Unboxing

Unboxing
30. Saling mengenal



Leon mengembalikan hape kedalam kantong jas putih yang Gio kenakan. Pikirannya kacau memikirkan situasi saat ini. Ia ingin segera kembali ke apartemen menemui Sandra tetapi disisi lain Jesika masih terbaring dan belum sadarkan diri.


"Sial!" Umpat Leon mengacak rambutnya duduk disofa dengan wajah tertunduk. Sudah Berulang kali ia mencoba menelpon ke nomornya dengan harapan Sandra ada didekat hapennya dan mengangkat panggilan darinya. Namun kenyataan tidak selalu sesuai dengan harapan. Tak ada yang menjawab panggilan yang sudah berulang kali masuk ke hapenya.


Sandra...Lo dimana. Batin Leon dalam hati membaringkan tubuhnya disofa dengan meletakkan lengan dikeningnya.


Gio yang pura-pura tidur dengan mata yang terpejam bersandar duduk disofa merongoh kantong jasnya dan memeriksa nomor telpon yang dihubungi temannya itu berkali-kali sejak tadi dengan gerak gerik gelisah dan tampang yang panik.


"Hape Lo tinggal dimana?" Tanya Gio mendapati 20 riwayat panggilan ke nomor Leon.


"Di apartemen." Jawab Leon.


Eh?apa ada orang yang tinggal bersama dengannya diapartemen itu? Tanya Gio dalam hati.


Suara ketukan pintu dari luar membuat Gio mengurungkan niatnya menanyakan kembali. Gio melihat ke pintu yang terbuka tampak seorang perawat masuk dengan membawa pakaian Jesika sebelumnya ketika sampai dirumah sakit.


"Dok ini barang-baranv pasien." Ucap perawat itu menyerahkan pada Gio yang bangkit berdiri menerima. "Sekalian dari tadi hapenya bunyi dok." Ujar perawat itu menyerahkan hape Jesika pada Gio.


"Oh begitu..Makasih ya sus."


"Sama-sama dok." Balas perawat itu pergi keluar.


"Nih,hape cewek Lo." Ujar Gio menarik lengan yang sejak tadi menutupi mata Leon. "Cek dulu siapa tahu ada telpon penting." Sambung Gio menyerahkan hape Jesika ke Leon.


Leon mengusap layar hape Jesika dengan jarinya. Ia mendapati tulisan yang memintanya untuk menggunakan sidik jari atau menggambarkan pola.


"Gue gak tahu kuncinya." Gumam Leon meletakkan hape di atas cabinet yang ada di belakangnya. "Yo,gue boleh minta tolong gak?" Tanya Leon bangkit duduk disofa.


"Boleh aja selama itu bukan bertanggung jawab sama wanita yang lo hamilin." Cibir Gio memeriksa jadwalnya di hape.


"Santai aja kalau itu kejadian gue bakal bantu Lo ngurus anak gue." Sahut Leon.


"Wanita mana yang harus gue tanggung jawabin?" Tanya Gio melihat ke Leon.


"Jesika." Jawab Leon menatap ke Jesika yang terbaring diranjang.


"Dia gak hamil." Ujar Gio. "Kenapa gue harus bertanggung jawab?" Tanya Gio yang sebelumnya memeriksa keadaan tubuh Jesika.


"Lo jagain dia selama gue pergi." Ucap Leon bangkit berdiri. "Kabari gue kalau dia udah sa---." Lanjut Leon terputus ketika suara dering hape Gio berbunyi membuat keduanya saling melihat satu sama lain.


"Bentar." Ucap Gio yang kemudian mengangkat panggilan dari rekan sesama dokter.


"Iya gue kesana." Ujar Gio menutup telponnya pada Leon yang hendak pergi. "Katanya ada pasien yang masuk." Ucap Gio pada Leon.


"Pergilah, Pasien itu lebih membutuhkan pertolongan dari Lo kan." Sahut Leon kembali duduk.


"Kabari gue kalau ada apa-apa sama Jesika." Ujar Gio sebelum dirinya keluar meninggalkan Leon yang gagal pergi menyusul Sandra.


Leon berjaga dan berusaha untuk segera tidur melupakan kegelisahan yang berkecamuk diotak dan batinnya. Ia tidak bisa memejamkan matanya sekalipun. Bolak balik ia berganti posisi memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Pikirannya terus memikirkan keberadaan Sandra yang Ia tinggal begitu saja tanpa pesan apapun.


Fransroso. Batin Leon melihat nama yang tak asing itu muncul dilayar hape yang Leon pegang. Panggilan masuk dari Fransroso untuk Jesika terus berdering membelah kesunyian malam dan kegelisahan dihati Leon.


Leon menarik kursi untuk duduk dekat dengan Jesika dan membiarkan hape itu terus berdering ditangannya. Tak berapa lama kemudian panggilan dari Frans berakhir.


Leon meraih telunjuk Jesika untuk membuka kunci hapenya. Ia pun menemukan sepuluh panggilan tidak terjawab dari Frans di layar hape yang sudah terbuka.


"Gue benar-benar ingin mengakhiri hubungan diantara kita." Batin Leon menatap Jesika dan meletakkan hape itu kembali ketempat semula.


****


Leon berjaga semalaman tanpa tidur. Ia tidak bisa memejamkan matanya dikarenakan sekali setiap dua jam Frans terus menghubungi Jesika. Dering panggilan Frans membuat Leon terjaga hingga matahari kembali datang menyapanya di awal tahun baru.


Entah apa yang dilakukan Gio sehingga membuat Jesika masih tertidur dengan nyenyaknya. Sudah berapa kali perawat datang memeriksa keadaannya dan tidak ada hasil yang perlu dikhawatirkan imbuh mereka.


"Lo yakin dia gak pa-pa ?" Tanya Leon pada Gio yang memeriksa Jesika dipagi hari.


"Dia hanya sedang melunasi jatah tidurnya selama beberapa hari ini kok." Jawab Gio.


"Baguslah kalau hanya itu." Ujar Leon menyibak horden berdiri menatap para perawat lalu lalang di halaman rumah sakit dari jendela.


"Leon." Panggil Jesika lirih membuat Leon mendekat ke ranjang dan pelan-pelan membantu Jesika untuk duduk bersandar. Ia kemudian mengambil bubur yang sudah disiapkan perawat.


"Lo bisa makan sendiri kan?" Tanya Leon yang membuat Gio mengernyit. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut Leon yang kemudian kembali duduk disofa dan membaca koran yang ada dimeja. Sementara Gio tertidur duduk bersandar di punggung sofa.


Usai menghabiskan buburnya Leon beranjak kembali memberikan beberapa pil untuk Jesika yang sudah dipesankan perawat sebelumnya saat meninggalkan bubur untuk Jesika.


"Istirahatlah yang cukup. Jangan menyiksa tubuh terlalu banyak saat bekerja." Ucap Leon menarik selimut untuk Jesika yang kembali terbaring.


"Maaf udah---."


"----Tak perlu. Gue tahu Lo ngelakuin itu buat gue." Ucap Leon memotong ucapan Jesika. "Istirahatlah." Perintah Leon menyelimuti Jesika yang kembali terbaring.


Tidak membutuhkan berapa lama Jesika kembali tertidur begitu juga dengan Gio yang merentangkan tubuhnya disofa.


Hape Jesika kembali berdering dari orang yang membuat Leon terjaga semalaman. Panggilan Frans itu juga membuat Leon teringat kembali pada Sandra. Ia pun mengabaikan panggilan Frans dengan meraih kunci mobil dan pergi meninggalkan ruangan begitu saja.


Dua jam berlalu setelah kepergian Leon. Hape Jesika kembali berdering. Kali ini suara itu berhasil membangunkan Gio yang tertidur disofa. Gio mengucek matanya dan melihat tidak ada Leon disana. Hanya ada ia dan Jesika yang tertidur dengan hape yang bergetar di atas cabinet disebelahnya.


Gio pun bangkit dari sofa melangkah meraih hape yang berdering mengusik tidurnya itu.


"Frans?" Batin Gio melihat nama Fransroso dilayar hape milik Jesika.


Bagaimana mungkin. Batin Gio meraih hape itu dan melihat ke Jesika yang tertidur pules.


Mereka saling mengenal. Batin Gio mengeryitakan keningnya.