
Jesika menangis terisak sambil menutup mulutnya bangkit berdiri didepan mobil Leon. Frans yang melihatnya hanya bisa bersembunyi dari balik kolom besar disekitar basement. Ia mendengar semua yang dikatakan Jesika ditelpon pada Leon sejak tadi. Ingin rasanya dia memeluk Jesika namun tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiam mengingat apa yang telah keluar dari mulutnya sebelumnya.
"Kenapa hati gue sesak lihat dia begitu?" Tanya Frans pada dirinya yang melihat Jesika yang terus-terusan menyalahkan dirinya dan minta maaf pada Leon sejak menutup telpon.
Tak tahan melihat Jesika demikian Frans melangkah maju menghampirinya. Namun langkah itu terhenti ketika suara dering panggilan berbunyi dari sakunya yang membuat Jesika tersadar akan keberadaannya. Ia berdiri mencari asal datangnya suara itu.
"Frans." Ucapnya mendapati Frans berdiri membatu dengan suara dering hape yang masih berbunyi.
"Gu-Gue gak ada maksud menguping." Ucap Frans gugup. "Ya-Iyaa. Gue,Gue cu-cuma kebetulan le---."
"---Gak perlu merasa begitu. Bagaimanapun Lo juga tau sehina apa gue." Potong Jesika mengusap air dipipinya.
"Maksud gue buk---"
"---Gue harap ini terakhir kalinya kita bertemu Frans." Potong Jesika lagi membuat Frans terdiam membeku. "Gue pergi dulu." Pamit Jesika berbalik badan.
"Tunggu Jes!" Panggil Frans meraih tangan Jesika. "Gue antar Lo pulang ya?" Tawarnya pada Jesika yang melepaskan tangan Frans dari pergelangan tangannya.
"Gue bisa pulang sendiri kok." Balas Jesika. "Lo punya telpon penting." Ucap Jesika menunjuk hape disaku Leon yang masih berdering sejak tadi.
"Jes." Panggil Frans. "Gue gak ada maksud menghina Lo." Ucapnya mengingatkan kejadian sebelumnya.
"Gue tahu." Ucap Jesika berbalik.
Tadinya Gue datang untuk mengakhiri hubungan yang gue miliki dengan Leon. Tapi sebelum itu terjadi Kak Leon sudah tidak ingin bertemu denganku lagi. Batin Jesika pergi meninggalkan Frans.
Malam minggu yang adalah malam yang banyak digunakan oleh sepasang kekasih bergendengan tangan berjalan beriringan. Cafe yang berjejer dipinggiran kota menunjukkan pesonanya untuk menarik setiap pasangan untuk singgah menghabiskan waktu berdua.
Jesika duduk di sebuah coffee shop seorang diri ditemani oleh segelas Latte. Ia memandang sekelilingnya yang dipenuhi oleh pasangan muda maupun tua saling memikat pasangan masing-masing.
Tak sadar air matanya menetes membasahi pipinya mengingat Leon yang membawanya ketempat itu.
"Sepertinya takkan ada lain kali lagi." Ucapnya dengan wajah tertunduk menatap foto Leon yang ada dihapenya.
Sedangkan di tempat lain ada Frans yang baru saja tiba di kediaman wardana . Ia melangkah masuk kedalam rumah dengan wajah lesu tanpa mempedulikan Feny yang menyambutnya.
"Anak kamu kenapa pah?" Tanya Feny heran melihat putranya yang tumben-tumbennya kembali kerumah dimalam Minggu begini.
"Mungkin dia sudah bosan bermain dengan wanita-wanita itu." Jawab Fandy tersenyum melihat putranya yang tidak berkeliaran membawa wanita pulang keapartemennya malah pulang kerumah.
Frans melepas pakaiannya dan menenggelamkan dirinya di bawah shower yang membasahi kepala dan sekujur tubuhnya sambil memikirkan Jesika.
Sementara dibalikin yang berada salah satu apartemen mewah Leon menghujani ciuman pada Sandra yang terkulai lemas tak berdaya.
****
Memiliki wajah yang memikat membuat Leon dan Frans sejak dulu dikelilingi oleh wanita yang levelnya sepadan dengan keduanya. Baik Leon maupun Frans menarik mereka keranjang jika itu sesuai dengan seleranya. Namun setiap kali Leon mengikat salah satu dari mereka dalam sebuah hubungan ia akan berhenti menerjang yang lainnya.
Perpisahan dengan Rahel membuat Leon kembali menerjang wanita yang masuk dalam selerannya. Tapi setelah dirinya tanpa sengaja merenggut kesucian Jesika, ia kembali berhenti dan hanya Jesika satu-satunya wanita yang dieksekusi setiap kali hasrat itu datang.
Namun setelah mengetahui hubungan diantara Jesika dan Frans,Leon tidak pernah lagi menyentuh tubuh kekasihnya itu. Di situasi yang bersamaan Leon harus menahan gejolak hasratnya pada Sandra yang hadir saat luka itu datang.
Sial! Umpat Leon yang setiap kali memiliki pemikiran untuk mengeksekusi Sandra yang tertidur disampingnya selama ini.
Beberapa kali Leon hanya bisa melampiaskan pada Sandra,itupun Leon harus menahan nafsunya untuk membantai Sandra. Bahkan ia harus menahan sakit dan memilih mengguyur dirinya dengan air dingin ditengah malam.
Malam minggu ini Sandra kembali menggodanya.
"Ahh!" Desah Sandra yang terdengar akan sentuhan bibir Leon yang menhujaninya ciuman disekitar lehernya. ******* itu semakin menggoda ketika jari-jari Leon menari ditubuh Sandra.
Tangan Leon berhasil menjelajah menelusuri sepanjang area yang membuat Sandra kini menggelinjang.
"Kak Leon." Desis Sandra ketika tangan itu hendak masuk kedalam meraih pusat tubuhnya. Leon menarik tangannya keluar dan mengangkat wajahnya yang sebelumnya menyeruak lehernya.
"Kenapa?" Tanya Leon.
"Mau kedalam?" Tawar Leon dibalas anggukan kepala oleh Sandra yang kini merasa lega karna pria itu berhenti membuat tubuhnya bergetar.
Leon menggendong Sandra masuk kedalam. Ia membaringkan gadis itu diranjang dan berbaring disebelahnya.
"Kak Leon yakin gak mau temuin Kak Jesika." Ucap Sandra memiringkan tubuhnya menghadap Leon yang memandang plafond.
"Enggak." Jawabnya berbalik memiringkan tubuhnya menghadap Sandra.
"Sandra gak papa kok." Ucap Sandra yang menyadari bahwa Leon saat ini membutuhkan Jesika untuk melampiaskan hasratnya yang begitu kuat.
"Gue mau disini nemanin Lo." Balas Leon yang membuat Sandra meremas seprei pelan.
Gimana nih?Kenapa Kak Leon malah mau nemanin Aku. Batin Sandra takut.
"Sandra gak pa-pa kok Kak." Bujuk Sandra lagi agar pria itu segera pergi menyusul Jesika. "Lagian Kak Leon udah te---"
"---lo takut ya sama gue?" Potong Leon menyadari bahwa gadisnya itu sengaja mendorongnya ke Jesika untuk menghindarinya.
"Bukan." Jawab Sandra berbalik melihat ke plafond menghindari tatapan dan tuduhan Leon terhadapnya.
Gimana nih. Sandra benar-benar takut Kak Leon ngabisin aku malam ini. Batin Sandra lagi.
"San.." Panggil Leon menangkup wajah Sandra mengarahkan padanya.
"Kak Leon." Panggilnya.
"Hm?!"
"Sandra benaran takut." Ucap Sandra mengatakan apa isi hatinya. "Tadi Kak Leon masu---."
"---Cup!" Potong Leon mengecup bibir Sandra . Lalu mengelus pelipis wajah gadis itu penuh perasaan.
"Maaf gue buat Lo takut." Ucap Leon melihat ke Sandra membuat mata keduanya bertemu. Ia tahu melakukannya tadi membuat Sandra takut akan dirinya. "Jangan minta gue pergi ninggalin Lo ya." Pintanya meraih tangan Sandra dan membuat jari mereka saling bertautan.
"Tapi Kak Leon janji tangannya gak boleh ma---"
"---Cup!" Potong Leon lagi mengecup bibir itu.
Gue tahu maksud Lo. Jangan diterusin lagi! gak enak sama pembaca Sandra. Batin Leon yang kini memasukkan Sandra dalam pelukannya.
"Kak Leon cium mulu." omel Sandra. " Sandra kan belum siap ngomongnya." ucap Sandra mendongak.
"Iya gue gak bakal gitu." balas Leon menatap Sandra.
"Janji?" pinta Sandra mengarahkan kelingkingnya pada Leon.
"hm iya tapi---"
"--tapi apa?" potong Sandra.
"Tapi enggak untuk malam ini." goda Leon.
"kenapa?" tanya Sandra.
"ini malam Minggu sayang." jawab Leon meraup bibir Sandra.
Malam ngambil Jatah. Batin Leon menarik selimut menutupi mereka.
πππ
Selamat malam Minggu mbloπ€