Unboxing

Unboxing
58. Sampai disini



Leon melepas atasan Sandra hingga memperlihatkan dua gundukan yang masih tertutup bra. Ia kemudian merangkul tubuh Sandra sambil meraup bibirnya yang dibalas oleh Sandra yang semakin hari semakin tahu mengimbangi Leon saat menciumnya.


Tangan Leon kini naik meraba punggung Sandra dengan jarinya yang perlahan melepas kaitan bra-nya.


Krekk! Suara pintu terbuka membuat Leon yang berhasil melepas bra Sandra terhenti. Keduanya saling melihat satu sama lain.


"Mamah." Ucap Leon melihat ke Sandra.


"Sandra kemana nih kak?" Tanya Sandra turun dari pangkuan Leon sambil mengkaitkan kembali bra-nya.


"Sini gue bantu." Ucap Leon membantu mengkaitkan dan memakaikan kembali bajunya. Lalu menggendong Sandra dengan langkah pelan dari balik-balik perabot menutupi tubuh mereka menuju tangga ke kamar Leon.


"Leon!" Panggil Nadin melepas sepatunya dan melihat sepatu sneakers yang size-nya lebih kecil diantara sepatu Leon yang ada disana.


"Kok gak ada orang." Gumam Nadin meletakkan bawaannya di meja. Ia meraih hape dan menghubungi Simon.


"Iya Nyonya Bos." Simon menerima panggilan Nadin. "Ada yang bisa Simon bantu Nyonya Bos?" Tanya Simon menghentikan sebelas jarinya yang mengetik di keyboard.


"Kamu bilang Leon ada di Apartemennya." Ucap Nadin.


"Emang iya Nyonya Bos." Sahut Simon meraih hapenya yang iya jepit dengan telinga dan bahunya. "Bos Leon gak ke kantor hari ini." Sambungnya lagi mengecek hape yang lain.


"Saya ini sudah diapartemen Bos kamu." Ucap Nadin berdiri. "Tapi dari tadi saya panggil-panggil itu anak gak ada nyahut." Melangkah kearah dapur.


"Mungkin masih tidur Bos." Ucap Simon memeriksa pesan dari Leon pagi tadi untuknya.


Simon yang tadi pagi menelpon kenomor Leon ditolak selalu oleh Sandra. Sandra kemudian mengirim pesan pada Simon agar berhenti melakukan panggilan.


"Kamu yakin itu anak di Apartemen." Ucap Nadin memperhatikan meja makan yang masih utuh dengan beberapa piring bekas makan juga lauk dan sup yang belum sempat dibereskan Sandra.


"Saya lagi sakit jadi gak bisa ke kantor hari ini." Ucap Simon membaca ulang pesan yang ia dapat pagi tadi. "Itu isi pesannya Nyonya Bos." Ucap Simon.


"Yaudah kalau gitu." Ucap Nadin menutup telpon dan memperhatikan satu persatu kekacauan yang terjadi didapur putranya. Ia melangkah kedekat kulkas.


"Dia masih tinggal sama gadis itu." Ucap Nadin memperhatikan satu persatu isi kulkas yang kini penuh dengan box-box berisi kupasan bawang hingga rempah lainya. Ia juga menemukan wortel yang sudah dipotong-potong serta sayuran lain. "Hm, Gadis ini bahkan lebih telaten dariku." Ucap Nadin melirik ke kompor yang didepannya memiliki beberapa botol-botol beragam saus hingga minyak zaitun.


"Eh?!" Melihat mangga dan buah lainya dipotong dadu didalam box. "Dia bahkan jauh lebih baik mengurus putraku." Ucap Nadin melihat kearah kamar Leon.


****


Leon keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah. Ia duduk ditepian ranjang dibantu oleh Sandra mengeringkan rambutnya.


"Mamah masih ada manggil gak?" Tanya Leon sambil memakaikan bodylotion dilengan dan kulit lainnya.


"Masih kak." Jawab Sandra menarik handuk dari kepala Leon.


"Pintunya gak Lo bukakan?" Tanya Leon mengoles cream di wajahnya.


"Sandra kunci." Jawab Sandra memperhatikan Leon yang begitu menawan kini mengenakan kaos putih polos lalu mengibaskan rambut cepaknya.


"Cup!" Suara kecupan Leon yang tiba-tiba membuat Sandra yang tadi terpaku akannya sontak terkejut dengan mata yang berkedip.


"Aku samperin mama dulu ya." Pamit Leon bangkit berdiri meninggalkan Sandra yang menyentuh bibirnya yang baru saja dikecup Leon dengan pipi merona.


"Mah!" Panggil Leon berjalan kearah ruang tamu dan melihat tas Nadin masih ada di atas sofa dan sebuah plastik yang didalamnya terdapat box dessert. Ia membuka dan coleknya dengan telunjuk lalu memasukannya kedalam mulut. Leon mengulanginya lagi dan lagi.


"AW!" Desis Leon menarik jarinya.


"Pantang!" Ucap Nadin menutup memotong bekas colekan Leon dan menyuapinya ke mulut putranya itu.


"Hmmm." Suara Leon menikmati dessert buatan Nadin yang gak ada tandingannya.


"Enak?" Tanya Nadin dibalas anggukan Leon yang meraih potongan dessert yang ada disendok Nadin dan mengarahkannya masuk kemulutnya lagi dan lagi. Sandra yang menyusul Leon diam-diam memperhatikan Nadin yang begitu menyayangi Leon.


"Kamu masih berhubungan sama gadis itu ya?" Tanya Nadin membuat raut wajah Leon berubah 360 derajat begitu juga dengan Sandra yang berada dibalik gorden sebelah tangga.


Mamah Kak Leon tahu aku ada disini. Tapi dari kata-katanya Mamah Kak Leon seperti udah tahu lama. batin Sandra.


"Mamah ngomong apa?" Tanya Leon menutup dessert. "Leon gak ngerti." Ucap Leon membawa dessert pergi ke dapur menghindar dari pertanyaan Nadin.


"Leon dia masih sangat muda." Ucap Nadin mengikuti Leon dari belakang. "Apa kamu gak berpikir resiko memainkan perasaan gadis muda seperti itu?" Tanya Nadin membuat Sandra menyusul keduanya dengan sangat hati-hati sambil mendengarkan apa yang mereka bicarakan.


"Siapa yang mainkan perasaan mah?" Tanya Leon menutup lemari es dengan kuat.


"Bukan hanya perasaannya tapi kamu juga permainkan tubuhnya kan?" Tanya Nadin yang tahu seperti apa putranya itu.


"Mamah!" Teriak Leon membuat Sandra meringkuk dibalik meja yang terhalang vase bunga diatasnya.


"Bagaimana kalau gadis itu jatuh cinta padamu?" Tanya Nadin membuat Sandra tersentuh ia merasakan kepedulian Nadin padanya. "Dan diwaktu yang sama kamu menemukan peri kecilmu itu." Ucap Nadin yang mengetahui putranya itu selalu mencari anak perempuan yang bahkan ia juga tidak tahu anak mana dihari itu yang membuat putranya tak berhenti menemukannya.


Sepenting itukah peri kecil dihati Kak Leon. Batin Sandra yang hatinya kembali lagi patah.


"Leon tahu apa yang harus dilakukan." Jawab Leon.


"Kamu bakal meninggalkan gadis yang mengubah apartemenmu yang dingin ini jadi hangatkan." Ucap Nadin membuat Leon terpaku. "Mama tahu dia ada disini." Melihat ke sekitar ruangan mencari keberadaan Sandra. Nadin memiliki firasat Sandra sedang mendengarkan pembicaraanya dengan putranya. "Kamu harus selesaikan hubungan dengan gadis itu sebelum ia jatuh lebih dalam." Ucap Nadin pergi meninggalkan Leon.


Prankkk! Suara gelas yang Leon lempar kelantai setelah Nadin pergi meninggalkannya.


"Arghhh!" Teriak Leon marah membuat Sandra menyadari satu hal dari sikap Leon.


"Kak Leon!" Panggil Sandra keluar dari persembunyiannya.


"Sudah berapa lama Lo disana?!" Tanya Leon melihat Sandra yang berjalan mendekatinya.


"Kak Leon pilih peri kecil aja." Jawab Sandra. "Sandra gak pa-pa kok." Dengan mata yang berlinang. "Lagian Sandra juga bakal nikah sama Kak Frans." Menundukkan wajahnya kemudian berbalik badan membelakangi Leon dengan air mata yang kini jatuh membasahi pipinya.


"Sandra." Panggil Leon.


"Hm!" Sahut Sandra menahan isakan yang keluar dari bibirnya melangkah ke meja dan meraih piring.


"Lo mau dessert?" Tawar Leon membuat tangan Sandra lemas hingga membuat piring yang ditangannya jatuh.


Prankkk!


"Sandra hati-hati!" Teriak Leon menangkap tangan Sandra yang hendak meraih pecahan kaca. "San lihat gue." Pinta Leon pada Sandra yang menunduk menyembunyikan wajahnya yang basah karna air mata yang terus berurai.


"Kak Leon,kita sampai disini aja ya." Pinta Sandra bangkit berdiri mengusap air matanya pergi.