Unboxing

Unboxing
34. Dalam Ingatan



Dua minggu berlalu semua orang kembali kerutinitas masing-masing. Demikian halnya dengan Sandra yang sebentar lagi akan menghadapi berbagai macam tes dan ujian lainnya.


Siswa kelas 12 sibuk keluar masuk perpus untuk mengerjakan berbagai jenis soal untuk mempersiapkan diri masuk PTN. Jam kosong dipergunakan sebaik mungkin untuk membuka buku psikotes yang tebalnya dua kali lipat dari buku paket mata pelajaran lainnya. Namun lain hal dengan Sandra yang lebih banyak tidur diruang UKS dan melamun di setiap jam pelajaran.


Seperti saat ini Sandra melamun sambil berpangku tangan menatap keluar jendela tanpa mempedulikan guru yang sedang mengajar didepan kelas. Sesekali Sandra menggerakan jarinya mencek hape yang ia pangku diatas pahanya. Ia masih belum berhenti menunggu pesan atau panggilan dari Leon.


Hari dimana dirinya mendapat kabar mengenai Jesika dari Frans mengubah kesalahpahamannya terhadap Leon yang tiba-tiba pergi tanpa pesan.


Tidak ingin melupakan hanya saja Sandra ingin pria itu yang menghubunginya terlebih dahulu.


"CK!" Decak Sandra yang melihat pesan yang masuk adalah pesan dari Frans.


'Sandra bodoh!Kamu menilai dirimu terlalu tinggi. Batin Sandra dalam hati melipat kedua tangan dan meletakkannya dimeja.


Kamu pikir dirimu siapa?. Batin Sandra lagi dengan menjatuhkan wajahnya pada tangan yang terlipat di meja.


"Lihat anak dudul itu bisa-bisanya tidur dijam segini." Cibir seorang siswi yang duduk tidak jauh dari Sandra.


Sidudul begitulah siswi disekolah memanggilnya. Menjadi siswi dengan urutan peringkat terakhir diangkatannya membuat Sandra mendapat panggilan sidudul dari teman satu sekolahnya. Namun berbeda halnya dimata cowok disekolahnya. Siswa-siswa itu memanggilnya Oh Hani part 2. Bagi mereka Sandra sangat mirip dengan tokoh utama perempuan yang ada di drama Korea yang berjudul Naughty Kiss.


"Iri bilang bos!" Celetuk siswa yang mendengar siswi yang lain ikutan meledek Sandra yang selalu mengabaikan ejekan mereka.


"Siapa juga yang iri." Sahut mereka berbisik menepis ucapan siswa yang menyindir mereka.


"Jelas irilah!" Balas cowok yang lain. "Hani kita kan cantik." Tambahnya lagi membuat siswa yang lain ikut membela Sandra.


"Sidudul yang berparas cantik." Balas siswi itu gak mau kalah dengan siswa yang mulai bersatu membela Sandra yang sejak tadi hanya diam.


"Dudul mah bisa belajar." Balas siswa melawan grup siswi. "Kalau jelek emang bisa belajar gitu jadi cantik?" Tanya siswa yang lain mempertegas membuat semua siswa yang mendengar tertawa spontanitas. Tawa itu semakin menjadi-jadi membuat guru berteriak untuk meminta sekumpulan siswa berhenti tertawa. Sementara Sandra bangkit dari kursinya meminta ijin pada guru untuk pergi ke toilet . Ia sudah muak mendengar apapun tentang dirinya yang selalu jadi topik cibiran cewek dikelasnya meskipun cowok dikelasnya membelanya.


Di puja kaum Adam dibenci kaum hawa sudah menjadi makanan Sandra setiap hari disekolah. Meski sudah menjadi murid paling bodoh tetap saja tidak ada satupun dari mereka yang mau berteman dengannya.


Mereka semua mencibir dan menjadikannya topik pembahasan setiap kali berkumpul. Terlalu banyak mengomentari dirinya dan menumbuhkan kebencian yang tak berdasar. Sama hal dengan kebencian Stella padanya yang datang dari satu-satunya aset yang ia miliki. Aset yang membuat cowok selalu bersikap manis padanya.


Wajah cantik ini satu-satunya yang ku punya. Batin Sandra mencuci tangannya diwastafel sambil melihat pantulan wajahnya dicermin.


Aku harus jaga sampai hari dimana aku bertemu dengannya. Batin Sandra tersenyum manis pada pantulan dirinya di cermin.


****


Dalam ingatannya Sandra saat usianya 4 tahun ia bertemu dengan seorang anak laki-laki. Anak itu duduk di sofa dengan kedua tangan yang melingkar dipinggang Sandra.


15 tahun lalu Adit dan Rose menghadiri sebuah perjamuan yang diadakan oleh salah satu rekan bisnis yang baru saja menempati rumah baru mereka.


Beberapa dari mereka yang hadir adalah teman dekat Adit dan Rosa yang sering mereka temui termasuk Fandy dan Feny yang juga termasuk dalam undangan. Banyak diantara dari mereka yang datang datang bersama istri dan buah hatinya masing-masing. Demikian halnya dengan Adit yang datang bersama Rosa dan juga kedua putrinya Auristella dan Alexandra.


Sandra yang baru berusia 4 tahun tumbuh menjadi anak yang cantik dan aktif membuat yang lain jatuh hati ditengah kerumunan. Dalam sekejab dirinya populer dikalangan istri-istri dan anak-anak lainnya. Semua orang berebut ingin memeluknya dan mencubit pipinya sanking gemesnya saat Sandra kecil menjawab sapaan ibu-,ibu manjahlita itu.


Setengah jam sudah Sandra berlari kecil diatas rumput dengan kedua tangan yang berusaha menangkap kupu-kupu yang berterbangan diantara bunga-bunga yg bermekaran ditaman mini dengan air mancur ditengahnya.


Sebuah balok kayu kecil tanpa disadari menghadang kaki Sandra membuat dirinya terjatuh.


Buk! Suara Sandra terjatuh dengan lutut tertekuk membentur tanah yang diselimuti rumput Swiss. Suara tangis pun keluar dari mulut mungilnya memecah kesunyian ditaman belakang.


Tangisan kemudian terhenti ketika kedua matanya kembali melihat seekor kupu-kupu terbang masuk ke ruangan yang menghadap ketaman. Kupu-kupu itu masuk melalui pintu yang terbuka lebar didepannya.


Sandra pun bangkit berdiri sambil mengucek-ucek matanya. Ia melangkah kecil mendekat pada pintu dan berdiri disela pintu sambil memiringkan kepalanya melihat kedalam ruangan. Matanya terbelalak mendapati seorang anak laki-laki berusia 14 tahun berpakaian rapi lengkap dengan jasnya duduk disofa sedang melihat kearahnya.


"Gak nangis lagi?" Tanya anak laki-laki itu padanya.


Sandra tidak menjawab bahkan ia tidak memberikan respon apapun pada anak laki-laki itu. Sebaliknya anak laki-laki itu malah balik tersenyum sambil melepas jas ditubuhnya lalu meletakknya disofa.


"Aku bukan orang jahat." Ucap anak laki-laki itu melihat Sandra kembali memperhatikan kupu-kupu yg hinggap disalah satu bunga hidup yang ada didepan anak laki-laki itu.


"Sini biar Aku tangkap kupu-kupunya untukmu." Ucap anak laki-laki itu membuat Sandra berjalan masuk menghampiri anak laki-laki itu. Ia menyeruak masuk diantara paha anak itu dan memeluknya.


"Hei,anak perempuan gak boleh begini." Ucap anak laki-laki itu yang dibalas senyum oleh Sandra yang mendongakkan wajahnya keatas.


"Tadi itu kenapa nangis?" Tanya anak laki-laki itu yang mendengar tangisan Sandra sebelumnya sambil menyeka air mata dipipi Sandra.


"Aku jatuh Kak." Jawab Sandra.


"Kenapa bisa jatuh?" Tanya anak laki-laki itu memeriksa kedua lutut Sandra lalu mengusapnya dengan lembut.


"Aku mau nangkap kupu-kupu." Jawab Sandra menunjuk kupu-kupu yang masih berada dibunga didepan keduanya.


"Mereka gak mudah ditangkap." Ucap Anak itu membuat Sandra menoleh kembali padanya. "Lagi pula sayap kupu-kupu itu ada racunnya."tambahnya lagi.


"Tapi tadi Kakak bilang mau menangkapnya untukku." Ucap Sandra meremas pinggir kemeja anak itu.


"Gimana kalau diganti sama yang lain?" Tawar anak itu pada Sandra.


"Apa?" Tanya Sandra yang dibalas dengan bibir anak laki-laki itu mendarat dibibir Sandra. Lalu anak laki-laki itu menarik wajahnya menjauh hingga membuat spasi diantara keduanya.


"Kalau kamunya nanti udah gede." Ucap anak itu. "Mau gak nikah sama kakak?" Tanya anak itu yang ikut terpesona pada Sandra seperti ibu-ibu manjahlita diluar sana.


"Mau." Jawab Sandra membuat anak laki-laki itu terkejut.


"Emang kamu tahu nikah itu apa?" Tanya Anak itu yang baru saja melamar Sandra.


"Enggak!" Jawab Sandra tertawa kecil membuat anak itu tidak tahan untuk segera memeluknya dalam ingatan.