
Dua Minggu berlalu sesuai dengan perkataan Leon berita mengenai siswi inisial S lenyap ditelan sensasi para publik figur tanah air. Demi tetap eksis dipanggung hiburan segala cara akan dilakukan oleh publik figur yang hanya bisa mengandalkan sensasi. Hal itu menguntungkan bagi Leon untuk melenyapkan berita mengenai Sandra dan dirinya. Namun perhatian Leon terhadap Rahel tidak berhenti sampai disini. Ia terus meminta Simon untuk tetap mengawasi pergerakan Rahel.
"Sayang." Desis Nadin pada Leon yang berjalan ke meja makan sambil melihat laporan pengawal yang diutus mengawal Sandra.
"Iya mah." Sahut Leon melirik David yang menyeruput kopinya.
"Sudah seminggu mama gak menemukan pergerakan yang aneh dari papah." Ucap Nadin yang selama ini memantau kegiatan suaminya begitu juga dengan Leon yang bela-belain tinggal dirumah.
"Entahlah." Balas Leon meneguk susu coklat lalu menggigit roti panggang. "Mah,Pah Leon berangkat ya." Ucapnya.
"Kamu gak sarapan dulu." Ucap Nadin duduk disamping David.
"Leon ada rapat mendesak pagi ini." Sahut Leon pergi meninggalkan keduanya sambil menerima foto-foto Rahel yang mengulurkan tangannya pada Sandra yang berdiri di luar gedung sekolah ditemani laki-laki yang mengenakan seragam yang sama dengan Sandra.
Kemarin adalah pengumuman kelulusan kelas 12 setanah air. Seluruh kelas 12 pergi berbondong-bondong bersama orangtua mendatangai sekolah termasuk Sandra dan siswa yang bernaung disekolah yang sama dengannya.
Leon yang meminta salah satu pengawalnya melindungi Sandra dari jarak jauh mengirimkan Foto Sandra yang baru saja keluar dari gedung sekolah. Tanpa disengaja Rahel muncul disana tepat dihadapan Sandra.
"Apa yang dia lakukan disana?" Tanya Leon pada pengawal setibanya dikantor.
"Menyapa laki-laki disamping Nona Sandra, Ialu mengulurkan tangan untuk berkenalan pada Nona Sandra Bos." Jawab pengawal yang berdiri tegap didepannya. "Dia juga menawarkan Nona Sandra untuk ikut dengan mereka." Lanjut pengawal.
"Lalu?" Tanya Leon menzoom foto laki-laki disebelah Sandra.
"Nona Sandra menolaknya Bos." Jawab Pengawal.
"Simon tolong cari tahu identitas laki-laki disamping Sandra." Perintahnya. "Cari tahu ada hubungannya apa dia dengan Rahel." Lanjutnya yang bangkit dari kursinya meraih dokumen dan pergi meninggalkan ruangan diikuti pengawal dan Simon dari belakang.
Fyuh! Hela nafas Jesika sambil merentangkan tangannya keatas dengan meregangkan tubuhnya didepan monitor. Ia melihat orang-orang beranjak keluar meninggalkan ruangan.
"Jes." Tegur rekan kerjanya. "Gue duluan ya." Ucapnya melewati Jesika yang kini meletakkan tangannya diatas mouse untuk menutup halaman kerjanya dimonitor.
"Okey." Balas Jesika dengan senyum dikedua sudut bibirnya.
Tring! Suara pesan baru dari Fransroso masuk membuat Jesika meraih hapenya sambil menyandarkan tubuhnya dipunggung kursinya.
📥FransrosoWardana
Sayang, hari ini aku gak bisa menemanimu. Kamu gak marahkan?
📤Jesika Anastasya
Aku gak bisa marah pada pria kaya.
Ketik Jesika membalas pesan Frans sambil senyam-senyum setelah membaca pesan dari Frans sebelumnya.
Tring! Suara pesan dari Frans kembali masuk.
📥FransrosoWardana
Baiklah. Aku akan menjemputmu pulang nanti. Love you ❤️😘
"Love you too." Desis Jesika pelan menutup halaman chattnya. "Hari ini rasanya ingin makan sesuatu yang---" ucap Jesika terputus melihat Stela yang masih melamun menatap halaman kerjanya dimonitor. "---Kenapa akhir-akhir ini dia banyak melamun daripada fokus." Sambung Jesika bangkit pergi meninggalkannya.
"Gue kenapa sih?" Tanya Stela yang terus memikirkan perkataan Vaya dua Minggu lalu padanya mengenai hubungan Rahel dan Gio.
****
Hari dimana Stela melihat Rahel dan Gio bersama membuatnya merasa seperti ada sesuatu yang jatuh dari sela-sela hatinya.
"Dia Rahel teman kuliah Dokter Gio." Ucap Vaya sesaat keduannya duduk dicafetarian rumah sakit.
"Rahel?" Tanya Stela yang teringat dengan nama mantan kekasih Leon saat kuliah.
"Pa-pacaran?" Tanya Stela yang tak peduli dengan wajah Vaya yang kini basah karnanya.
"Nona Stela tak bisakah memberikan tissue sebelum bertanya." Cibir Vaya menarik tissue didepannya dengan kesal.
"Sorry." Ucap Stela menarik tissue membersihkan tumpahan jus dimeja.
"Mereka bahkan dibuat dalam satu ruangan." Ucap Vaya membersihkan bibirnya. "Ckckck!benar-benar buat darah gue mendidih." Gerutu Vaya. "Elo tahu katanya nih Rahel itu disini atas rekomendasi Dokter Silvia." Tambahnya.
"Oh." Sahut Stela.
"Oh doang." Ucap Vaya yang dibalas anggukan kecil dari Stela yang tak tau harus mengatakan apa. "Lo tau gak dokter Silvia itu siapa?" Tanya Vaya.
"Siapa?" Tanya Stela.
"Mamahnya Dokter Gio." Jawab Vaya. "Itu artinya secara tidak langsung Dokter Gio mengirimkan calon untuk putranya." Jelas Vaya yang membuat Stela membatu. Ia bahkan tak bisa mendengar ocehan-ocehan Vaya yang lainnya. Pikirannya dipenuhi oleh fakta bahwa pria yang tidur sehari sebelumnya dengannya sudah memiliki wanita. Wanita yang merupakan pilihan ibunya sendiri. Dan Wanita itu tidak lain adalah mantan kekasih Leon sekaligus wanita yang pernah bersama dengan Frans.
"Stela?" Panggil Jesika pada Stela yang berdiri didepan lift dengan tatapan kosong. "Stela liftnya dah bu---"
"---Ah,Thanks." Potong Stela yang langsung masuk kedalam lift.
"Perusahaan Papa Lo amankan?" Tanya Jesika sesaat keduan didalam lift.
"Aman." Jawab Stela melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 18.30. Ia kemudian menghela nafas panjang lalu melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di dinding lift.
Ting! Suara pintu lift terbuka.
"Stel, mau gue temanin makan gak?" Tawar Jesika meraih tangan Stela sesaat keduanya keluar. "Dari tadi siang Lo belum makan apa-apa." Ucapnya melihat Frans yang melambaikan tangan kearahnya dari depan lobby.
"Thanks." Balasnya menolak dengan melepaskan genggaman tangan Jesika dipergelangan tangannya. "Frans udah nunggu Lo tuh." Melihat ke arah Frans yang melihat kearah keduannya.
"Apa Lo sakit?" Tanya Jesika yang memperhatika wajah Stela yang pucat.
"Enggak." Jawabnya yang kemudian pergi begitu saja melewati Frans yang datang menghampiri Jesika.
"Dia ada nyakitin Lo?" Tanya Frans pada Jesika yang tak bisa melepas pandangannya dari Stela yang kini berbelok masuk ke mobilnya.
"Enggak." Jawab Jesika cemas.
"Terus? Kenapa Lo lihat dia segitunya." Menangkup wajah Jesika agar berhenti melihat ke arah Stela. "Aku Cemburu tahu!" Celetuk Frans yang dibalas cubitan manis diperutnya dari Jesika yang disertai senyum dibibirnya.
"Akhir-akhir ini dia banyak melamun." Ucap Jesika. "Siang tadi dia bahkan gak makan apapun." Tambahnya merangkul lengan Frans sambil berjalan beriringan.
"Oh." Sahut Frans.
"Elo gak khawatir?" Tanya Jesika.
"Khawatir." Jawabnya membuka pintu mobil untuk Jesika.
"Terus kenapa Lo masih disini?" Tanya Jesika.
"Emang Kamu mau Aku kemana." Jawab Frans mendorong lembut Jesika masuk ke mobilnya.
"Nyusul Stela."
"Jes Apa Lo lupa?" Tanya Frans memakaikan seatbelt pada Jesika. "Kalau Gue kesini buat Lo." Menatap Jesika yang selalu mendorongnya pada Stela.
Please,Jangan dorong Aku ke wanita lain. Batin Frans meletakan tangannya dipipi Jesika.
🍁🍁🍁