Unboxing

Unboxing
122. Unboxing



"Bos!" Panggil Simon yang datang bersama Mona dengan membawa barang-barang milik Leon. "Mobilnya sudah siap Bos." Serunya lagi membuat Adit melihat kearah mereka.


Sial! Umpat Leon melepas tangannya dari bahu Sandra.


"Kak Leon kenapa?" Tanya Sandra melihat kepanikan diwajah suaminya itu. "Apa ada yang berani buat Kak Leon setakut itu?" Tanyanya Lagi melihat kearah mana Leon melihat. "Ah,Kak Leon takut sama papa." Ucapnya yang kembali mendongak menatap Leon sambil tersenyum.


"Kenapa Om Adit benci banget sama Gue sih?" Tanya Leon melonggarkan dasinya. "Kalau begini ceritanya gimana gue bisa bawa Lo dari sini." Gerutunya kesal.


Baru saja Leon mendapatkan kesempatan membawa Sandra pergi berkat kerumitan percintaan Gio dan Stela. Namun, entah kenapa Simon menggunakan suara semaksimal mungkin memanggilnya, membuat Aditya Winata itu melihat kearahnya.


"Dengar cerita Om David dulunya playboy." Jawab Sandra menunjuk David yang saling melempar senyum dengan Nadin."Dan brengsek." Menurunkan pandangannya pada Leon yang terlihat kesal karna telah mengumpat David. "Tante Nadin dan Mama." Tunjuk Sandra dengan jari tengah dan jari telunjuknya. "Adalah Teman." Menyatukan jari telunjuk dan tengahnya dengan mengarahkannya ke wanita paruh baya yang sekarang saling cipika-cipiki.


"Apa mereka pernah rebutan cewek?" Tanya Leon yang kini memperhatikan pertemanan yang terjalin dilima keluarga didepannya sekarang. "Mungkin ngerebutin mama atau Tante Rosa?" Lanjutnya.


"No no no." Jawab Sandra menggelengkan kepalanya sambil melipat kedua tangannya didada. "Papa pacaran dengan mama sementara itu Om David yang berstatus playboy ngedeketin Tante Nadin." Ucapnya mendongak kembali ke Leon yang juga melihat padanya.


"Lalu?" Tanya Leon.


"Papa gak suka." Jawab Sandra dengan wajah merengut melihat ke Leon. "Karna Om David suka banget matahin hati cewek-cewek saat itu." Jelas Sandra yang kembali melihat ke Om David yang mengajak Adit untuk bersulang.


"Ah,Jadi Om berpendapat kalau gue itu gak beda jauh dari Papa. Begitukan?"


"Yup!" Jawab Sandra meraih dasi Leon. "Tapi,Kak Leon tenang aja. Sekarang posisi itu." Menarik dasi membuat wajah Leon turun mendekat ke wajah Sandra. "Telah berpindah alih ke Kak Gio ." Tunjuknya dengan mengarahkan wajah Leon untuk melihat Adit yang menatap Gio dengan kesal setelah tahu bahwa putrinya yang lain hamil diluar nikah oleh perbuatan pria yang selama ini ia banggakan.


Very...Very...Sad!


Emang cukup sulit diterima ketika ekspektasi berbanding terbalik dengan fakta dilapangan.


"Gimana?" Ledek David pada Adit yang sebelumnya berasumsi bahwa Leon yang terburuk. "Gue kan udah bilang putraku yang terbaik." Ucapnya menyanjung Leon yang tidak melakukan sesuatu diluar batas pada putri Adit.


"Itu karna ibunya adalah teman baikku." Sahut Adit yang masih enggan menerima kekalahan yang berbuah manis.


"Tapi Putra kita kalah telak pah." Sangkal Nadin yang sebelumnya iri pada Feny yang sebentar lagi bakal menimang cucu mendahuluinya. Sekarang malah ditambah dengan Gio,anak yang sudah dianggap seperti anak sendiri dari dulu juga mendahului putranya.


"Ckckck." Decak David menggelengkan kepalanya yang diteruskan memeluk istrinya itu. "Kita juga bakal punya,kok." Bujuknya menenangkan istrinya. "Kamu tinggal minta Leon untuk mempercepatnya." Mengusap rambut Nadin.


"Mempercepat apa Om?" Tanya Sandra yang datang mendekat bersama Leon.


"Mempercepat kepulangan kita lebih awal." Jawab Leon mengangkat Sandra dengan kedua tangannya.


"Kak Leon!" Jerit Sandra yang terangkat keatas membuat semua melihat kearah mereka sambil tersenyum bahagia. Tanpa terkecuali Jesika dan Stela yang berada dalam dekapan pria yang juga mencintai mereka.


"Om,Anaknya udah bisa gue bawa pulang kan?" Tanya Leon menggendong Sandra yang kini melingkarkan tangannya dileher Leon sambil menyembunyikan wajahnya didada pria itu. Ia malu dengan apa yang dilakukan Leon didepan keluarga dan yang lainnya.


"Apa kalian juga sudah mendekor kamar pengantin?" Tanya Adit melihat ke David dan Fandy yang merencanakan semua ini dari awal. Hingga mengubah mempelai prianya.


"O-o-O." Sahut Fandy dan David yang tak terpikirkan mengenai itu.


****


Vroom! Suara mobil Leon tiba didepan kediaman Sanjaya. Rasa takut mulai menghantui Sandra yang terlihat kaku melihat kedepan.


"Mau gue gendong gak?" Tawar Leon melepas seatbelt Sandra.


"Eh?!" Sahut Sandra.


"Lo kenapa begitu?melamun ya?" Tanya Leon membuka pintu diteruskan keluar dari dalam mobil. Ia kemudian memutar tubuhnya berbalik membuka pintu mobil Sandra.


"Sandra jalan sendiri aja kak." Tolaknya pada Leon yang mengulurkan kedua tangan untuk menggendongnya.


"Yaudah." Ucapnya. "Yuk." Meraih tangan Sandra untuk berjalan beriringan masuk kedalam rumah.


Ctakk! Lampu menyala. Kedua mata Sandra dimanjakan oleh interior dengan konsep dalam kastil. Seperti istana-istana di film Barbie kesukaannya.


"Sandra." Panggil Leon menoleh pada Sandra yang menapaki anak tangga pertama sambil mengangkat gaunnya yang sejak tadi menyapu lantai kastil. "Ayo." Ajak Leon mengulurkan tangan mirip pangeran yang ada didongeng-dongeng kerajaan.


"Hm." Balas Sandra menyambut uluran tangan Leon. Keduanya menaiki tangga dengan ujung gaun Sandra menyapu setiap anak tangga yang ia naikki mengikuti Leon yang berjalan disampingnya dengan genggaman tangan yang begitu erat.


Krekk! Suara pintu kamar terbuka. Leon segera menarik Sandra masuk kedalam kamar yang telah dihiasi sedemikan rupa oleh Nadin.


"Uwaah!" Seru Sandra melihat kamar yang didekorasi dengan bunga dan warna pastel yang memberikan nuansa lembut dan teduh tapi tetap terlihat elegan.


"Suka?" Tanya Leon yang dibalas anggukan kepala oleh Sandra.


Tak! Bingkai foto terjatuh oleh senggolan siku Sandra yang mengangkat sedikit gaunnya keatas saat melangkah ke meja rias yang berada di sudut sisi kamar yang lain.


"Eh?" Ucap Sandra melihat wajah anak laki-laki yang ada dalam bingkai foto. "Ini bukannya kakak---" ucapnya terputus mendongak ke foto-foto lainnya yang terpajang diatas dan juga bingkai yang berdiri sejajar dengan bingkai foto yang saat ini ia pegang. "---Bajunya juga sama persis dengan yang ada diingatanku." Sambungnya yang kemudian melihat pantulan kupu-kupu dilehernya pada trofi kaca didepannya.


Aku ingat! Sekarang aku ingat pernah lihat ini dimana. Batin Sandra menjamah kupu-kupu yang sekarang hinggap tepat diatas belahan dadanya itu. Kupu-kupu yang pernah dijanjikan kakak tampan yang telah mencuri ciuman pertamanya saat kecil.


Tak! Suara meletakkan kembali bingkai ke posisi semula sambil melihat ke Leon.


"Kenapa bengong?" Tanya Leon yang kini melihat ke Sandra sambil melepas satu persatu kancing tangan kemejanya. "Mandi gih!" Pintanya menunjuk kamar mandi. "Entar kemalaman jadi masuk angin." Tambahnya yang kini melepas satu persatu kancing bajunya.


"Kak Leon." Panggil Sandra memutar tubuhnya menghadap ke Leon yang menanggalkan kemeja dan kaos dalam dari tubuhnya.


"Hm." Sahut Leon dengan telanjang dada menghampiri Sandra yang masih utuh dengan gaunnya ditubuhnya.


"Kak Leon...i-itu kau----"


"---Kau?" Potong Leon menarik pinggang Sandra mengikis jarak diantara mereka.


"I-iya." Jawab Sandra gugup dengan kedua telapak tangannya yang kini menempel otot perut Leon yang sixpack. "Itu Kak Leon kan?" Tanya Sandra mendongak pada Leon.


"Yang mana?" Jawab Leon balik bertanya sambil menurunkan wajahnya mencium bahu telanjang Sandra dengan hidungnya.


"Cium Sandra waktu kecilkan?" Tanya Sandra membuat Leon menarik wajahnya dari leher Sandra.


"Lo dah ingat?" Tanya Leon dibalas dengan senyum dibibir Sandra. "Lo tahu?Setelah pertemuan pertama kita, Gue nyariin Lo disetiap pesta yang dihadiri bokap dan nyokap. Tapi Lo gak ada." Ucapnya. "Pelan-pelan gue coba nyari keberadaan Lo bermodal data undangan dihari pertama kita ketemu." Lanjut Leon menatap dalam kedua mata yang berbinar melihatnya. "Sampai akhirnya takdir mempertemukan kita kembali melalui Frans dan Jesika." Menarik Sandra masuk dalam pelukannya.


"Jadi Peri kecil itu---" Ucap Sandra terjeda menarik diri dari pelukan mendongak ke Leon.


"--Kamu." Sambung Leon menatap dalam Sandra. "Lo tahu?" Tanyanya. "Pertama kali gue tahu itu Lo, saat mama manggil Lo dengan nama Auristela dan Lo jawab---"


"--Bukan Tante Aku Alexandra." Potong Sandra mengingatnya dan,


Uhm! Leon meraup bibirnya. Kemudian menurunkan wajahnya lalu menyeruak kepalanya dalam leher Sandra hingga terdengar ******* halus dari bibir Sandra.


Srekk! Suara resleting gaun yang dikenakan Sandra ditarik Leon kebawah sambil meraup dan ******* bibir Sandra dengan penuh gairah.


"Ah." Suara Sandra saat jemari Leon meraba punggung yang kini terbuka sambil mengecup belakang daun telinganya turun hingga leher dan tulang selangkanya.


"Gue lepas ya,sayang." Bisik Leon.


Srakk! Suara tangan Leon menarik turun gaun ditubuh Sandra hinggap melorot dibawah mata kakinya. Lalu menggendong Sandra dan melemparkannya diatas ranjang yang penuh dengan kelopak bunga mawar merah.


Aaah! lenguh Sandra telentang dengan dua gunung sintal membusung keatas membangkitkan gairah Leon.


"Gue yang lepasin!" Tawar Leon yang berdiri meminta Sandra melepas satu-satunya kain yang masih tertinggal menutupi pusat tubuhnya. "Atau Lo yang lepasin sendiri." Lanjutnya sambil melepas tali pinggang dan membuka kasper celananya.


"Kak Leon mau ap----" Ucap Sandra terputus oleh suara resleting Leon yang turun kebawah.


"---Unboxing kamu Sayang." Desis Leon menghamburkan dirinya menyelami tubuh wanita yang ia cintai itu dengan hasrat dan gairah yang menggebu.


Ooouugghhh! lenguhan disetiap gerakan pinggul Leon menghujani tubuh Sandra di malam yang penuh cinta dan gairah.


Aaarghh!


Oouhh! Lenguhan terdengar kerap disambut dengan kecupan dan eratnya jemari yang saling bertaut di atas ranjang diakhiri oleh dekapan membuat kulit saling bergesekan.


Malamnya...


Malamnya lagi?


Ooouuwwhh!


Seterusnya! Gak ada habisnya untuk gue Unboxing Lo, sayang. Batin Leon mendekap istrinya dalam pelukan.


🍁🍁🍁


Vote..vote...vote..


Like...like...like...


Author menunggu komentar terbaik kalian🤩


makasih🤗