Unboxing

Unboxing
38. Tak Rela



"Ma-Maaf." Ucap Sandra terbata-bata menarik tubuhnya dari Leon dan bergeser duduk kesudut lift yang sejajar dengan keberadaan Leon. Sementara Leon memperbaiki tubuhnya yang terperosok demgam bangkit duduk bersandar menghadap pada Sandra yang meringkuk sambil memeluk Paper bagnya.


Tak berapa lama kemudian lift kembali beroperasi disertai dengan pencahayaan didalam lift yang membuat Sandra sigap berdiri maju kedekat pintu.


Saat pintu lift terbuka dengan cepat Sandra keluar dari dalam lift yang diikuti oleh Leon dari belakang.


San Lo lari kema---. Batin Leon terputus me dapati Sandra duduk diloby apartemen yang memiliki view kolam renang didepannya. I metakkan paper bag disampingnya sambil menghubungi nomor Frans.


Sementara itu Frans sedang menerima panggilan wanita yang menelponnya saat dirinya berada di apartemen Jesika.


"Bukan siapa-siapa sayang." Ucap Frans sambil menyetir membujuk wanita yang cemburu pada Jesika yang telah mengangkat panggilannya.


"Sayang bohong." Suara wanita itu terdengar. "Sayang bilang sibuk dengan masalah kantor tapi nyatanya malam tidur dengan yang lain." Ucapnya lagi pada Frans yang sudah kesekian kali menerima omelan dari wanita-wanita yang menghangatkan ranjangnya selama ini.


Semenjak dirinya mengenal Jesika Frans kebanyakan menghabiskan waktu dengan kekasih Leon itu. Apalagi setelah ia mengetahui alasan Jesika melemparkan dirinya padanya.


"Frans kenapa kesini lagi?" Tanya Jesika setiap malam yang selalu dikejutkan oleh keberadaan Frans yang berdiri didepan pintunya.


"Gue tidur disini ya." Pinta Frans menerobos masuk begitu saja ke dalam. "Leon gak kesini kan?" Tanyanya melepas jas dan dasinya. Lalu melemparkan kedua benda itu disofa dan pergi menyelonong masuk ke kamar Jesika.


"Frans pulang gih." Menggoyangkan bahu Frans dengan badan yang sudah telungkup diranjangnya. "Kalau Leon sampai tahu gimana?" Tanya Jesika yang selalu mengingatkan Frans hampir tiap malam.


"Biarin aja ketahuan." Jawab Frans berbalik badan memandang wajah panik Jesika mendengar jawabannya.


"Frans!!" Bentak Jesika kesal.


"Apa?!" Jawab Frans tertawa kecil menarik Jesika kepelukannya.


"Lo ngeselin!" Balas Jesika menarik pipi Frans.


"Takut ya ketahuan sama pacar Lo yang dingin itu." Ledek Frans menggapit Jesika dengan kakinya.


"Gue lebih takut sama wanita-wanita lo yang lain." Balas Jesika meledek Frans.


"Takut kenapa?" Tanya Frans melonggarkan pelukan dan gapitan kakinya pada Jesika.


"Dibandingkan mereka gue kan gak ada apa-apanya." Jawab Jesika yang sering berpapasan dengan Frans yang merangkul wanita-wanita kaya itu. Wanita yang berasal dari keluarga Sultan yang berebut naik keranjang pria didepannya ini. "Mereka dah cantik. Terus dari keluarga ter---"


--Cup! Suara kecupan mendarat dibibir Jesika membuat wanita itu terdiam. Ia tidak bisa melanjutakan perkataannya.


"Apaan sih." Ucap Jesika dengan pipi merona. Ia membalikkan badannya memunggungi Frans menyembunyikan wajannya yang tersipu.


"Punggung Lo cantik banget Jes." Goda Frans yang mengetahui wanita itu menyembunyikan wajah meronanya dari dia. Ia menyentuh punggung telanjang itu dengan jemarinya membuat Jesika berbalik badan dan membuat keduanya saling menatap satu sama lain.


"Frans dengar gak sih!" Suara wanita itu membuat Frans terbangun dari lamunannya. "Gue udah didepan Apartemen Lo!" Sambung wanita itu membuat Frans mempercepat laju mobilnya.


****


Sudah satu jam lebih Leon duduk sambil memperhatikan Sandra yang sejak tadi mengotak Atik hapenya dan mencoba menghubungi Frans yang tak kunjung mengangkat panggilannya. Leon mengurungkan niatnya menghampiri gadis itu. Ia merasa ada beberapa orang disekitar loby terlihat seperti cctv pengawas yang memata-matai gerak-geriknya sejak tadi. Leon pun bangkit dari kursinya dan pergi masuk menggunakan lift menuju basement.


Leon yang baru saja hendak menutup pintu mobilnya melihat Frans yang berjalan kearah lift.


"Frans!" Teriak suara wanita yang mengejutkan keduanya kompak. Seorang wanita berlari melemparkan dirinya memeluk Frans yang berdiri didepan lift.


"Dasar!" Celetuk Leon melihat kelakuan Sahabatnya itu yang belum berubah sambil memakai seatbeltnya.


Tunggu deh!. Batin Leon melihat ke Frans yang merangkul wanita itu kini masuk kedalam lift yang akan tertutup. Sandra bukannya mau nemuin Frans? Tanya Leon melepas seatbeltnya. Ia keluar menyusul keberadaan Sandra yang ia tinggal sebelumnya di loby.


Sial!Gue telat. Batin Leon melihat tak ada lagi Sandra disana. Ia pun bergegas memencet tombol lift yang lain untuk menyusul Sandra sambil menelpon asistennya.


"Gue lagi ada urusan mendesak. Batalkan jadwal pertemuan siang ini. Segala urusan diperusahaan gue serahkan sama Lo." Ucap Leon pada asistennya.


"Baik bos." Balas Asisten.


"Kalau papah nanya bilang aja gue ada pertemuan diluar kota." Ucap Leon mengakhiri panggilan keluar dari lift yang berhenti dilantai apartemen Frans.


"Kak Fra---" panggilan Sandra terputus pada Frans yang masuk keapartemennya didahului oleh Wanita yang ikut bersamanya.


"---Ikut Gue." Ucap Leon membekap mulut Sandra dan menarik gadis itu ke tangga menuju lantai apartemenya. Ia membopong Sandra dipundaknya membuat gadis itu memberontak sambil memukul-mukul punggung Leon.


"Lepasin Sandra." Ucap Sandra yang menggantung dipundak Leon. Leon pun menurunkannya ketika mereka sudah berada didalam apartemen Leon.


"Kak Leon jahat." Teriak Sandra yang kini memukul-mukul dada pria itu dengan tangannya membuat paper bag ditangannya jatuh kelantai.


"Sandra,gue gak ada mak---." Leon menangkap tangan Sandra yang mengepal memukulnya sejak tadi.


"----Kak Leon pasti mau gituin Sandra kan?" Potong Sandra menuduh Leon. "Sandra tau kok dari tadi Kak Leon juga ngikutin Sandra sampe ke Loby." Ucapnya sambil menangis. "Sandra kan gak sengaja nyentuh itunya kak Leon." Sambungnya lagi yang kini sambil mengusap matanya yang mengeluarkan air mata. "Lagian bukannya Kak Leon gak kenal Sandra." Ucapnya lagi dengan air mata yang semakin deras. "Kak Leon jahat!" Teriak Sandra yang kembali memukul Leon yang berdiri didepannya. " Kak Leon cuma mau enaknya aja kan." Tuduhnya lagi membuat Leon tak bisa berkata-kata. Ia terdiam seribu bahasa mendengar gadis kecilnya itu memarahinya yang secara tidak langsung menyebutnya baj*ngan.


"Kak Leon ngapain bawa Sandra kesini." Ucap Sandra disertai isakan. "Bukannya kak Leon punya Kak Jesika." Ucapnya lagi membuat Leon mendekapnya.


"Maaf." Ucap Leon memeluk Sandra yang kini hanya terdengar suara isakan tangis. "Gue emang baj*ngan." Ucapnya sambil mengusap lembut punggung Sandra.


Gue gak mau Lo terkena masalah karna Gue. Gue gak tahu kalau apa yang gue lakuin bukannya melindungi tapi malah nyakitin Lo begini. batin Leon menyesalinya. Ia belum bisa menjelaskan pada Sandra alasan dirinya bersikap seolah tidak mengenalnya. Seolah tidak ada yang terjadi diantara keduanya. Perasaan kesal dan marah setiap ia melihat gadis itu tersenyum pada pria lain menyadarkannya.


Gue gak rela Lo bersama dengan yang lain. Batin Leon.