
Bi Ema dengan secarik kertas ditangannya berjalan mendekat pada Rosa yang sedang menikmati makanan malam bersama Adit dan Stela.
Dengan sangat hati-hati Bi Ema meletakan kertas bersamaan dengan piring kecil disamping piring majikannya. Ia sengaja agar tindakannya itu tidak terlihat Stela yang akhir-akhir ini mulai mengawasi gerak-geriknya jika didepan Rosa.
Rosa menindih kertas pemberian Bi Ema dengan piringnya. Lalu memberi kode ucapan terimakasih pada Bi Ema. Rosa tahu kertas itu pasti pesan yang ditinggalkan putrinya untuknya.
Di saat bersamaan Stela mengerutkan keningnya memikirkan siang tadi seperti melihat mobil Leon berpapasan saat dirinya keluar dari rumah. Namun ia tidak yakin dengan penglihatannya sendiri mengingat Leon tidak memiliki urusan berada di area tempat tinggalnya itu.
"Bodoh!" Ucap Stela.
Bisa-bisanya aku lupa melihat plat mobil itu saat berpapasan. Batin Stela yang melupakan hal yang seharusnya bisa membantunya.
"Siapa yang bodoh Stela?" Tanya Adit menatap Stela yang terlihat geram dengan sendok dan garpu yang digenggam dengan sekuat tenaga.
"Gak ada Pah." Jawab Stela menancapkan garpunya pada daging dipiringnya. "Bi!" Panggil Stela pada Bi Ema yang hendak pergi.
"Iya Non." Sahut Bi Ema berbalik badan.
"Sandra dimana?" Tanya Stela dengan mengernyitkan alisnya.
Sore tadi sepulang kelayapan Stela sudah dari kamar Sandra tapi ia tidak menemukan adiknya itu ada disana. Ia juga memeriksa sejak kemarin malam ,pagi tadi,siang sebelum ia keluar. Namun,Ia masih belum menemukan keberadaan Sandra.
"Anu Non,Bibi gak tahu Non Sandra pergi kemana." Jawab Bi Ema berbohong. "Tuan,Nyonya saya kembali ke belakang dulu." Pamit Bi Ema meninggalkan tempat.
"Pah,Mah lihat deh Sandra dari semalam sampai hari ini belum pulang juga." Adu Stela kesempatan memancing amarah Adit dan Rosa terhadap Sandra. Ia amat senang jika tak ada satu pun dari mereka yang tak mempedulikan Sandra. Sehingga kasih sayang itu hanya tertuang untuknya seorang.
"Mungkin sebentar lagi bakalan datang." Sahut Adit melirik ke Rosa yang terlihat seperti mengetahui dimana keberadaan putri mereka.
"Jangan-jangan anak itu lagi jual diri kali." Cibir Stela.
"STELA!!" Bentak Adit membuat Rosa dan Stela terkejut. Tangan Stela gemetar melihat reaksi Adit menatapnya dengan tajam penuh kebencian dan amarah.
Belum pernah Adit terlihat semarah itu hingga membuat Bi Ems dan Mang Danu yang jauh dari keberadaan mereka mengelus dada mengintip dari balik pintu. Keduanya tidak tahu jelas apa yang dikatakan Stela sampai membuat majikannya itu membentak Stela.
Adit tidak pernah membentak sekeras dan semarah ini sebelumnya. Ia tahu apa yang telah diperbuat Stela kepada putrinya itu dibelakangnya. Ia tahu apa yang dilakukan Stela untuk menindas Sandra. Namun,tidak pernah sekalipun putrinya itu mengadu akan perlakuan Stela padanya. Stela menganggap putinya itu melakukan hal kotor membuat Adit tidak mampu menahan amarah. Seoalah tuduhan Stela menjadi tempat Adit meluapkan amarah yang sudah ia tahan bertahun-tahun lamanya.
"Cukup Stela." Belum melepas tatapannya pada Stela. "Kamu benar-benar kelewatan."
"Aku mau tidur." Ucap Stela bangkit dari kursinya meninggalkan meja makan begitu saja. Melihat Stela pergi meninggalkan keduannya giliran Rosa memberikan secarik kertas yang sejak tadi membuatnya berusaha menahan air matanya untuk tidak jatuh.
Adit membuka lipatan kertas itu.
'Pah,Mah...Sandra pergi kampung halaman teman Sandra di desa. Sandra akan menghabiskan liburan disana. Jangan khawatir Sandra akan jaga diri dan tidak akan merepotkan keluarga mereka.' tulis Sandra dikertas itu.
****
"Apa? liburan didesa?" Tanya Leon yang duduk ditepian ranjang dengan Sandra. Ia baru mengetahui kebohongan yang ditinggalkan Sandra pada orangtuanya.
"Iya kak." Jawab Sandra mendongak membiarkan Leon membantunya mengolesi salep penghilang bekas ciuman yang berada dileher dan juga sekitar kulit area tulang selangka.
Leon menanyakan pesan yang Sandra tulis untuk mengalihkan gairahnya yang sejak tadi dihadapkan pada belahan dada Sandra. Ia menelan ludahnya setiap kali suara rintih Sandra terdengar seperti desahan. Rasanya ia ingin memagut bibir Sandra dan menenggelamkan lidahnya di dalam bibir yang sedikit menganga itu.
"Selesai." Ucap Leon mengakhiri sebelum gairahnya benar-benar meledak.
"Kalau terusan gerak-gerakin kaki yang ada gue bisa lihat daleman Lo." Ucap Leon memperbaiki gaun Sandra yang tersikap keatas memperlihatkan setengah pahanya.
"Makasih Kak."
"Lain kali, gaunnya langsung gue lepas ya." Ancam Leon menakut-nakuti Sandra.
"Iya." Jawab Sandra bangkit duduk memperbaiki gaun tidurnya. Sementara Leon bangkit berdiri meletakkan obat ditangannya di atas cabinet dan menemukan tumpukan lembaran kertas yang di Staples keluar dari ransel Sandra yang terbuka.
"Sandra ini apa?" Tanya Leon meraih tumpukan itu.
"Jangan!" Teriak Sandra melihat kertas ujiannya ditangan Leon. "Jangan dibuka Kak." lanjutnya berdiri dengan cepat Sandra berusaha mengambil tumpukan itu yang ternyata adalah kertas lembaran ujiannya.
Jangan sampai Kak Leon melihat nilaiku yang jelek tertulis disetiap lembaran. batin Sandra.
Leon yang melihat reaksi Sandra malah menjauhkan kertas-kertas ditangannya membuat Sandra kesusahan mengambilnya. Sandra melompat-lompat dengan satu tangannya menyentuh dada Leon dan tangan lainnya mencoba meraih kertas yang tidak dapat ia jangkau.
"Kalau Lo begini terus kita bisa jatuh." Ucap Leon memegang pinggang Sandra dengan tangannya yang lain.
Belum ada beberapa detik Leon memperingatinya tiba-tiba saja kaki Sandra tergelincir lalu tangannya menekan dada Leon membuat Pria itu kehilangan keseimbangan.
Brakk! Tubuh Leon pun ambruk jatuh ke atas ranjang bersamaan dengan Sandra yang menindihnya dari atas.
"Gue bilang juga apa." Ucap Leon melipat lengan dan menjadikannha bantal dikepalanya. Lalu Ia menatap Sandra yang telungkup diatas tubuhnya membuat hampir setengah gundukan yang tersembunyi dari balik bra itu terlihat jelas olehnya.
"Kak Leon maaf." Merangkak pelan diatas tubuh Pria itu membuat belahan dada dan keseluruhan bagian atas dada Sandra membangkitkan gairahnya.
Sial! Umpat Leon merasakan adiknya telah bangun karna gesekan dan juga pemandangan didepan matanya.
"Aku gak sengaja." Ucap Sandra meraih kertas yang terjatuh disamping kepala Leon.
"Sandra." Panggil Leon melingkarkan tangannya di pinggang Sandra. "Lo mau ngapain?" Tanya pria itu dengan berbalik hingga kini tubuhnya sekarang yang menimpa tubuh Sandra.
"Aku mau ambil ini kak." Jawab Sandra menutupi wajahnya dengan kertas ditangannya. Ia tidak sanggup menatap dengan posisinya yang sekarang dibawah tubuh Leon. Sementara Leon perlahan menempelkan adiknya pada paha Sandra sambil melihat nilai lima puluh tertulis dikertas yang menghalangi pandangannya pada Sandra.
"Bodoh." Ucap Leon.
"Tapi cantikkan Kak." Ujar Sandra pelan-pelan menurunkan kertas yang menghalangi pandangannya pada Leon.
Leon hanya diam mendengar kenarsisan Sandra sambil mengesek perlahan miliknya.
"Arghh!" Keluh Leon tak tahan ingin menyikap gaun yang menghalangi.
"Kak Leon kesal ya sama Aku." Ucap Sandra merasakan sesuatu mengganjal atas pahanya.
"Enggak." Sahut Leon berdiri dari tubuh Sandra sebelum gadis itu menyadari tindakannya.
Gue kesal sama gue yang jadi Bego. Batin Leon mengumpat dirinya meninggalkan Sandra.
Tak pernah terpikirkan akan ada saat dimana ia gak bisa menerkam sesuka hatinya jika hasrat sudah berada dipuncak.
Bego! Umpat Leon masuk kekamar mandi.