
Terik sinar matahari pagi menyentuh kelopak mata Sandra. Ia membuka matanya perlahan dan melihat jam ditangannya menunjukkan pukul sebelas pagi. Ia mengingat dirinya menunggu Leon dan tanpa sadar dirinya tertidur begitu saja.
Sandra bangkit berdiri dengan menyeret bed cover dan bantal dari lantai. Ia meletakkan kedua benda itu diranjang. Lalu ia mengecek keberadaan Leon di dalam kamar mandi, walk in closet, dan ruang kerjanya namun ia tidak menemukan pria itu.
Sandra kemudian mengeluarkan satu persatu pakaian kotor mencari pakaian yang Leon pakai kemarin. Alhasil ia tidak melihat pakaian yang terakhir ia lihat dikenakan Leon saat akan mengajaknya pergi.
"Kak Leon!" Panggilnya berlari keluar kamar untuk melihat keberadaan cowok itu dibawah. Ia mengecek Kamar tamu yang ia kenakan pertama kali berada disana. Namun hasilnya sama saja. Tidak ada wujud Leon ia temukan.
"Post it!" Ucap Sandra berlari kedapur. Ia teringat akan kebiasaan Leon yang selalu meninggalkan pesan jika pria itu tidak sempat berpamitan saat meninggalkan Sandra seorang diri. Leon biasanya akan meninggalkan pesan dengan menempelkan post it digelas susu yang dibuat untuk Sandra.
"Gelas,gelas,gelas." Ucap Sandra sambil mencari keberadaan gelas diatas meja. Namun pagi ini Sandra tidak menemukan ada segelas susu dimeja.
Satu persatu gelas yang ada di dapur Sandra periksa. Tanpa sadar Air mata yang sudah membendung akhirnya jatuh membasahi pipinya.
****
Jarum jam menunjukkan angak dua belas. Hidung dan mata sudah memerah namun yang Sandra cari belum juga ia temukan ditemukan.
"Aku lapar Kak Leon." Ucap Sandra terduduk dilantai dengan kepala yang bersandar di dikaki meja makan.
"Kak Leon ada dimana? Kenapa ninggalin Sandra tanpa pesan." Ucap Sandra mengelus perutnya yang keroncongan.
"Pesan,mungkinkah---" ucap Sandra terputus bangkit berdiri dan berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
Sampai dikamar Sandra meraih hapenya yang sudah terisi kembali. Ia mengaktifkan hapenya dan mendapati lima pesan belum terbaca dari Frans. Tidak ada satupun pesan yang datang dari Leon. Sambil membaca satu persatu pesan Sandra memasukkan roti tanpa selai itu kemulut untuk mengganjal perut keroncongannya.
FransrosoMahesa
Lo dimana?kenapa nomor Lo gak bisa dihubungi?
FransrosoMahesa
Tante Rosa nyariin Lo!Lo dimana sih dek?
FransrosoMahesa
Sandra kalau gak mau angkat telpon gue setidaknya Lo angkat telpon Tante Rosa.
FransrosoMahesa
Sandra ayo angkat telponnya dek!
FransrosoMahesa
Tante Rosa tangannya gemetaran dan wajahnya pucat nyariin Lo dek.
"Mama maafin Sandra sudah buat khawatir." Ucap Sandra berhenti mengunyah roti dimulutnya. Perasaannya bercampur aduk mendengar kabar Rosa yang begitu mengkhawatirkannya dan juga akan keberadaan Leon yang tiba-tiba menghilang begitu saja.
Selama ini Rosa tidak pernah menunjukkan kekhawatirannya pada Sandra. Sandra yakin bahwa yang dikatakan Frans benar adanya karna Pria itu selalu mengatakan yang sebenarnya.
Tak berapa lama kemudian dering hape Sandra berbunyi. Panggilan masuk dari Frans terlihat dilayar hapenya.
"Halo Kak." Ucap Sandra mengangkat panggilan Frans.
"Akhirnya nomor Lo aktif juga. Lo sekarang dimana?" Tanya Frans dengan nada khawatir.
"Pulang sekarang!" Perintah Frans dari telpon. "Lo tahu gak Tante Rosa datang kerumah sampai nangis-nangis." Ucap Frans melebih-lebihkan untuk membuat Sandra kembali.
"Pulang ya dek." Ucap Frans membujuk Sandra yang kembali dengan nada lembut.
"Iya Sandra pulang Kak." Jawab Sandra lirih.
"Dimana tempatnya biar gue jemput." Ucap Frans menawarkan diri agar Sandra bisa sampai secepatnya kerumah.
"Gak usah Kak." Tolak Sandra pada Frans yang ingin menjemputnya di apartemen Leon yang berada di gedung yang sama dengan Frans.
"Lo bisa sendiri?" Tanya Frans khawatir gadis belia seperti Sandra harus menempuh jalan jauh sendirian.
"Bisa Kak."
"Baguslah satu masalah selesai." Sahut Frans dengan helaan nafasnya yang terdengar oleh Sandra.
"Emang ada masalah apa lagi Kak?" Tanya Sandra yang merasa bersalah. Andai ia mengaktifkan hapenya mungkin tidak menyusahkan Frans.
"Oh..itu Jesika. Wanita yang gue ajak kerumah hari itu." Jawab Frans.
"Kenapa dengan kak Jesika kak?" Tanya Sandra yang untuk pertama kalinya mendengar Frans mengkhawatirkan wanita lain selain Stela.
"Jesika gak angkat telpon dari gue dari kemaren malam." Jawab Frans. "Padahal jelas-jelas nomornya tersambung." Keluh Frans tanpa sadar mengkhawatirkan wanita lain.
Jadi Kak Leon semalam pergi bareng Kak Jesika. Batin Sandra melihat sekitar kamar.
Mungkinkah Kak Leon sengaja melakukannya agar Aku segera pergi dari sini. Batin Sandra.
Apa Sandra segitu tidak diharapkannya sampai-sampai Kak Leon juga menyingkirkanku juga dari tempat ini. Batin Sandra yang tidak mendengar Frans yang sudah memanggilnya berulang kali dari telpon.
"Lo gak kenapa-napa 'kan?" Tanya Frans yang masih terhubung dengan suara Sandra yang kian lenyap. Tidak seharusnya ia menunjukkan kecemasannya terhadap Jesika pada Sandra. Meskipun selama ini Sandra tidak pernah keberatan jika dirinya bermain dengan beberapa wanita dihadapannya.
"Gak pa-pa Kak. Sandra beberes dulu ya kak." Jawab Sandra ingin segera menutup telpon bukan karna cemburu pada Jesika yang dicemaskan Frans.
"Kabarin kalau udah nyampe rumah."
"Iya Kak." Jawab Sandra menutup telponnya dan bergerak mengemasi semua barang-barang miliknya ke dalam koper.
Tak henti-hentinya Sandra mengejek dirinya bodoh sepanjang kakinya melangkah ke pintu sambil menyeret koper kecilnya. Ia menyebut dirinya bodoh yang menganggap dirinya penting bagi Leon. Ia lupa bahwa pria itu memiliki Jesika yang posisinya tidak bisa dibandingkan dengan perempuan manapun sekalipun itu dirinya.
"Kak Leon bukan mengabaikanku." Ucap Sandra membuka pintu. Ia sadar akan siapa dirinya ddidalam hati Leon. Jelas dia bukan siapa-siapa. Lantas apa yang harus membuat Leon memilih untuk memenuhi permintaannya dan tetap memilih tinggal bersamanya ketimbang Jesika.
"Kenapa aku bisa lupa kalau pacar Kak Leon itu Kak Jesika." Ucap Sandra memukul-mukul kepalanya sambil menyeret kopernya keluar.
Aku terlalu menganggap diriku lebih. Aku terbuai dengan kasih sayangnya sampai membuatku lupa diri. Padahal sejak awal Aku bukanlah siapa-siapa disini. Batin Sandra menutup kembali pintunya.
Hubungan sepasang kekasih terkadang sangat sulit dimengerti. Mereka bisa saja mengatakan hari ini tidak saling menginginkan lagi. Tidak ingin bertemu lagi. Namun keesokan harinya keduanya kembali bersama seperti tidak ada yang terjadi.
"Kak Leon dan Kak Jesika mungkin juga begitu." Ucap Sandra melangkah menuju lift.
Aku dan Kak Frans mungkin hanya orang yang hadir hanya untuk membantu mereka tersadar akan suatu hal yang hilang hingga membuat mereka berbalik kembali. Batin Sandra masuk kedalam lift yang sudah terbuka.
"Selamat tinggal Kak Leon!" Ucap Sandra seketika pintu lift pun tertutup.