
"Maksud Lo ,Gue?" Tanya Stela mengernyitkan keningnya menatap Tristan dari ujung sepatu hingga kepala.
"Eh,Bu-bukan." Sangkal Tristan. "Maksud aku, pengantin wanita yang tertawa bahagia disana." Jelasnya menunjuk Sandra dengan buket ditangannya.
"Tunggu!" Ucap Stela memutar wajah Tristan kearahnya. "Jangan-jangan Lo itu----"
"---Dia adek Gue,Tristan!" Potong Rahel merangkul Tristan dan menariknya menjauh dari Stela. "Kenapa?" Tanya Rahel menepis tangan Stela yang masih tersangkut di dagu Tristan.
"Oh,adek lo." Jawab Stela.
"Dia Kakaknya Alexandra." Ucap Rahel memberitahu Tristan. "Gimana? Lo dah kasih selamat ke cinta pertama Lo?" Tanya Rahel melihat ke tempat Sandra berada. Ia menemukan gadis itu mengenakan kalung dengan desain yang pernah ia lihat di buku favorit Leon.
"Gue rasa, masih ada yang belum bisa melu---"
"----Gue udah mengiklaskannya." Potong Rahel pada tuduhan Stela.
"Kapan?" Tanya Stela mencibirnya.
"Sedetik yang lalu." Jawabnya. "Gimana dengan Lo?" Tanya Rahel yang kini mendapati Leon menatap dalam pada Sandra yang tertawa dengan guyonan Frans dan Gio didepannya.
"Elo nanya gue?" Tanya Stela melihat apa yang dilihat Rahel.
"Gue nanya Tristan." Jawab Rahel. "Apa Lo udah melupakannya,sayang?" Tanya Rahel melihat ke Tristan.
"Belum." Jawab Tristan. "Jika ada peluang Aku akan merebutnya kembali." Lanjut Tristan melihat ke Leon. "Tapi---" ucapnya terjeda saat melihat Sandra meraih jemari Leon di kerumunan orang. Kemudian dengan cepat Leon membalasnya,hingga jari itu saling bertaut.
"---Tapi apa?" Tanya Rahel dan Stela kompak.
"Sepertinya sangat sulit berurusan dengan pria yang sepuluh tahun lebih tua dari kita." Jawab Tristan melangkah kearah Sandra yang kini melihat keberadaannya.
"Tris!" Seru Sandra melambaikan tangannya yang lain ke Tristan membuat Leon melihatnya. Leon mendapati Rahel menyapanya dengan senyum dikedua sudut bibirnya.
"Gue gak segan menarik rambut wanita yang lebih tua dari gue." Ucap Stela memperingati Rahel yang memberikan senyuman pada suami adiknya itu.
"Akhirnya Lo tahu bagaimana menjadi seorang kakak." Sahut Rahel yang mengetahui bagaimana Stela membenci Sandra sebelumnya. "Gimana kalau kita gabung kesana, sekalian memberi selamat untuk pria yang pernah kita sukai?" Ajak Rahel menyusul Tristan yang sedang memberikan buket bunganya. Namun Leon langsung mendahului Sandra untuk menerima pemberiannya.
"Dasar!" Umpat Rahel menangkap basah Leon yang sedang cemburu pada pria lain. Terlihat jelas dimatanya bahwa Leon menganggap Tristan sebagai saingan terbesarnya, tanpa ia sadari Stela telah berbalik badan melangkah ke pintu keluar.
Brakk! Pintu kembali tertutup.
"Stela kemana?" Tanya Gio pada Rahel yang kini berdiri diantara mereka mendampingi Tristan sekaligus memberi selamat pada Leon dan Sandra. "Bukannya tadi dia sama Lo?" Sambungnya bertanya sambil mencari keberadaan Stela diantara para tamu undangan yang mulai berpamitan untuk pulang.
"Iya, tadi gue pikir dia---" jawab Rahel terputus melihat kebelakang tempat sebelumnya ia dan Stela bersama. "---nyusul gue dibelakang." Sambungnya mengernyitkan kening mencari keberadaan Stela.
Syurr! Suara air mengalir dari keran wastafel toilet wanita disebelah ballroom. Stela memuntahakan makanan yang baru saja masuk kedalam perutnya.
Hoekk! Suara Stela kembali mengeluarkan air yang baru saja ia teguk dari botol yang ia bawa ke toilet. Ia tak tahu menahu mengenai kehamilan,Stela pikir ia tak akan mengalami mual lagi setelah minum obat. Untungnya para tamu dan lainnya sibuk memberi selamat dan berpamitan dari Leon dan Sandra,sehingga tak ada yang mencurigainya saat keluar meninggalkan ballroom dengan membekam mulutnya yang hampir muntah didepan banyak orang.
****
Brakkk! Suara pintu terbuka tampak Simon masuk dengan senyum yang membentang diwajahnya.
Fyuh! Suara Gio menghela nafas berbalik kembali melihat Stela diantara para pelayan hotel yang tersisa di ballroom.
"Dia gak mungkin udah pulang kan?" Tanya Gio melihat Rosa dan Adit masih mengobrol dengan Silvia dan Nadin. "Lo dimana sih?" Tanyanya lagi melihat ke meja lain hanya ada Feny, Fandy,dan Frans duduk menemani Jesika yang sedang dipaksa meminum sesuatu untuk menjaga kondisi kehamilannya. Ia berbalik ke sisi lain malah menemukan Simon yang jadi nyamuk diantara Leon dan Sandra.
"Gio." Panggil David yang baru saja kembali memerintahkan para pengawal Feny untuk membereskan perlengkapan perang yang ia gunakan sebelumnya. "Lagi nyari Stela ya?" Tanya David yang mengetahui kepedulian Gio pada Stela dari sebelum-sebelumnya bukanlah sesuatu yang biasa.
"Iya nih,Om." Jawabnya dengan wajah panik. "Dari tamu-tamu pamit sampai udah tinggal kita doang,dia belum kelihatan." Jelasnya membuat David ikut membatu memperhatikan sekitar.
"Coba kamu telpon." Ucap David yang dibalas gelengan kepala dari Gio.
"Gak diangkat Om, Udah dicoba dari tadi." Jawabnya melihat ke arah pintu yang kembali terbuka. "Sial!" Umpat Gio yang malah mendapati Mona.
"Mungkin lagi di toilet." Ucap David yang tak berapa kemudian suara pintu terbuka lagi. "Tuh anaknya." Melihat Stela melangkah sambil mengusap pelipisnya.
"Stel!" Seru Gio membuat semua melihat ke Gio. "Lo darimana aja sih?" Menghamburkan dirinya menyusul Stela yang kini berjalan sempoyongan.
"Stela!!!" Seru Adit melangkah menghampiri Stela yang kini digendong Gio disusul oleh yang lainnya.
Beberapa menit kemudian,
"Apa yang terjadi,Sil?" Tanya Rosa yang mengusap-usap tangan Stela yang kini berbaring di atas meja yang dirapatkan David dan Fandy sebelumnya. Sementara Silvia mencoba mencari tahu dengan mengecek denyut nadinya.
"Akh." Desis Stela membuka matanya melihat semua mengelilinginya,kecuali Gio yang diminta Silvia mengambil obat di mobilnya. "Kenapa pada disini?" Tanya Stela dibantu Silvia untuk duduk.
"Elo pingsan tadi." Jawab Frans yang berdiri sambil merangkul Jesika disampingnya.
"Sil, apa ada kaitannya sama---"
"---bu-bukan." Potong Silvia yang menyadari kehamilan Stela setelah memeriksanya.
"Lalu?" Tanya Rosa dan semua orang disana yang menunggu jawaban dari Silvia.
"Ini cuma gejala biasa yang kadang terjadi sama wanita hamil Tante." Ucap Jesika membuat Silvia tercengang. "Kemarin aku juga ngalamin." Jelasnya membuat semua orang disana melihat ke Jesika kecuali Silvia dan Stela.
"Tapi kan Stela gak hamil kayak kamu sayang." Sahut Frans membuat semua kembali melihat ke Stela.
"Siapa bilang dia gak hamil?" Tanya Jesika membuat semua kembali menoleh kearahnya. "Tunggu!" Melihat ke Stela. "Stel,Emangnya lo belum bilang ke Gio kalau Lo hamil?"
Prankk! Gelas yang sebelumnya dipegang Adit untuk memberikan minum ke Stela jatuh kelantai.
"Mampus." Desis Stela melipat bibirnya dengan wajah yang ditekuk kebawah.
Brakk! Suara pintu terbuka. Tampak Gio datang membawa tas perlengkapan medis milik Silvia.
"Aktor kita muncul." Celetuk Leon dan Frans kompak melihat ke Gio. Sementara itu Adit melangkah dari tempatnya berpijak menyusul Gio dengan tangan yang mengepal dibawah.
Bukkk! Tangan Adit melayang tepat diwajah Gio mengejutkan semua orang,kecuali Leon dan Frans yang sudah melakukan barter pukulan sebelumnya.
"AW!" Desis Gio yang tak tahu apa-apa. "Om kenapa tiba-tiba mukul Gue?" Tanya Gio menyentuh sudut bibirnya yang berdarah.
"Ckckck!" Decak David menghampiri keduannya. "Gio,Lo udah ngamilin putrinya. Apa Lo tahu?" Menunjuk Stela yang kini melihat kearahnya.
"Stela hamil." Ucap Gio menjatuhkan tas Silvia.
"Kenapa?" Tanya Adit. "Apa Lo mau kabur dari tang---"
"---Gue tahu." Potongnya tersenyum dengan darah disudut bibirnya. "Sejak hasil dari laboratorium keluar,Gue tahu dia hamil. Tapi, dia berusaha keras untuk nyembunyiin itu semua dari Gue." Jelasnya membuat suasana menjadi canggung. "Maaf Om, Aku telah berlaku kurang ajar pada Stela." Meraih tas dari lantai. "Aku begitu menyukainya,hingga membuatku jiwa dan raga ini lupa diri."
"Bohong!" Sanggah Stela. "Kalau Lo begitu menyukai gue. Kenapa Lo gak ngejar gue,Hah! Kenapa Lo gak melakukan yang Leon dan Frans lakukan ke wanita yang disukainya?" Tuntut Stela membuat semua disana menghela nafas.
"Dia benar-benar putri Ansel." Desis Silvia tersenyum pada Rosa dan Adit.
"Bukannya Lo yang gak pernah memberi kesempatan buat gue?" Tanya Gio mendekat. "Saat kecil Lo menetapkan Frans jadi suami masa depanmu." Ucap Gio membuat Frans membawa Jesika dari sana. "Setelah dewasa Lo malah menginginkan Leon." Lanjutnya yang kini Leon pun menarik Sandra sambil merangkulnya.
"Itu karna Lo gak terang-terangan menujukkan perasaan Lo ke gue kayak mereka." Balas Stela. "Lo biarin gue ngejar laki-laki yang udah memiliki seorang dihatinya." Menyalahkan Gio yang kini membungkukkan dirinya di depan Stela.
"Gue cuma mau buat Lo bahagia. Dengan biarin Lo ngejar apa yang lo suka." Ucapnya. "Semua itu gue lakukan karna gue tahu!bahagia Lo itu bukan gue. Egois memang, gue gak ngejar Lo seperti yang dilakukan kedua sahabat gue ke wanita yang mereka cintai." Jelasnya membuat Stela terpaku menatap Gio yang selama ini merelakan perasaannya untuk membiarkan dirinya mengejar sesuatu yang ia inginkan.
"Dan tanpa kita sadari apa yang menurut kita baik untuknya malah membuatnya sakit,bukan?!" Tambah David merangkul Nadin.
"Kecewa dan sebagainya. " Sambung Adit melihat ke Rosa yang saling merangkul dengan Silvia.
"Begitulah Pria yang jatuh cinta. Selalu merasa yang ia lakukan benar." Ucap Fandy melihat Frans yang berlebihan melindungi wanitanya yang justru membuat Jesika gerah.
Namun, tak ada yang salah disana. Mereka hanyalah Pria yang jatuh cinta.
πππ
semoga Senin kalian menyenangkan,jangan lupa untuk vote,like dan Coment terbaik kalian yaπ€π€
thankyou guyssπ€©