauh ini. Sedangan Nolan memikirkan sampai sedetail itu.


"Nes, kamu boleh ganti kok kalau kamu nggak suka desainnya." Nolan malah kuatir Nesya hanya diam.


"Bukan begitu Bang No, Nesya hanya nggak nyangka Bang No memikirkan sampai ke situ." Nesya masih merasa terharu.


"Nes, kan aku sudah bilang, aku mau nikahi kamu, aku harus siapkan semuanya dan membuat kamu nyaman ketika sama aku."


"Makasih Bang No," ucap Nesya rasanya ingin terbang sekarang karena bahagia.


"Kamu nggak tanya dimana lokasinya."


Nesya tersenyum mengangguk kepala penasaran.


"Di belakang ruko ini."


"Oh ya ...." Nesya terkejut.


"Aku pingin punya rumah dekat tempat kerja, kalau kangen keluarga tinggal pulang ke rumah. InsyaAllah setelah aku melamar kamu dengan keluargaku. Pembangunan akan di mulai, semoga nggak lama kita nikah, sudah bisa ditempatin."


"Amin, makasih Bang No untuk semuanya." Nesya benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi. Impian pernikahannya seperti sudah di depan mata. Dia hanya bisa berharap segala yang di impikan berjalan dengan lancar atas ijin Allah.


...****************...


Nesya dan Nolan sudah tiba di depan rumah betepatan dengan kumandang adzan isya. Nesya masuk kedalam rumah usai memastikan mobil Nolan sudah menjauh.


"Nes, sudah pulang," sapa Pak Doni. Nesya dengan sigap mencium punggung tangan ayahnya.


"Ayah mau bicara sama kamu," ucap Pak Doni.


"Masalah apa Yah," balas Nesya.


Pak Doni mengajak Nesya untuk duduk di sofa dengan tenang.


"Kamu ada masalah dengan Nolan," tanya Pak Doni.


"Nggak ada yah, kita baik-baik aja," jawab Nesya.


"Tadi Pak Hendra telfon Ayah. Katanya keluarganya mengundur waktu untuk acara lamaran kalian."


Deg. Mendadak ada perasaan yang aneh pada Nesya. Kenapa tiba-tiba calon mertuanya mengundur acara lamaran. Sedangkan beberapa jam yang lalu, Nesya sudah mendapat kejutan yang luar biasa dari Nolan.


Kenapa Nolan tidak bicara apa-apa? justru malah ia ingin segera menghalalkan dirinya kan. Nesya kembali di rundung perasaan cemas. Kenapa akhir-akhir ini hidupnya seperti role coaster, kadang merasa di puncak, kadang juga langsung di jatuh hentakan ke bawah.


.


.


.


.


.


.


.


.


TBC .....


Please deh Pak Hendrawan yang terhormat 😌😌😌


Ei datang membawa Up panjang 😘😘😘 lagi pengen yang panjang-panjang😳😳😳


jangan lupa tinggalkan jejak like komen vote 😘 biar semangat up