Unboxing

Unboxing
100. Fakta



Suara jedag jedug musik bergema diruangan yang penuh oleh orang yang menari dengan segelas minuman ditangannya. Leon memutar gelas yang berisi koktail di meja bar ditemani Simon yang berhasil menemukan hubungan Rahel dengan anak laki-laki satu sekolah Sandra.


"Namanya Tristan Alaska Bos." Ucap Simon melihat dokumen yang ada ditangannya. "Dia satu-satunya siswa disekolah yang akrab dengan Nona Sandra." Lanjut Simon. "Kabarnya mereka adalah sepasang keka---" ucap Simon terjeda melihat Leon yang hampir meremuk gelas ditangannya. "---Hanya gosip Bos." Sambung Simon merampas gelas kocktail dari tangan Leon.


Ckckck!Bos sadar umur. Batin Simon meledek Leon yang jatuh cinta dengan gadis delapan belas tahun.


"Lo yakin?" Tanya Leon yang kembali menarik gelasnya dari Simon dengan kesal.


"Dia cuma salah satu penggemarnya dari sekian laki-laki disekolahnya." Jawab Simon masih menggoda Leon. "Bos tahu gak kalau Nona Sandra itu adalah pacar impian laki-laki disekolahnya." Tambah Simon membuat Leon meneguk koctailnya dan meletakkan gelasnya dengan keras dimeja.


Ckckck!Bos ini masih awal belum lagi kalau Nona Sandra kuliah. Entah berapa laki-laki tampan dan lebih muda yang bakal jadi saingan. Batin Simon mengasihani Leon yang kelak harus bersaing dengan banyak pria.


"Apalagi selain itu?" Tanya Leon membuka kancing atas kemejannya dan melonggarkan dasinya.


"Aih,Nona Sandra bahkan sering mendapatkan bunga di meja dan lokernya setiap pagi." Ucap Simon melirik Leon yang semakin terbakar cemburu. "Berdasarkan penyelidikan Sandra dan Tristan hanya teman." Membalikan halaman dokumen melihat informasi yang lain.


Mari kita akhir sampai disini mengenai Sandra. Kalau enggak bos gue bakal hancurin gelas-gelas minuman di depannya. Batin Simon.


"Gimana dengan Rahel?" Tanya Leon.


"Rahel adalah kakak kandung Tristan Bos." Jawab Simon.


"Apa?" Tanya Leon terkejut.


"Rahel datang sebagai perwakilan orang tua dari Tristan." Jawab Simon.


"Rahel gak pernah bilang kalau dia punya adik." Ucap Leon.


"Punya Adik dari ayah yang berbeda cukup memalukan Bos." Sahut Simon.


"Ayah berbeda?" Tanya Leon.


"Ya!Mereka kakak adik dari satu ibu tapi beda ayah." Lanjut Simon menjelaskan.


"Hah!Rahel punya dua bokap." Ucap Leon yang baru mengetahui profil keluarga mantan kekasihnya itu.


"Bukan." Sahut Simon. "Tristan hasil dari perselingkuhan Ibunya Rahel dengan seorang pria." Sambung Simon menutup dokumennya sambil melihat Bosnya yang masih tercengang. "Pertemuan Rahel dan Nona Sandra dipastikan tidak ada unsur kesengajaan Bos." Lanjut Simon mengakhiri laporannya sambil meneguk minumannya dengan mengedipkan matanya pada gadis-gadis yang menari dibelakangnya.


"Alexandra itu pacar Lo bukan?" Tanya Rahel pada Tristan yang sejak kemarin dilempari pertanyaan demikian oleh kakaknya itu.


"Bukan." Jawab Tristan akhirnya.


"Tapi Lo sukakan sama dia?" Tanya Rahel yang duduk di ranjang Tristan.


"Semua laki-laki disekolah gue suka sama dia." Jawab Tristan yang sibuk dengan komputernya.


"Termasuk Lo kan?" Tanya Rahel.


"Iya." Jawab Tristan singkat.


"Lo dekat sama dia?" Tanyanya lagi.


"Lumayan." Jawabnya singkat.


"Dia udah punya pacar gak sih?" Tanyanya lagi sambil menggoyang-goyangkan kakinnya.


"Kak, Lo kenapa sih dari kemarin kepoin Sandra?" Balas Tristan memutar kursinya menghadap Rahel yang menghentikan kakinya.


"Gak kenapa-napa." Jawab Rahel mengangkat bahunya sambil memayunkan bibirnya. "Gue cuma mau bantu Lo doang." Ucap Rahel.


"Bantu apaan?" Tanya Tristan mengerutkan keningnya.


"Bantu dapetin dialah buat adek gue yang tampan." Jawab Rahel menggoda Tristan.


"Gak usah!" Tolak Tristan berbalik memutar kursinya lagi membelakangi Rahel.


Jangan-jangan Tristan juga tahu hubungan Sandra dan Leon. Batin Rahel.


"Dia udah punya cowok yang disuka." Jawab Tristan mengingat cerita Sandra padannya tentang anak laki-laki tampan yang mencium dan melamarnya saat masih kecil.


****


Pukul 00.00 perut Stela kembali berkeroncong memintanya untuk turun dari ranjang. Dengan langkah kaki pelan ia beranjak keluar kamar menuju lantai dapur yang ada dilantai dasar. Satu hari terakhir ini ia merasa nafsu makannya tak beraturan. Kadang nafsu kadang sama sekali gak mau makan apapun.


"Apa yang kupikirkan?" Tanya Stela pada dirinya yang mengeluarkan semua makanan yang ada di lemari. "Leon dengan Sandra." Meletakkan makanan di meja bar yang ada di dapur. "Frans dengan Jesika." Mengeluarkan susu cair dari dalam kulkas. "Gio dengan Rahel?Hah!" Memasukkan makanan kemulutnya dengan begitu lahap dan air mata yang jatuh tanpa ia sadari.


"Leon benar-benar dermawan." Pujinya sambil menikmati tiga jenis hidangan pembuka dan satu jenis hidangan penutup. "Ia bahkan memberikan mantan-mantannya pada kedua sahabatnya." Cibir Stela yang kini meneguk susu mengakhirinya mukbangnya.


"Sejak kapan aku makan sebanyak ini?" Tanyanya tersadar melihat semua makanan didepannya habis tak tersisa.


Sepuluh menit berlalu Stela duduk bersandar disofa ruang keluarga sambil mengusap perutnya yang kekenyangan.


Uhm!Hoek! Stela tiba-tiba mengeluarkan makanan yang ia makan sebelumnya ditangannya. Lalu ia bangkit dari sofa menuju kamar mandi yang ada didekatnya.


Brakk! Suara Stela mendorong pintu dan menjatuhkan diri dilantai sambil menggapai closet.


Hoek!Houekkk! Suara mual dan air saling bersahutan terdengar hingga ketelinga Rosa yang mengejar Adit yang keluar dari kamar menuju lantai dasar.


"Pokoknya mama mau--" pinta Rosa terjeda sekaligus menghentikan langkah kakinya.


"Papah gak mungkin langsung lepasin Stela begitu saja sendirian mengurus itu semua." Sahut Adit yang menuruni tangga membuat Stela menutup mulutnya dikamar mandi.


Apa yang mamah dan papa ributkan. Batin Stela mendekatkan telinganya menguping pembicaraan Adit dan Rosa.


"---Papah tadi gak ada dengar sesuatu." Sambung Rosa melanjutkan langkahnya melihat kebawah.


"Gak ada apa-apa mah." Ucap Adit yang tidak mendengar suara Stela.


"Yang lain udah tidur kan pah?" Tanya Rosa berbalik menoleh ke kamar Stela dan Sandra bergantian.


"Emang siapa lagi yang mau berkeliaran di jam segini?" Balas Adit yang membuka laci dibawa tv.


"Mama mau papa memberitahu Stela mengenai semuanya." Ucap Rosa kembali ke topik.


"Iya,tapi Papa cari waktu yang tepat ." Sahut Adit mengambil dokumen dari dalam laci. "Untuk mengatakan bahwa kita bukan orang tua kandungnya Stela." Ucap Adit yang membuat Stela lemas dengan menyadarkan dirinya didinding.


Aku bukan putri papah dan mamah. Batin Stela disertai air mata yang kini jatuh membasahi pipinya.


"Kenapa pah?" Tanya Rosa. "Dari awal Mamah gak pernah setuju tinggal bersamanya." Ucap Rosa yang kini merobek-robek hati Stela mendengarnya. "Papah lihat." Tegas Rosa. "Kita bahkan ngasingin putri kandung kita sendiri demi dia." Keluh Rosa.


"Tapi mah kita harus memikirkan kondisi kesehatan Stela." Bujuk Adit.


"Gak Pah!Mama rasa ini sudah cukup." Tegas Rosa yang mengetahui Sandra selama ini berada dalam genggaman Leon.


Entah apa yang sudah dilakukan Leon pada putriku selama ini. Aku hanya sibuk memikirkan kesehatan Stela. Batin Rosa yang telah berhasil mengumpulkan informasi mengenai hubungan Leon dan Sandra.


"Mah." Bujuk Adit.


"Putri kita Alexandra bukan Auristela. Aku harap papa tidak lupa dengan itu." Tegas Rosa merampas dokumen dari tangan Adit. "Jika papa gak punya keberanian untuk mengatakannya." Berbalik badan. "Biarkan mamah yang mangatakannya."


Sakit memang tapi itu fakta yang harus ia terima. Batin Rosa meninggalkan Adit disertai air mata yang tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi Stela.


🍁🍁🍁


Wow! Tembus 100 episode Tuing!!


Berikan Vote lalu tinggalkan like dan Coment untuk dukung Author tercihuyy 🀣🀣🀣