Unboxing

Unboxing
120. My First Love



Sementara itu, diruangan lain Jesika memberitahu Frans bahwa ada yang menelponnya. Ia mengatakan sipenelepon akan menghacurkan pernikahan menggunakan foto dirinya bersama Frans.


"Gue kesini untuk membereskan ini semua dan melenyapkan bukti yang ada." Ucap Jesika. "Pergilah, semua orang pasti sedang nungguin Lo termasuk Sandra." Pinta Jesika berbalik badan membelakangi Frans. "Gue bakal pastiin keluarga Sandra gak akan mengetahui ini." Tambahnya sambil mencopoti satu persatu foto yang tergantung di dinding dan lainnya.


Brakk! Sebuah benda jatuh tersenggol tubuh Jesika saat menggapai beberapa foto yang disusul dengan suara remote mengaktifkan proyektor dari jarak jauh.


Crashh! Cahaya dari layar proyektor memantulkan rekaman prosesi Leon mengikat janji suci dengan Sandra yang tengah berlangsung.


"Frans bukankah itu Sandra?" Tanya Jesika melihat rekaman yang terhubung ke ruangan. Hingga keduanya bisa menyaksikan pernikahan Leon dan Sandra.


Kapan Om David merencanakan semua ini semua. Batin Frans yang kemudian menghamburkan dirinya memeluk Jesika dari belakang dengan melingkarkan tangannya di perut wanita itu.


"Bukan." Sahut Frans melihat Leon memasangkan cincin di jari Sandra. "Itu Peri kecilnya Leon." Lanjut Frans mengusap perut Jesika dengan lembut. "Mari menikah Jes." Ajak Frans memalingkan matanya dari rekaman pernikahan ke Jesika.


"Gue gak bisa Frans." Tolak Jesika melepaskan diri dari Frans kembali memunguti foto-foto yang masih tersisa.


"Kenapa?" Tanya Frans.


"Gue gak pantas buat Lo." Jawabnya mematikan tombol proyektor. "Gue hanya be---"


"----Gue gak peduli." Potong Frans menarik tangan Jesika hingga membuat wanita itu kembali merapat ke tubuhnya. "Gue cuma mau lo." Jelasnya memutar tubuh Jesika menghadap padanya.


"Gue bukan Stela ataupun Rahel yang berasal dari kalan---"


"----Gue gak peduli." Potong Frans melingkarkan tangannya mengunci Jesika dalam dekapannya. "Jangan tinggalin gue,Hm?" Pinta Frans membuat Jesika menatapnya hingga menyadari noda darah yang membeku di sudut bibir Frans.


"Ini kenapa?" Tanyanya menyentuh dengan jemarinya.


"Di tonjok Leon." Jawabnya semakin medekap Jesika ditubuhnya. "Gara-gara Lo." Mengunci tubuh Jesika dilingkaran tangannya.


"Gue udah gak ada hubungan dengan dia lagi. Bukannya gue sudah bilang berapa kali ke elo." Jelasnya sambil mengusap lembut luka disudut bibir Frans.


"Kalau gitu kenapa Lo minta pertanggung jawaban ke dia?" Tanya Frans mengingat Leon mendapatkan surat keterangan hamil Jesika dari meja kerjanya.


"Maksud Lo?" Tanya Jesika bingung membuat Frans mengambil kertas dari balik jasnya. "Ini!" Menyerahkannya ke Jesika yang berada dalam dekapannya. "Leon mendapatkannya dimeja kerjanya." Jelas Frans melihat Jesika terkejut saat membaca apa isi kertas itu.


"Kok bisa ketukar?" Tanya Jesika yang kemudian merongoh sesuatu dalam tasnya.


"Ini apa lagi?" Tanya Frans melepas pelukannya dengan merampas amplop yang baru dikeluarkan Jesika dari tasnya. "Jangan bilang Lo ngirim surat cin---" ucap Frans terputus saat mendapatkan surat pengunduran diri atas nama Jesika Anastasya dari dalam amplop. "---Lo benar-benar mau ninggalin gue?" Tanya Frans melihat ke Jesika. "Bahkan saat mengandung anak kita?" Tanya Frans menarik Jesika kepelukannya. "Tega Lo, Jes misahin anak sama papanya." Rengeknya mencari celah membuat Jesika merasa bersalah.


"Bu-Bukan Frans." Sahut Jesika yang kini masuk dalam jebakan Frans. "Gue gak misahin Lo sama anak kita." Jelas Jesika yang kini memeluk Frans.


"Sungguh?" Tanya Frans.


"Iya."


"Mau menikah denganku?" Tanya Frans tersenyum nakal menunggu jawaban Jesika.


"Iya." Jawabnya tak menyadarinya.


"Lo gak boleh menariknya lagi." Ucap Frans mendorong pelukannya untuk menoleh kearah pintu. "Mah Pah! Gue tahu kalian lagi nguping disana!" Teriak Frans membuat Feny dan Fandy menunjukkan diri dari balik pintu membuat Jesika malu.


****


Krik krik krik! Suasana canggung diantara Jesika,Feny dan Fandy yang duduk bersamaan dengan Frans melihat pantulan rekaman pernikahan Leon di layar proyektor.


"Jesika." Panggil Feny membuat semuanya saling melihat satu sama lain. "Tante sama Om ehm---"


"---Aku minta maaf Tan,Om." Potong Jesika menjatuhkan dirinya berlutut dilantai membuat ketiganya terkejut. "Seharusnya Aku lebih berhati-hati agar tidak hamil dan buat Frans batal menikah. Aku janji gak bakal minta pertanggung jawaban apapun dan selamanya akan menjauh dari kehidupan Frans." Jelasnya dengan wajah yang ditekuk membuat Feny menjatuhkan dirinya ikut berlutut dilantai bersama Jesika.


"Kamu ngomong apa sayang?" Tanya Feny menangkup wajah Jesika untuk melihatnya. "Kamu tahu, kami sangat senang saat tahu anak yang ada didalam rahim kamu adalah milik Frans." Jelas Feny.


"Mah,Jesika pikir mama itu mertua yang menggilai menantu dari kalangan konglomerat." Ucap Frans yang ikut berlutut diatas carpet. "Yang satu level begitu." Tambahnya sambil merangkul Jesika. "Jelas-jelas Sandra udah ngasih tahu kalau mama itu baik banget."


"Benarkah?" Tanya Feny. "Fan gimana nih Jesika mau menjauh selamanya dari putra kita gara-gara aku." Rengek Feny pada Fandy persis yang sebelumnya dilakukan Frans pada Jesika.


"Gak kok Tante." Sahut Jesika yang lagi-lagi termakan jebakan manis keluarga Wardana itu. "Aku gak akan jauh dari Frans."


"Sungguh?" Tanya Feny.


"Iya Tan. Jesika janji gak bakal jauh-jauh dari Frans." Ucap Jesika membuat Frans mempererat rangkulannya sambil menyatukan pipinya kepipi Jesika penuh bahagia.


"I love you." Bisik Frans membuat Jesika merona.


Syurr! Tembakan wine keluar dari botol mengisi gelas yang tersusun bagaikan piramid diatas meja. Kemudian dilanjut oleh Leon dan Sandra yang bersama-sama memotong kue tart pernikahan dengan desain kastil megah disertai alunan musik dan tepuk tangan para tamu undangan.


"Kak Leon makasih." Ucap Sandra merangkul lengan Leon yang masih memotong kue didepan mereka.


"Makasih buat apa?" Tanya Leon mengambil cherry yang ada dipermukaan cream.


"Kupu-kupunya." Jawab Sandra membuat Leon meletakkan pemotong kue di atas meja.


"Lo udah ingat?" Tanya Leon pada pertemuan pertama mereka sambil menyuap cherry kedalam mulut Sandra.


"Ingat apa?" Tanya Sandra menikmati Cherry dan mencolek cream kuenya dengan jari telunjuk.


"Gak ada." Jawab Leon ketus menarik jari telunjuk Sandra yang diselimuti cream kedalam mulutnya. Ia mengulum jari itu lalu mengemutnya.


Ehem! Suara berdehem terdengar membuat Sandra cepat-cepat menarik jarinya dari mulut Leon.


"Kenapa?" Tanya Leon menarik jari itu kembali dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


"Ada banyak orang Kak." Bisik Sandra mendekatkan bibirnya ke Leon. "Sandra ma---"


---Uhmm! Potong Leon meraup bibir Sandra dengan menarik tubuh itu kebalik kue dengan kastil megah. Ia ******* bibir Sandra dan memainkan lidahnya di dalam rongga mulut wanita itu penuh gairah.


Ahh! Suara desah terdengar saat bibir Leon melepaskan kendali dibibir Sandra. Leon menatap dalam Sandra dari mata turun ke leher. Ia kemudian menurunkan bibirnya mengecup tulang selangka hingga ke belahan dada yang mencuri perhatian Leon sejak memandangi kupu-kupu pemberiannya terlihat seperti hinggap disana.


"Kita lanjut entar malam." Bisiknya melepas dekapan dan menariknya keluar dari balik kastil. Ia memperbaiki lipstik dibibir Sandra sambil memberi senyuman pada rekan kerjanya yang baru tiba untuk memberi selamat pada mereka. Termasuk Frans dan Gio.


"Selamat." Ucap keduannya kompak sambil menimpuk bahu Leon dari dua sisi secara bersamaan.


"Thank you." Balas Leon menepis kedua tangan mereka dari bahunya.


"Kasih tau gue kalau dia buat Lo nangis ya." Ucap Frans pada Sandra yang berdiri disamping Leon dengan mengancingkan jempolnya.


"Jesika mana?" Tanya Leon yang dibalas Frans dengan menunjuk keberadaan Jesika berbalut gaun lavender digandeng oleh Feny dan beberapa pengawal dibelakang.


"Hei,kenapa putri mafia memperlakukan penakluk hati putranya seperti tawanan." Ledek Gio membuat Frans tersenyum pada Jesika yang melihat kearahnya.


"Lo gak mau ngajak dia kesini?" Tanya Leon merangkul Sandra sambil tersenyum padanya.


"Calon istri Lo pasti merasa gak terbiasa ada diantara ibu-ibu disana." Tambah Gio meneguk winenya melihat ke Jesika.


"Benar." Sahut Frans menyusul Jesika yang menunjukkan raut wajah minta tolong. "Mah,biar Jesika sama gue." Pintanya berbisik ke Feny.


"Hati-hati." Sahut Feny mengkhawatirkan menantunya yang sedang mengandung.


Cheers! Suara Leon dan kedua Sahabatnya bersulang untuk pernikahan Leon yang mendahului ketiganya.


"Eits!" Sanggah Frans meraih gelas Jesika. "Lo gak boleh minum beginian." Tegasnya meletakkan gelas lalu menggantikannya dengan jus. "Anak kita nanti kenapa-napa,sayang." Memberikan jus pada Jesika.


"Kak Jesika hamil?" Tanya Sandra.


"Ssttt!" Desis Frans. "Jangan keras-keras nanti ada yang iri." Ledek Frans pada Nadin yang memanyunkan bibirnya sejak tadi pada David setelah mengetahui bahwa kali ini putranya kalah telak dengan Frans.


"Hahaha." Suara tawa bahagia menyelimuti mereka kecuali Stela yang berdiri jauh sedang megoyang-goyangkan gelas berisi jus di tangannya.


Aku juga ingin dinikahi oleh pria yang mencintaiku seperti Sandra. Mendapatkan kelembutan dan kehangatan dari pria yang mencintaiku saat aku mengandung buah hati kami seperti yang di rasakan Jesika. Batin Sandra yang kemudian menghela nafasnya sambil tersenyum.


"Selamat tinggal." Ucap seorang membuat Stela menoleh kearah datangnya suara itu. "My first Love." Lanjut Tristan yang berdiri dengan buket bunga ditangannya melihat ke Stela yang juga melihat kepadanya.


🍁🍁🍁


Yuhuuuuuuu


Jangan lupa untuk memberikan vote,like dan Coment terbaik kalian yaa🤗❤️


thankyou dari author rebahan😊


Note:


Baca juga karya author Weny Hida yang judulnya Bed Friend, di jamin ceritanya seru abis nyesel deh kalau gak mampir😍